Orang Rimba dan Adaptasi Perubahan Iklim



Lima hari sudah hujan selalu datang di pagi hingga siang, bulir-bulir hujan merayapi atap pondok, daun-daun hijau seolah menggigil diterjang hujan di bulan Juli. Tak semestinya hujan masih datang terus menerus di saat-saat ini, tutur Sepintak, anak rimba Bukit Dua Belas yang biasa ikut kami belajar.

Hujan  pagi pertanda kelabu, orang rimba tak bisa memotong karet alam. Musim tak lagi pasti, “Halom nioma la rubuh, hopi tentu lagi sebila terang sebila hopi,” Alam sudah rubuh, tidak tahu lagi kapan musimnya panas kapan tidak. Begitu kata Mangku Basemen, salah satu orang rimba yang memiliki posisi terpandang di struktur kepemimpinan Orang Rimba di rombong mereka. 

Orang rimba menggantungkan hidupnya pada hutan dan sumber daya yang ada di dalamnya; hewan buruan, buah-buahan hutan, dan juga umbi-umbian liar. Kini zaman berubah, seiring semakin buruknya kualitas lingkungan mereka. Entah disadari atau tidak oleh mereka, iklim juga telah ikut berubah.

Orang rimba, sekian lama dipinggirkan oleh ketidakadilan negara dan korporasi kini sebagian besar mendiami kawasan Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD) di Provinsi Jambi. Ruang hidup mereka terus mendapat tekanan dari perkebunan dan perambahan. Kondisi ekologi di ruang hidup mereka pun berubah. Ancaman kini mengintai mereka secara lebih nyata. Berikut kita lihat degradasi hutan sebagai ruang hidup orang rimba di Bukit Dua Belas.


Kondisi tutupan lahan di TNBD tahun 1989/130,308 Ha

 Kondisi tutupan lahan di TNBD tahun 2008/64,465 Ha

Sumber Peta : KKI-Warsi/Jambi-Indonesia 

Citra di atas menunjukkan hampir separuh hutan dataran rendah Sumatera yang menjadi ruang hidup Orang Rimba Bukit Dua Belas terdegradasi secara massif. Pantas saja kalau kemudian Orang Rimba menyebut Halom la rubuh, alam sudah rubuh.



***

Januari hingga April biasanya adalah petahunon anja, musim buah-buahan yang berlimpah. Dimulai dengan durian daun (Durio sp) yang berguguran dari batang, tak lama aka nada tampui (Baccaurea macrocarpa), lalu masih ada dekat atau dikenal rambutan hutan (N. Juglandifolium) Masih ada tayoi, duku hutan atau langsat (Lansium domesticum) dan berbagai jenis buah lainnya. Tapi sayang sepuluh tahun terakhir menurut Mangku Basemen, yang terjadi tak seperti masa lalu, karena yang hadir petahunon meralang (musim buah tanggung).

Waktu-waktu ini seharusnya orang rimba tengah menikmati kelimpahan buah, sehingga mereka tak harus repot mencari bahan makanan ke desa terdekat. Tapi sayang, tak seperti masa-masa lalu, buah yang ada di hutan tak lagi mampu mencukupi kebutuhan mereka. Apalagi kompetisi orang rimba dengan hewan seperti beruang madu (Helarctos malayanus) atau landak (Hystrix (Thecurus) sumatrae) dalam memperebutkan buah yang ada di hutan juga berlangsung ketat. 

Iklim yang berubah membuat banyak kondisi ekologis orang rimba ikut berubah. Bukan hanya masalah musim yang tak bisa ditebak, kekeringan dan kebanjiran juga lebih kerap terjadi. Contohnya lima bulan lalu sekitar (Oktober 2012), seantero TNBD mengalami kekeringan yang cukup luar biasa, Aik Behan, Kejasung bahkan Makekal, sungai-sungai besar yang melintasi kawasan, kering kerontang. Orang rimba kesulitan air bersih untuk minum. Kalaupun ada jumlahnya sangat terbatas. Tak heran di bulan-bulan itu penyakit berdatangan, terutama menyerang anak-anak orang rimba. Kematianpun kadang tak bisa dihindarkan.

Secara alamiah orang rimba telah memiliki pengetahuan dan perangkat pengalaman yang kuat dalam menghadapi perubahan kondisi  lingkungan hidup mereka, mungkin juga terkait perubahan iklim salah satunya. 

Adaptasi Terkait Pangan

Dalam mengantisipasi persediaan bahan makanan yang terbatas, akibat makin sulitnya mencari buruan dan juga musim buah yang tak memuaskan. Maka perempuan-perempuan orang rimba (induk-induk) secara turun termurun melakukan dua metode pengawetan makanan.

Pengawetan ini dimaksudkan untuk memastikan ketersediaan bahan makanan bagi keluarga saat remayau (masa krisis) tiba. Metode pertama adalah dengan mengawetkan durian. Buah durian dengan seksama digoreng secara terus menerus selama beberapa jam sehingga mengeras dan hadirlah apa yang disebut orang rimba sebagai lempuk

Lempuk yang dikemas dengan baik biasanya akan bertahan berbulan-bulan. Sebenarnya metode ini juga dimiliki oleh orang Melayu yang hidup di Sumatera, tetapi bedanya dalam proses pembuatannya orang rimba sama sekali tidak mencampurkan bahan lain selain durian itu sendiri. Sedangkan orang melayu biasanya menambahkan gula merah dan terkadang juga perasa buatan.

Au, niolah pemakon nang paling beik kalu remayau yoya,” begitu tutur Induk Beraden ketika menjelaskan tentang lempuk. Inilah makanan yang paling baik kalau sedang krisis.

Disamping pengawetan buah, biasanya orang rimba juga mengawetkan daging hasil buruan dengan menyalainya. Metode ini sebenanrya metode yang umum kita kenal dengan pengasapan. Daging dipotong dalam ukuran-ukuran besar kemudian dibuatkan tempat khusus bertiang dimana daging-daging tersebut diletakkan. Selanjutnya api dinyalakan dibawah tempat yang telah dibuat.

Daging memang tidak bisa bertahan hinngga berbulan-bulan, tapi kalau seminggu dua masih bisa bertahan. “Kalu hopi mumpa nio, tekarot kami todok,” begitu ungkap Induk Bedoring, ketika kutanya mengapa mereka menyalai daging. Rupanya kalau tanpa disalai demikian mereka bisa kesulitan, karena cadangan daging cepat rusak. 


Adaptasi Menyangkut Lahan

Deforetasi dan degradai kawasan hutan hujan tropis telah diakui sebagai penyebab utama pendorong meningkatnya emisi karbon yang pada akhirnya menjadi picu perubahan iklim. Korporasi perkebunan dan pertambangan menjadi aktor utama dalam hal ini. Tapi tanpa disadari di tingkat individu, petani yang secara massif membuka lahan juga manjadi salah satu aktor.

Manusia di negara seperti Indonesia memang sulit dilepaskan dari kebutuhan lahan. Terutama penduduk yang memang hidup di sekitar hutan. Termasuk orang rimba, untungnya orang rimba secara budaya bukanlah suku yang bertumpu pada pertanian (agriculture) melainkan berburu dan meramu. Namun seiring desakan atas ruang hidup mereka, orang rimba mulai mengenal perladangan dan perkebunan karet alam dalam skala kecil. Terkait hal tersebut ada beberapa hal yang bisa kita pelajari sebagai refleksi dalam beradaptasi terhadap perubahan iklim.

Pertama, orang rimba hanya membuka kebun karet alam, apa artinya ? Karet alam tidak membutuhkan land clearing secara massif. Di samping itu tumbuhan tingkat rendah seperti semak bisa tetap tumbuh tanpa menggangu secara signifikan pohon karet.

Kedua, pola pembukaan lahan orang rimba cenderung menyebar dan kecil-kecil. Berbeda dengan pola buka lahan orang desa juga transmigran yang cenderung merapat dan massif. Hal ini tentu saja memungkinkan regenerasi tumbuhan di lahan yang dibuka berlangsung cepat, sehingga dari lahan yang dibuka segera akan menjadi belukar muda, lalu belukar tua dan bisa kembali menjadi hutan sekunder. Ritme pembukaan lahan ini memungkinkan hutan melakukan proses alamiah mereka dalam recovery.

Ketiga, orang rimba secara adat memiliki kebiasaan menanam pohon Senggeris (penulis belum tahu jenis pohon ini) tiap satu bayi lahir. Semacam penanda dan ucapan syukur kepada dewa-dewa. Terlarang menebang kayu ini. Tanpa disadari tradisi ini menjadi pola hidup yang bisa memperlambat meningkatnya emisi karbon. “Kalo senggeriy ditobong, samo bae mbunoh orang rimba,” tutur Kemetan, anak rimba yang suatu ketika mengantar saya mengajar di salah satu rombong orang rimba di Muara Aik Behan.

Adaptasi Menyangkut Sungai (Air)

Sungai adalah identitas orang rimba, sungai memiliki peranan sentral dalam kehidupan orang rimba. Pergerakan orang rimba selalu mengikuti aliran sungai. Mengingat sungai memiliki peran penting secara religius dan juga biologis, maka sungai sangat diproteksi oleh orang rimba. 

Banyak aturan adat tak tertulis yang melindungi sungai. Mulai dari aturan dilarang buang air besar di sungai, sampai sakralitas batu-batu besar yang ada di alur sungai. Perlindungan ini tentu saja bukan tanpa sebab. Kelekatan identitas orang rimba dan sungai harus dijaga. Maka penghormatan (respek) terhadap sungai harus terjaga dari generasi ke generasi.

Sebagai catatan, nama rombong orang rimba selalu dilekatkan dengan aliran sungai. Misalnya rombong Terab, berarti ia tinggal di dekat aliran sungai Terab. Rombong Makekal, berarti mereka tinggal di seputaran sungai Makekal. Begitu seterusnya. 

***
Sekelumit mengenai orang rimba dan pengetahuan tradisional mereka dalam menyikapi perubahan ekologis dan perubahan sosial di atas, sesungguhnya hanya potret kecil saja. Banyak dimensi yang tak terpotret karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman penulis yang baru 13 bulan mengenal secara dekat orang rimba di bukit dua belas.

Namun yang pasti Orang Rimba tak pernah secara jelas mengenal apa itu perubahan iklim, apa itu emisi karbon dan berbagai hal yang hangat diperbincangkan dunia. Mereka hanya menafakuri realitas keseharian yang mereka lihat dan rasakan. Pengetahuan merekapun tak pula teroritis dan komplek. Sederhana saja tapi konsisten mereka terapkan.

Pada titik ini rasanya ucapan Malcom Fraser “Solutions will not be found while Indigenous people are treated as victims for whom someone else must find solutions.” Sudah sepantasnya kitalah yang belajar dari suku-suku marjinal seperti orang rimba. Pengetahuan dan kegiatan keseharian mereka jauh lebih tajam dan memukau tinimbang tumpukan tebal analisa dan solusi yang coba ditawarkan banyak pihak untuk memperkuat usaha adaptasi perubahan iklim. Tak salah jika lembaga seperi Oxfam mencoba mengumpulkan pengetahuan tradisional mengenai adaptasi perubahan iklim dari berbagai penjuru tanah air bahkan Dunia. Oxfam adalah konfederasi Internasional dari tujuh belas organisasi yang bekerja bersama di 92 negara sebagai bagian dari sebuah gerakan global untuk perubahan, membangun masa depan yang bebas dari ketidakadilan akibat kemiskinan

Akhirnya yang perlu dilakukan adalah mengumpulkan perangkat pengetahuan dan strategi tradisional dari berbagai komunitas di nusantara, bahkan dunia. Kemudian ditelaah dan direplikasi di seluruh dunia dalam rangka adaptasi perubahan iklim.

Foto : Keleksi pribadi penulis





Popular posts from this blog

Anak Muda Pemimpin Itu...

Identitas dan Politik Dalam Novel “Ciuman Di Bawah Hujan”

Romansa Batanghari