Wednesday, June 23, 2010

Pic source : hzr collection


Ayah..satu diantara sangat sedikit tempat nyaman untuk kembali.

Kalau saja Hitler di masa kecilnya mendapat kasih sayang yang layak dari Sang Ayah, akankah dia tetap akan dicatat sejarah atas luka panjang kemanusian yang ia goreskan ?

Dua tahun lagi my "super hero" akan menyandang predikat pensiunan...tentu saja pensiun dari tempatnya bekerja...Kalau sebagai super heroku ia tak akan pernah pensiun...

Pahlawan superku bukan tanpa celah, khilaf dan alfa ada yang ia tabur sadar atau tidak..namun sayangnya celah dan alfa itu taklah ada artinya dibanding pengorbanan dan perjuangan yang ia torehkan...

Gundah tentu saja ada dalam dirinya jelang masa-masa pensiun..apapun ceritanya pahlawan superku ini juga tak bisa menghindar dari determinasi eksesistensialisme...

Padanya, aku cuma ingin berbisik pelan saja "Dad, you are still and always my super hero"...










"Abahku bilang, hidup itu seperti apa yang kita mau....." sepenggal kalimat itu meluncur di LCD 23"ku....*Sumringah MODE ON (akhirnya punya PC impian...: Tidak dalam rangka membahas Monitor 23 Inch yang dibelakangnya sudah terbenam mainboard, processor dll..dll, gak perlu lagi kotak bernama CPU di samping monitor yang memang keren itu, tapi soal menyoal hidup di atas tadi.

Ehm, sesederhana itukah hidup ? Bisa jadi iya. Lha kalau begitu kenapa banyak yang merasa tak nyaman dengan mereka punya hidup. Jangan-jangan memang itu yang mereka mau.

Aku jadi bertanya-tanya, apa pula yang kumau dalam hidup ini ? Jangan-jangan, yang ku mau tak pula ku tahu. Sakit-sakiiit....

Weleh, jangan nyengir-nyengir aja di balik monitor *ups gimana bacanya kalo di balik monitor. Emang dirimu udah tau apa maumu ? Kalo belum tau juga, mikir donk mikiiiir jangan nyengir genit kayak demit gitu... (ada ya demit nyengir ??)

Hidup itu optional, opo iyo ? emang ujian sekolah pake pilihan ganda. Bisa jadi hidup sejatinya adalah ujian. Ada nilainya dunk ? ya iya. Sapa yang nilai ? ehmmmm. Siapa ya ? Pertanyaannya bukan sapa yang nilai, tapi emang perlu dinilai ? Bukankah kita selama ini terlalu sibuk saling menilai hidup orang-orang. Ehmmm, benul..mari kita lacak dari dindingnya facebook..pernah baca posting yang bernada berikut...

"..Sebel, koq ada ya orang di dunia kayak dia.."
"Gileeee...baru golongan IIIA hartanya udah berlimpah rua..."
"Kenpa sih dia cuek banget..."
"Tadi pagi...jjs ama temen, liat pengamen, anak kecil...heeem andai aku bisa bantu mereka.."
"Mendingan hidup kayak gue ketimbang kaya tapi sengsara di penjara.."

Whatzuppps man.....haruskah semuanya dinilai ? dikomentari ? emang perlu. Haruskah semuanya mendapat pembenaran atau makian..? Jadilah hidup menjadi tak santai lagi..karena semua akhirnya memlih bertopeng cemerlang di panggung demi mendapat penilaian yang membuai..heeemm..gak capek tuh pake topeng ?

Kalo diperhatikan tulisan ini sedari awal mengandung tak kurang dari 12 tanda tanya di dalamnya. Kerjaan koq nanya sih....bukan apa-apa, sekarang bertanya sudah jadi langka. Karena semua ingin menjawab...bukan bertanya. Kebanyak lebih memilih menjadi penghakim, pembicara dan juru bicara...lha siapa yang bertanya kalo gini semua ?

Nah, biar harmoni terbangun, maka perlulah kita menjadi penanya, agar arus kebanyakan bisa punya kesempatan berbicara, bertutur, dan mengungkapkan gagasannya.

Panggung, pentas, mimbar kini bisa ditemui dimana saja, bahkan di kamar tidurmu..dunia sudah menjadi sangat datar dan kenyal..:) panggung dimana-mana. revolusi informatika hari ini telah membuktikan perkiraan besar Si Nicholas Negroponte "Being Digital"...ehm pelan tapi pasti bit telah mengganti posisi atom.

Mari kita menjadi penanya, pendengar, dan penonton..karena jikalau semua menjadi lakon/pemain..ehhm FLAT...

Tapi sekali lagi hidup itu ya apa yang kamu MAU. Mau menjadi lakon atau menonton, mau menjawab atau bertanya...ya apa yang kamu MAU deh...

Friday, March 19, 2010


                         

Sastra dalam proses penciptaannya kerap merupakan hasil persinggungan penulis dengan realitas. Amartya Sen pernah menggambarkan bahwa perut yang lapar kerap melahirkan karya sastra yang berkualitas.

Ungkapan di atas nampaknya ingin menunjukkan bahwa karya sastra yang berbobot adalah karya yang dilahirkan dari pengayaan yang mendalam atas realitas sosial. Tatkala sastra semata lahir dari imajinasi tanpa pertautan yang erat dengan realitas. Maka sastra seolah pedang yang matanya tumpul.

Romo Mangunwijaya dengan kesederhanaan mencoba menggubah realitas kehidupan sehari-hari ke dalam karya esai dan cerpennya. Sosok orang-orang biasa menjadi sentral dalam karya-karyanya. Lebih dari itu, karya-karya beliau juga mengalir secara alamiah dan nikmat dibaca.

Sebelas tahun pasca kepergian Romo Mangun, semangat yang ia tebarkan seolah telah menjadi semangat zaman. Merasuki mereka yang haus akan nilai-nilai kemanusiaan. Beliau telah menjadi semacam ikon perjuangan bagi para sastrawan pejuang sekaligus intelektual enerjik, yang penuh dedikasi bagi sesama

Menariknya lagi, semangat pemihakan dalam karya-karya sastranya juga dienjawantahkan dalam praktek kehidupan. Pemukiman tepian Kali Code yang mendapat Aga Khan Award for Architecture telah menjadi monumennya.

Spirit pembebasan Romo secara pribadi saya jumpai pertama sekali pada kumpulan esai beliau Tumbal (1994). Kritik terhadap pola pembangunan yang dehumanis dan mengabaikan keberadaan kaum marjinal ditulisnya secara santun dan mendalam. Wajah angkuh orde baru ia telanjangi secara halus, mendetail dan dengan cita rasa sastra yang kental.

Mengungkap kebaikan-kebaikan Romo Mangun tentu bukan harapannya. Beliau tentu lebih ingin kita menangkap semangat yang ia tebar; Pemihakan pada kaum marjinal, pemihakan pada nilai-nilai luhur kemanusiaan dan penghargaan atas keberagaman. Paling tidak tiga semangat itulah yang diperjuangkannnya secara kental, lewat karya-karyanya.

Hari ini tatkala dunia sastra tanah air mekar bak cendawan di musim hujan adakah semangat Romo Mangun tersebut tumbuh ? Sastrawan muda lahir dari hari kehari. Namun, apakah karya yang hadir telah tampil sebagai pembelaan atas nilai kemanusiaan ? Atau sekedar hadir dan hanyut dalam populisme media ?

Rumah Bambu (2000), kumpulan cerpen berserak beliau yang diterbitkan pasca wafatnya. Menunjukkan pemihakan yang jelas atas rakyat kecil (B. Rahmanto, 2001;102). Puyuk Gonggong, yang ditulis di Kedungombo menjadi semacam karya kritik simbolik atas ganasnya orde baru ketika itu. Lalu, Tak Ada Jalan Lain bercerita tentang peliknya hidup yang memaksa “orang-orang biasa” yang dimarjinalkan memilih jalan tak biasa. Menjadi banci demi menghidupi diri.

Begitupula dengan cerpen Hadiah Abang yang bertutur mengenai si Gondek yang mendadak terinspirasi menjadi kernet demi memberi hadiah uang seribu rupiah pada adiknya. Cerpen Pagi Itu juga bertutur soal orang biasa. Mbok Ranu, penggoreng cucur yang bersukarela membantu hidup seorang tukang becak tua

Lewat cerpen dan esainya Romo Mangun ingin mengangkat kehidupan orang-orang lemah yang dimarjinalkan ke permukaan. Pedih, pelu dan airmata kaum papah digubah menjadi sebuah karya sastra yang menyentuh dan penuh pengayaan bersinergi dengan kelucuan-kelucuan kehidupan sehari-hari. Gaya bertuturnya yang tidak menggebu-gebu membuat cerpen dan esai beliau mengalir begitu alamiah. Bagai dongeng yang dibacakan menjelang tidur.

Tapi Romo tidak ingin semangat pemihakan yang ia benihkan nasibnya menjadi sekedar dongeng. Malam hari di dengar keesokannya telah terkubur. Romo Mangunwijaya mengangkat cerita dengan latar kehidupan sehari-hari yang sederhana itu tentu bukan tanpa maksud. Inilah yang harus kita cari jawabannya.

Sepintas Ia menjadikan karya-karyanya semacam medium permenungan atas kompleksitas masalah kemanusiaan. Ia berusaha menggunakan cermin yang begitu sederhana untuk memotret hal tersebut. Kehidupan kaum marjinal, itulah cerminnya. Selanjutnya, sebagaimana kita ketahui Romo hidup melintasi fase demi fase sejarah. Masa Revolusi ia telah ada (sebelum 1945), lalu masa orde lama (1946-1966) juga orde baru (1966-1998) bahkan Romo sempat mencicipi hidup di era reformasi (1998-1999). Meski demikian hampir seluruh karyanya ditulis di era (1980-1998).

Maka, dapat kita prediksi sesungguhnya Romo lewat karya-karyanya yang kritis dan memihak tersebut sesungguhnya tengah melakukan upaya-upaya mendorongkan perubahan sosial. Bahkan bisa jadi karya-karya sastra yang mengupayakan transformasi sosial macam karya Romo Mangun, Cak Nun, Kuntowijoyo, Umar Khayam telah menjadi salah satu suluh bagi gerakan reformasi 1998.
Pendulum Perubahan

Karya-karya Romo Mangun seolah ingin menggerakkan pembacanya untuk menyadari realitas yang sesungguhnya ada. Ia ingin membuka mata fisik dan mata hati pembacanya akan kondisi ketidakadilan, kepincangan dan kesewenangan-wenangan.

Namun, disisi lain Romo Mangun juga berupaya mengajak kita semua belajar dari orang-orang biasa yang hidup secara sederhana tanpa ini itu yang rumit. Belajar dari ketulusan, kesederhanaan dan harmoni orang-orang biasa itulah kira-kira pesan yang dibawa.

Karya sastra di tangan Romo Mangunwijaya telah berubah dari sekedar ekspresi berkesenian menjadi semacam pendulum bagi proses perubahan sosial. Bagaimana bisa hal ini terjadi ?

Kondisi ini dimungkinkan karena karya Romo Mangunwijaya bercirikan tiga hal. Mengangkat cerita atau latar belakang kisah dari kehidupan sehari-hari dari orang-orang kecil. Lalu, mengandung unsur ironi (idealitas-realitas) serta mengandung unsur kritik atas realitas baik secara implisit ataupun eksplisit

Sebagai penutup, doa bagi kelapangan jalan Romo Mangun patut kita panjatkan pada Tuhan sekaligus memohon agar semangat Romo Mangunwijaya yang memuliakan sifat-sifat Tuhan dan nilai kemanusian menjadi semacam ruh bagi bangsa kita yang hari ini mulai kehilangan spirit itu.

Akhirnya idiom yang pernah dibuat oleh Seno Gumira Ajidarma “ketika pers dibungkam sastra harus bicara” dapat sedikit kita tambah menjadi “ketika hati nurani kelam sastra harus menebarkan cahaya”.

Wednesday, January 6, 2010

                                           Source : www.eduinreview.com/blog/wp-content/uploads/2...

1986, kala itu hari-hari awalku di taman kanak-kanak. Bangga sekali rasanya, kusandang kotak makananku dan botol air minum yang terisi penuh. Tiap hari kuisi penuh botol air minum itu sebelum berangkat, ada kedekatan antara aku dan botol itu. Tak bisa kujelaskan secara pasti, tapi tanpa botol itu rasanya ada yang kurang saja.

2006, kala itu hari-hari awal adik bungsuku masuk sekolah dasar. Setiap kali orang tua kami menyarankan adikku mebawa botol minuman seperti kakak-kakaknya, setiap kali itu juga adikku menjawab “mendingan beli minuman botol di sekolah ma, mudah dan keren” kurang lebih itu yang kuingat dari jawaban adikku dulu.

Dua peristiwa di atas hal biasa, dua peristiwa yang dialami dua individu yang mewakili zamannya, berjarak dua dekade. Tak ada yang istimewa dari dua kejadian itu. Zaman berubah cara hidup anakpun berubah, begitulah kira-kira kalimat yang bisa mewakili dua peristiwa di atas; dari air minum di botol yang setiap hari sekolah diisi dan air minum yang langsung dibeli dengan botolnya habis itu botol langsung bisa dibuang. Pilihan kedua lebih praktis dan modis. Ya, wajar saja zaman menuntut begitu.

Tapi pertanyaan iseng saya, apa betul zaman menuntut begitu ? apa betul air dalam kemasan itu kebutuhan kita ? Kata tuntutan zaman, kadang-kadang telah menjadi semacam azimat manjur untuk menutup laju pikiran kita terhadap hal-hal yang kita anggap kecil itu. Prihal air di dalam botol itu hanya satu contoh saja dari sekian banyak hal-hal yang kita anggap kecil tadi.

Atas nama zaman yang berubah, beli nasi lebih keren dan berwibawa kalau pakai dus dari karton atau dari steryoform ketimbang berbungkus daun pisang atau berbungkus kertas koran. Berbelanjapun lebih efisien dan nyaman di superstore atau supermarket yang kita leluasa memilih segala sesuatu kebutuhan dibanding berbelanja di pasar tradisional yang tak nyaman dan susah prosesnya. Jadilah bila berbelanja di supermarket sesuatu yang sejatinya bukan kebutuhan tiba-tiba saja seolah menjadi kebutuhan karena kebetulan ada potongan harga 10% . Apalagi kalau tulisannya clearance sale… sampai-sampai tengah malampun didatangi tuh supermarket, maklum ada midnight sales yang konon potongan harganya hingga 70%. (kalau istriku baca tulisan ini, jangan-jangan dia akan menuduh ini pikiran sesat yang hanya akan melegitimasi suaminya yang ogah-ogahan kalau di ajak berburu barang diskon..)

Begitulah, zaman menuntut . Balik ke cerita soal air di dalam botol tadi. Apa sih sesungguhnya yang kita beli ? air ? rasanya bukan, botolnya ? kayaknya gak juga. Terus apa dong ? Ada nilai yang lebih mahal dari nilai air atau botolnya, gengsi ! Itulah sesungguhnya yang kita beli dari air di dalam botol itu. “Ah, nggak tuh. Aku beli air mineral kemasan, karena emang aku butuh aja”, “Kalo eke sih beli minuman begono, yee karena emang eke demen”,” I’m not agree, it’s not about prestige but efectiveness”.

Seratus satu alasan kita memilih minuman dalam kemasan. Kalau emang kita suka, demen atau merasa efektif. Terus apa dong bedanya dengan bawa botol dari rumah yang sudah diisi sendiri, airnya di masak sendiri. Sama-sama pakai botolkan ? sama-sama ada airnya kan ? “yeee..beda dunk, air dimasak sendiri belum tentu bersih, udah gitu ribet pake masak air, udah gak zaman’a kalee”.

Kalau lihat alasan-alasan yang bisa kita jejerkan untuk membenarkan kebiasaan kita meminum air mineral dalam kemasan yang kita beli. Rasanya pilihan itu memang benar, gak ada salahnya bahkan nyaris tak terbantahkan urgensinya. “hari gene bawa-bawa botol dari rumah..? idiiiih nora’ lho”. Bener juga tuh orang, jadi merasa gak gaul n’ funky nih penulis,katro’.

Luar biasa !! Kemampuan korporasi produsen air mineral dalam kemasan itu menguliti kesadaran manusia postmodern ini. Lengkap citra yang dibangun. Bahwa air dalam kemasan = sehat, bersih, mudah, keren, dan lain-lain dan lain-lain. Benarkah citraan (baca sangkaan) yang dibangun atas air mineral dalam kemasan itu ? Bisa benar dan sangat bisa salah. Sayangnya propaganda yang dilakukan terus menerus terutama oleh televisi yang disebut Garin Nugroho (2005 : 160-161) sebagai anak emas teknokapitalis telah membutakan pikiran kita dan menganggap citraan yang diprasangkakan itu sebagai sebuah kebenaran tak terbantahkan. Pikiran bawah sadar kitapun dengan reflek mengiyakan citraan-citraan itu. Bergeraklah citraan menjadi kebenaran. Jadilah kita masyarakat hyperealitas, tak lagi bisa memilah batas antara fakta dan citra.

Perbincangan soal air dalam kemasan ini terlalu remeh temeh, gak bonapid (“gak salah tuh ejaannya…. “, “Biarin aja yang penting keren” hehehhe). Di zaman yang udah canggih gini masak capek-capek mikirin air ma botol. Mikir negara ke’, mikir masa depan ke’ atau mikir prospek bisnis. Ya, emang zamannya dan makin maju; mana menarik berbincang hal-hal kecil yang konyol begini kali ya ? Segala air ama botollah dibahas, kayak gak ada kerjaan lain. Heeeemmm. Bener juga..TAPI………………..

ADA TAPINYA NIH. Gelagat kapitalisme yang berkembang bercirikan kemampuan menguasai proses konsumsi. Terjadi perluasan, dari sekedar menguasa proses produksi melebar menguasai proses konsumsi pula. (Ritzer dalam Teori Sosial Postmodern, 2005;374) Visi global kapitalisme hari ini mengeksploitasi konsumen. Tak percaya ? coba pikir;kartu kredit, belanja online, phone shop, mall, diskon. Bisakah orang-orang hari ini hidup tanpa hal-hal di atas ? Rasanya lebih banyak yang memilih jawaban “Tak Bisa”. Sebenarnya banyak yang bisa hidup tanpa hal-hal di atas, bahkan era 90-an hanya segelintir orang saja yang sudah bersentuhan dengan itu. Tapi sekarang, jangan tanya. Anak SD hingga veteran perang vietnam terbiasa dengan aktivitas yang terkait hal-hal di atas itu. KITA DIPAKSA BELANJA.
Inilah kedigdayaan kapitalisme dalam merayu massa. Kita dirayu tanpa sadar. Rayuannyapun luar biasa dahsyat. Tak sekedar diberi janji-janji dan citraan, tapi kita dipermudah bahkan sangat leluasa mengakses instrumen yang “memaksa” kita belanja. Inilah kemenangan yang paling heboh dari kapitalisme dalam dua dasawarsa terakhir. Ledakan konsumsi !!

“Halah, koq nggaya kowe..ngomong-ngomong soal kapitalisme po yo mendingan ngomongke rego saham po bisnis forex luwih jelas hasile ketimbang mbengok sing ora nggenah..” (Halah, kok kamu bergaya,bicara-bicara soal kapitalisme mendingan bicarakan soal harga saham atau bisnis forex lebih jelas hasilnya daripada teriak-teriak gak jelas). Itu reaksi temanku yang orang Jogja waktu kutelpon malam-malam dan kuajak bicara soal air berbotol atau botol berair.. Benar juga temanku itu, ngomongin kapitalisme itu gak jelas. Itu lagi kehebatan kapitalisme, munculnya selalu tidak jelas, multiidentity, samar dan berbaur. Kondisi ketidakjelasan inilah yang memudahkan praktik-praktik kapitalisme mudah dan gampang diterima.

Mari kita bicara tanpamembawa-bawa kapitalisme itu,terlalu berat, mumet (pusing), pening. Serba salah jadinya penulis,tadi bicara botol dan air dibilang terlalu ringan, gak bonapid  sekarang bicara soal kapitalisme dituduh bikin pusing, keberatan. Jangan-jangan kita ini memang sudah malas berpikir ya ? Mau berat, mau ringan ya malas mikirnya. Hehehehhe. Mau menuduh kapitalisme juga sebagai biang keladinya ? Ah enggak ah nanti banyak yang keberatan. Di tambah lagi aku tak paham seluk beluk teori seputar kapitalisme ini.

Satu hal yang kupahami dari kehidupan hari ini. Ikut arus utama itu lebih mudah. Kalau orang kebanyakan minum dengan membeli air dalam kemasan ya ikutan aja, kalau orang-orang naik motor atau mobil berangkat ke sekolah ya ikutan aja, ngapain jalan kaki atau naik sepeda dan ikut-ikutan dalam hal-hal lainnya. Menjadi pengikut arus utama itu memudahkan karena kita tak pelru lagi mikir-mikir. SEMUA ORANG JUGA BEGITU…. 

Balik ke soal air berbotol atau botol berair itu. Maka kalau kebutuhan dasar kita itu adalah air untuk diminum jawaban yang benar adalah air berbotol. Terpenting airnya, bukan botolnya. Frasa air berbotol menunjukkan air sebagai subyek, maka airlah yang utama. Tapi kalau anda meminun botolnya maka Botol berair jawabanya. Terserah mau minum air atau minum botol ?
Kalau anda masih waras, pasti anda milih air berbotol. Jika demikian, pastikan botol kepunyaan anda berisi air yang dibawa dari rumah (Kecuali pada saat botolnya sudah mulai tak bisa dipakai ya tak masalahlah beli botol berair), kalau anda memilih botol berair, teruskanlah perilaku membeli air minum dalam kemasan. … Tabik !

Ups…hampir lupa mau bilang maaf ke produsen air mineral, bukan maksud hati merusak pasar kalian yang sudah menggurita ini. Bukan pula maksud hati saya menyepelehkan kerja keras tak kenal pamrih kaliah dalam prihal kepedulian sosial dengan mendekatkan air ke masyarakat di Kabupaten Soe NTT itu…  Tulisan ini hanya ingin mencolek pikiran saya dan orang yang sudi dicolek lainnya. Lagipula gurita anda-anda tak akan goyah oleh tulisan mungil ini…. PISS

Hzr – Banda Aceh, 04.45 WIB

Saturday, December 19, 2009

Courtesy : Samuel Goldwyn Films docs Film Review
Elegy : The Other Side of Love
Consuela : David, mereka mengangkat semuanya (payudara..pen)
David Kepesh : tidakkah kau tahu Hyppolita, ratu cantik dari Amazon yang memotong payudara sebelah kanannya agar bisa memanah lebih cepat, tapi ia tetap cantik”
Sesaat setelah percapakapan itu, layarpun tertutup.
Dua kata yang pantas disematkan bagi karya sutradara Isabel Coixet ini “dalam dan menghujam”. Film yang bergerak datar, nyaris tanpa pergolakan emosi yang luar biasa, begitu kiranya bila sepintas kita tonton. Tak lebih dari petualangan cinta seorang profesor sastra yang terjebak dalam “kebekuan” hidup, kebekuan yang lahir dari kegagalannya berdamai dengan dunia.
Mengapa di bagian awal tulisan ini saya mengutip percakapan Dr. David Kepesh (Ben Kingsley) dan Consuela (Penelope Cruz), dua tokoh utama dalam film ? film ini memang banyak bertutur tentang tubuh, birahi dan rasa seputar kesalingtertarikan. Sebuah pengembaraan memilah antara cinta kepada tubuh dan cinta kepada pemilik tubuh. Bukan termasuk film yang renyah dan gampang dikunyah, pemilik “gigi susu” mungkin tak berdaya dihadapan film ini; datar dan membosankan, tanpa ledakan emosi yang berarti, kalaupun ada bagian yang sedikit renyah dan gampang dikunyah “gigi susu”mungkin bagian adegan ranjang yang begitu dewasa. Adegan ranjang yang tak kekanak-kanakan.
Pengembaraan yang diwakili oleh Dr. Kepesh, sesosok lelaki cerdas, tua dan bermasalah dengan kehidupan sosial. Kepesh menikah kemudian berpisah dan memiliki seorang anak. Ia diceritakan sebagai penidur perempuan ulung, sang penakluk yang handal. Film ini mencoba keluar dari mainstream maskulinitas toko utama pria yang selalu gagah,muda, tampan dan menarik. Kepesh hanya memiliki kecerdasan, tak lagi muda . Kecerdasannya yang membuat menarik hingga perempuan kandas di karang yang ciptakan dari kepiawaiannya bersastra dan mengulik cerita di seputar seni.
Kepesh memilih meninggalkan istri dan anaknya karena bagi Kepesh, pernikahan adalah penjara dan ia memilih untuk tidak menikah lagi karena ia tak mau dari penjara ke penjara. Tibalah perjumpaan dengan Consuela, mahasiswa Kepesh di kelas kritisisme sastra yang akhirnya menarik birahi sang profesor untuk menidurinya. Puja puji berkelas yang sangat alami dan intelek dari profesor meruntuhkan hati sang gadis Kuba itu. Bermula dari pertunjukkan teater berakhir di ranjang Dr. Kepesh.Tentu bukan barang baru bagi Kepesh tidur dengan mahasiswinya.
Tapi menjadi baru karena Kepesh menjadi tergantung pada Consuela, Kepesh tak pernah berani melepaskan Consuela, tidak seperti biasanya. Kepesh memilih mempertahankan hubungan, meski dalam hatinya ia sadar hanya menunggu waktu saja, manakala Consuela sadar jarak 30 tahun antara mereka bukan hal kecil. Sampai saat seorang pemuda merebut hati Consuela, itulah ketakutan Kepesh.
George O’hearn, sahabat kental Kepesh mengingatkan, jauh lebih baik meninggalkan perempuan itu lebih daripada kelak ditinggalkan. Tapi Kepesh tak bergeming. Biduk terlayar, pantang melempar dayung.
Pertempuran terjadi dalam hati sang Professor. Ia mulai meragukan ketidakyakinannya akan cinta. Pelan tapi pasti Consuela mengikis angkuh Sang Professor. Pada titik inilah tiba-tiba hubungan mereka terbang, hilang. Consuela pergi begitu saja, Kepeshpun kembali ke kehidupan “normal”nya, rutinitas.
…..
Sesi akhir film ini ditandai dengan kematian George O’hearn, di tengah kepedihan yang melanda Kepesh tiba-tiba Consuela hadir dengan kabar bahwa ia mengidap kanker payudara yang mengharuskan payudaranya diangkat…
Pada titik inilah Kepesh menemukan makna bahwa cinta tak sekedar tubuh…
Cinta selalu menjadi magnet perbincangan dari abad ke abad, atas nama cinta pula perang berkumandang di banyak sudut bumi. Karena cinta kemarahan dan kasih sayang berhimpit setipis rambut.
Kerap cinta menyempit maknanya pada sekedar ketubuhan padahal dalam tafsir film ini cinta sebenarnya lepas dari tubuh itu sendiri. Cinta adalah pergolakan dimana ketergantungan, kesalingkaguman dan ketakberdayaan bersenyawa dalam impian-impian sekaligus ketakutan. Sekali lagi dalam tafsir film ini cinta begitu runyam dan berbelit, silang sengkarut.
Cinta sejatinya sesuatu yang sederhana. Cinta menemukan bentuk sederhananya ketika ia bergerak menerobos keangkuhan dan ketakberdayaan. Cinta kehilangan kesederhanaannya ketika dimaknai sekedar tubuh dan hak milik.
Happy watching !

Monday, March 16, 2009


Perhelatan PEMILU sejengkal waktu lagi, pemimpin-pemimpin barupun akan segera bermunculan, baik eksekutif maupun legislatif. Masa kampanye beruntai janji mulai jadi santapan kita sehari-hari. Koran, radio, televisi bahkan baliho pinggir jalan menyiratkan ini. Adakah calon-calon pemimpin baru itu memiliki visi ekologis dalam menghambat laju penurunan kualitas lingkungan hidup ?

Isu lingkungan bukanlah isu yang seksi, belumlah menjadi fokus perhatian kita. Padahal kesejahteraan yang diperjuangkan sekuat tenaga dan sepenuh hati di negeri ini akankah berarti jika daya topang ekologis hancur ? Pembangunan ekonomi, politik, infrastruktur dan juga pembangunan sosial tak boleh menyisihkan konsentrasi kita pada permasalahan lingkungan.
Fenomena terdegradasinya kualitas lingkungan secara global dan semakin rapuhnya daya topang ekologi dapat dengan mudah kita rasakan saat ini. Bumi yang kian hari kian panas, bencana yang disebabkan kerusakan lingkungan terjadi dari waktu ke waktu. Inilah fenomena bunuh diri ekologis.

Para ahli mencatat paling tidak ada dua belas kategori bunuh diri ekologis yang ada saat ini; Pembalakan hutan dan perusakan habitat, kerusakan lahan (erosi, salinisasi, kehilangan kesuburan), manajemen air, perburuan yang berlebihan, pengambilan ikan yang berlebihan, dampak introduksi spesies baru, pertumbuhan penduduk, peningkatan dampak per kapita penduduk, perubahan iklim, pencemaran kimia, kekurangan energi, dan pemborosan kapasitas fotosintesis bumi.

Kondisi ini tentu saja menuntut kita semua peduli dan mau melakukan langkah-langkah konkret dalam melimitasi peluang bunuh diri ekologis tersebut. Ada dua sisi setidaknya yang harus mengalami penguatan peran. Masyarakat luas harus didorong untuk mengambil peran dalam upaya pencegahan bunuh diri ekologis, ini segaris lurus dengan konsepsi civil society. Dimana masyarakat memiliki keberdayaan dalam memperjuangkan hal-hal yang mereka yakini kebenarannya.

Di sisi lain yang harus didorong adalah hadirnya kepemimpinan politik yang bervisi, bermisi dan berperilaku pro lingkungan. Tulisan ini mencoba fokus pada sisi kedua, kepemimpinan politik pro lingkungan. Untuk sisi masyarakat akan dibahas pada tulisan selanjutnya.

Dibutuhkan Pemimpin Ramah Lingkungan, Mengapa ?

Sebagai calon pemilih dalam pemilu nanti rasanya kita perlu mendorong hadirnya pemimpin yang peka, paham, dan mau mengupayakan proteksi terhadap keanekaragaman hayati, serta memastikan sumber daya alam digunakan secara bijaksana untuk hajat hidup masyarakat. Masalah lingkungan sejatinya telah menjadi permasalahan global yang sangat mencemaskan, hanya saja selama ini kita tak terlalu menganggap ini hal utama. Maka ke depan pemimpin di negeri ini dalam berbagai tingkatan harus mau dan mampu menjadikan permasalahan lingkungan sebagai prioritas.

Paling tidak ada tiga alasan mengapa pemimpin ke depan perlu memprioritaskan permasalahan utama. Pertama, kebijakan dan implementasi dalam berbagai hal yang menyangkut lingkungan hidup akan menentukan posisi diplomasi sebuah negara dalam percaturan internasional. Mengapa demikian ? Dunia dihadapkan pada kondisi perubahan iklim, krisis energi dan krisis air bersis. Maka, setiap negara yang mengupayakan langkah adaptasi dan antisipasi permasalahan di atas akan mendapat posisi tawar yang tinggi.

Sebagai contoh Monako, negara kecil dengan luas wilayah tak lebih dari 2 juta meter persegi ini, mampu mencuri perhatian dunia. Prince Albert II, Raja Monako di depan sidang umum PBB menjadi pusat perhatian dunia dengan kebijakan dan implementasi proteksi lingkungan yang kuat. Monako juga berhasil mengimplementasikan pembangunan berkelanjutan secara solid. Jadilah Monako negara kecil yang mempengaruhi konstalasi politik Global.

Kedua, permasalahan lingkungan sedemikian jelas di depan mata kita saat ini. Tak bisa dianggap sebelah mata, masa depan anak cucu kita dipertaruhkan. Maka mutlak dibutuhkan political will yang kuat, sehingga muncul kebijakan-kebijakan mutakhir dalam pengelolaan alam dan sumber dayanya. Diperkuat juga dengan penegakan supremasi hukum.

Jika demikian adanya, eksplorasi sumber daya alam yang tak bijak pasti akan sirna dengan sendirinya. Namun, jika pemimpin mendatang menempatkan isu lingkungan di nomor buncit, maka niscaya kerusakan demi kerusakan akan susul menyusul. Sampai pada titik dimana daya topang ekologi semakin mengecil dan kehancuranpun datang.

Ketiga, ke depan negara akan berhadap-hadapan dengan kepentingan korporasi global yang akan mencoba mengeksplorasi sumber daya alam secara besar-besaran dengan tujuan profit. Pada kondisi ini maka pemimpin yang kuat dan memiliki visi yang ramah lingkungan dibutuhkan untuk memproteksi kepentingan rakyat. Sehingga akses terhadap sumber daya alam seperti air bisa tetap dimiliki rakyat.

Korporasi dengan pendanaan yang kuat akan berupaya menekan negara agar mau menyerahkan pengelolaan sumber daya alam kepada sektor swasta. Tentu ini perlu dianalisis secara cermat, semua tidak semata uang. Maka pemimpin yang paham apa dan bagaimana memproteksi kepentingan rakyat dan kepentingan ekologis mutlak dibutuhkan. Jika tidak, alamat negeri kita tergadai.

Kekalahan negara-negara secara global ketika berhadapan dengan kepentingan korporasi nyata-nyata ketika dalam World Water Forum di The Hague, Maret 2000 menyebutkan sebuah kesepakatan bahwa air adalah kebutuhan manusia bukan hak azasi manusia. Sepertinya sepele, tetapi implikasinya sangat luas. Jika air hanya dianggap kebutuhan maka korporasi bisa leluasa memperdagangkan air bersih. Sedangkan jika air dianggap sebagai hak azasi manusia maka negara harus menjamin setiap rakyatnya memiliki akses terhadap air bersih. (Barlow and Clarke ; 2005)

Seperti apa sebenarnya green leadership. Kepemimpinan yang bervisi pada keseimbangan antara daya topang ekologi dan pembangunan, baik fisik maupun non fisik. Pada sisi lain kepemimpinan model ini juga mengedepankan kemaslahatan rakyat dalam mengakses tiap sumber daya yang ada. Pada level selanjutnya kepemimpinan model ini akan memformulasi kebijakan ramah lingkungan sekaligus pro kepenitngan rakyat.

Pada level implementasi green leadership pada tahap perencanaan akan mendorong sebuah perencanaan partisipatif dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Selanjutnya pelaksanaan akan diupayakan agar segaris dengan perencanaan. Akhirnya green leadership akan memprioritaskan pada proses tidak hanya hasil akhir. Evaluasipun diorientasikan pada upaya menemukan jalan keluar dan pengembangan bukan sekedar upaya memunculkan kesan keberhasilan yang dicapai.

Green leadership nampak begitu ideal, apa benar-benar ada yang bervisi seperti ini ? Jawabannya bisa iya dan bisa tidak, semua terkembali pada kita. Mampukan dengan cerdas kita menemukan pemimpin model itu dalam pemilu nanti. Di sisi lain lembaga-lembaga yang fokus pada isu konservasi harus ikut aktif membangun pemilih yang cerdas sekaligus bergerak aktif mempengaruhi calon pemimpin baru agar mau peduli pada isu lingkungan. Proses edukasi tidak hanya menjadi hak calon pemilih tapi juga hak calon pemimpin.

Akhirnya, sebuah komitmen bersama antar pemangku kepentingan untuk mendorong lahirnya green leadership harus segera dibangun. Tanpa komitmen bersama tentu upaya ini terasa sangat berat, namun berbekal kebersamaan kita bisa mewujudkan bumi yang hijau, laut yang biru, air yang bersih dan udara yang layak. Bukankah bumi ini amanah dari generasi mendatang ?

Tuesday, March 10, 2009



Pernahkah terbayang, apa yang terjadi jika panjang jalan di Indonesia tak bertambah sedangkan jumlah kendaraan bermotor terus meningkat ? banyak kemungkinan jawaban. Jika itu terjadi, mungkin kemacetan tidak hanya jadi monopoli ibukota tapi, kota-kota kecil seperti Kota Sabang di Aceh atau Merauke di Papua akan ikut merasakan. Namun, bisa jadi orang-orang berhenti menggunakan kendaraan bermotor, mencari alternatif lain, berjalan kaki misalnya atau naik sepeda yang lebih anti macet.


Data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2005 saja terdapat 38.156.178 kendaraan bermotor (total semua jenis). Pada tahun 2000 hanya tercatat 18.975.344, artinya dari tahun 2000 ke 2005 meningkat 19.180.934, lebih dari seratus persen dalam 6 tahun. Tentu saja peningkatan jumlah kendaraan bermotor ini menuntut peningkatan infrastruktur transportasi berupa jalan. Tahun 2005 BPS mencatat panjang jalan di Indonesia 391.009 KM, baik yang diaspal maupun tidak.


Inilah salah satu rasionalisasi pemerintah terus membangun jalan. Tujuan pembangunan jalan juga memiliki fungsi ekonomi dan sosial. Jalanlah yang kemudian menjadi sarana pergerakan barang-barang konsumsi, mobilitas penduduk, pembuka keterisoliran, memperkuat kesatuan bangsa dan beragam tujuan lainnya. Namun, di sisi lain pembangunan jalan memiliki dampak lingkungan.


Pembangunan jalan baik di perkotaan maupun kawasan non-perkotaan (termasuk hutan) memiliki dampak lingkungan. Berkurangnya daerah resapan air, degradasi kualitas lingkungan, ancaman bagi keanekaragaman hayati, produksi emisi gas buang yang tinggi selama pembuatan jalan. Tidak berhenti disana saja dampak paska selesainya jalan ; peningkatan emisi gas buang yang dihasilkan kendaraan bermotor, potensi bencana yang diakibatkan degradasi kualitas lingkungan dan juga jika jalan dibuka di kawasan hutan akan membuka potensi pemanfaatan potensi hutan secara tidak bertanggung jawab.


Pada titik inilah terjadi tarik menarik antara kepentingan ekologi, ekonomi dan sosial. Ini tentu saja bukan hal baru. Debat panjang telah berlangsung lama di negeri ini. Mulai dari pembuatan jalan trans Jawa oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Deandels dari Anyer sampai Panarukan (1000 KM) yang disebut De Grote Postweg (Jalan Pos), pembangunan jalan di Pantai Utara Jawa hingga rencana pembangunan jalan Ladia Galaska yang melintasi Kawasan Ekosistem Lauser yang memiliki fungsi ekologis sangat penting.


Tidak mudah memang menemukan win-win solutions antar berbagai kepentingan di seputar pembangunan jalan. Namun, tidah mudah bukan berarti tidak ada sama sekali. Permasalahannya, maukah kita berdiskusi lintas sektor dengan niatan mencari jalan keluar bukan saling meneguhkan pembenaran masing-masing.


Pembangunan Jalan dan Aspek Ekologi : Dari face to face menuju peace to peace

World Commision for Environmental and Development (WECD) mendefinisikan pembangunan berkelanjutan sebagai “pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan hak pemenuhan kebutuhan generasi yang akan datang”. Esensi pembangunan berkelanjutan adalah perbaikan mutu kehidupan manusia dengan tetap berusaha tidak melampaui kemampuan ekosistem yang mendukung kehidupannya. Sedangkan ekonomi berkelanjutan merupakan buah dari pembangunan berkelanjutan, yaitu sistem ekonomi yang tetap memelihara basis sumberdaya alam yang digunakan dengan terus mengadakan penyesuaian-penyesuaian dan penyempurnaan-penyempurnaan pengetahuan, organisasi, efisiensi teknis dan kebijaksanaan (IUCN, UNEP, WWF, 1993)


Maka, rasanya perspektif yang melihat jalan sebagai musuh ekologi semata harus diubah justru menjadi jalan sebagai potensi bagi upaya proteksi ekosistem. Pertanyaannya, mungkinkah? Jawabannya mungkin, sangat mungkin. Tiap fase pembangunan jalan harus memenuhi hal-hal berikut jika ingin mencapai peace to peace itu.


Tahap Perencanaan


Pertama, tiap rencana pembangunan jalan harus dimulai dengan sebuah pertanyan “Haruskah membangun jalan?”. Harus dijawab secara multi perspektif, tidak semata aspek ekonomi dan sosial tapi juga ekologi. Jangan coba-coba merencanakan pembangunan jalan yang dampak lingkungannya sangat besar, sebesar apapun manfaat ekonomi dan sosialnya.


Kedua, pembangunan jalan darat sering kali dijadikan satu-satunya opsi. Padahal transportasi air dan udara bisa dijadikan alternatif. Maka dalam perencanaan jalan, alternatif moda transportasi non-darat harus dipertimbangkan. Namun bukan berarti infrastruktur transportasi non-darat bebas dampak lingkungan.


Semua alternatif moda transportasi perlu dipertimbangkan dan dilihat mana yang secara ekonomi paling efektif, secara sosial paling ramah dan secara ekologis paling kecil dampak lingkungannya. Studi dampak lingkungan harus jadi kekuatan utama dalam fase perencanaan jalan disamping tentunya studi dampak ekonomi dan dampak sosial kehadiran jalan.


Ketiga, perspektif membangun jalan baru harus diimbangi dengan perspektif ekstensifikasi jalan yang telah ada (jalan lama). Untuk menjawab kebutuhan ruas jalan biasanya solusi bangun jalan baru jadi pilihan padahal jalan lama bisa dioptimalkan.


Tahap Pelaksanaan

Tahapan pelaksanaan pembangunan jalan adalah penyumbang dampak lingkungan yang cukup besar. Emisi yang dikeluarkan alat berat, penggunaan aspal, dan lainnya. Maka pada tahap pelaksanaan ini proses pelaksanaan pembangunan jalan harus mengedepankan adaptasi perubahan iklim.


Banyak hal yang bisa diupayakan; penanaman vetifer sebagai penyangga konstruksi jalan, pelaksanaan geometrik jalan yang hemat energi dan ramah lingkungan, penggunaan aspal daur ulang atau bahan alternatif lainnya, pembangunan drainase dengan teknik tinggi dan sebagainya.


Pernahkah kita berpikir secara sederhana, andai saja setiap pekerja yang terlibat dalam pembangunan jalan wajib menanam minimal lima pohon, ada berapa pohon baru yang akan lahir. Hal ini tentu saja di luar kewajiban kontraktor untuk menyediakan ruang hijau.


Hal terpenting adalah jika pelaksanaan pembangunan jalan ini menemui permasalahan yang menyangkut stabilitas ekosistem dan ada kecenderungan merusak keanekaragaman hayati maka proses pelaksanaan harus dihentikan, harus ! Tentu tidak selamanya. Dilanjutkan kembali setelah dampak terhadap ekosistem dan kecenderungan kerusakan keanekaragaman hayati ditemukan jalan keluar yang komprehensif, jika belum ada solusi maka pembangunan tak bisa dilanjutkan. Itu mutlak!


Proses menuju peace to peace pembangunan jalan dan aspek ekologi ini memang terasa sangat berat, apalagi kalau dilihat dari kepentingan kontraktor dan pemilik proyek. Hanya saja, pihak yang berkonsentrasi dalam bidang konservasi juga tidak bisa semata menimbang aspek ekologi. Kesediaan berdikusi multi pihak dengan pikiran yang terbuka dan hati yang lapang menerima pandangan lain akan menjadi kunci menuju perspektif peace to peace. Ekonomi tumbuh, jalinan sosial utuh dan kondisi lingkungan tetap bermutu. Bukankah itu itu yang kita mau ??.


Penulis saat ini bekerja di salah satu lembaga konservasi nasional dan mantan Duta Muda Lingkungan mewakili Indonesia dalam Event Bayer Young Environmental Envoy 2004 di Leverkusen, Jerman. (Tulisan merupakan pendapat pribadi)

Monday, January 12, 2009



(Diantara merekalah aku merasakan ada, mengada dan bahkan tertiada..adakah cinta ?)
(Among them I have felt, being and even loosing, is it love ?)


Dicintai adalah buah dari mencintai, dihargai adalah arus balik dari menghargai dan begitu seterusnya, itu logika umumnya. Menabur maka menuai, menanam maka akan memanen itu sebab akibat. Lumrah sungguh ! Tapi, tak selalu begitu. Orang-orang luar biasa, mencintai tanpa peduli akan mendapatkan yang serupa atau tidak, mereka berbuat terbaik walau beratus mata memandang sinis, mereka tersenyum manis meski puluhan mulut mengumpat keji.

Darah bayar darah, madu berbalas madu. Itu lazimnya. Tapi orang-orang istimewa tidak begitu. Mari ingat adakah orang2 di sekitar hidupmu yang begitu ? siapa saja mereka ?
yang mencintai tanpa berharap dicintai, memuliakan tanpa keinginan dimuliakan, mengasihi tanpa harus medapat balas kasih. Kalau kita teliti, banyak sekali yang akan kita dapati ? Siapa ? tanyakan pada diri kita masing-masing siapa mereka ?

Sebagai tanda mata dunia maya, kusematkan beragam aphorism tentang cinta yang kuunduh dari website aphorism mahsyur berikut untuk kita nikmatibersama sembari senyum-senyum kecil.
****
Beloved is the fruit of love, is to be behind the flow of respect and so on, that's the logic in general. Reap the sow, to plant the crop that will be the result. Ordinary indeed! But, not always so. Those extraordinary, without a care for will get a similar or not, even though they do best hundred look cynical eye, their sweet, smiling mouth, even though tens of vituperate despicable.
Blood pay blood, honey reciprocate honey. That often. But for very special people they are not like that. Let's remember what people around the life that so? who are they? without hope for the beloved, exalted praise without the desire, without the need to respond to get love. If we carefully, many of which we will find? Who? ask themselves on each of us who they are? As a sign of the virtual world, I sharing you various aphorism about love, please enjoy it.


It is better to have loved and lost than never to have loved at all.
Alfred Tennyson


All the passions make us commit faults; love makes us commit the most ridiculous ones.
La Rochefoucauld

Happiness: An agreeable sensation arising from contemplating the misery of another.
Ambrose Bierce
Hatred: A sentiment appropriate to the occasion of another's superiority. Ambrose Bierce

In the end, we will conserve only what we love. We will love only what we understand. We will understand only what we are taught
Baba Dioum

It is easier to forgive an enemy than to forgive a friend.
WIlliam Blake
Kindness is loving people more than they deserve
Joseph Jaubert
Love is a given, hatred is aquired.
Doug Horton
Love is the triumph of imagination over intelligence.
unknown
No distance of place or lapse of time can lessen the friendship of those who are thoroughly persuaded of each other's worth.
Robert Southey

Wednesday, August 13, 2008



Road is a field of war, begitulah rasanya jika kita menyaksikan warna warni jalanan. Keselamatan bukanlah prioritas, begitupun solidaritas, etikapun kandas. Jalan raya telah menjelma menjadi medan perang; yang kuat yang menang, ganas, kejam dan kadang tak berperadaban.

Harus berapa nyawa lagi yang melayang karena ego dan mentalitas pengguna jalan, mengapa menjadi tertib dan beretika menjadi amat sangat sulit di negeri ini ? sekedar menunggu maksimal 180 detik atau tiga menit saja di traffic light sangat sulit bagi kita ? Mengapa untuk sekedar memberi kesempatan pada pengguna jalan lain menjadi sesuatu yang sungguh langkah ? Pejalan kaki kehilangan haknya, trotoar disambar motor dan bajaj, zebra cross disapu kendaraan yang malas menunggu di belakang garis batas. Angkutan umum menjadi preman jalanan; bajaj, taksi, bus semua tunggang langgang seenaknya, tak peduli etika apalagi aturan. Aturanpun telah menjadi komoditas di jalanan. Traffic goes on by instinct not by rules.
Tulisan ini mencoba melihat kompleksitas permasalahan di jalan dari sisi regulasi mengenai izin mengemudi (SIM). Karena bisa jadi pangkal dari buruknya mentalitas pengguna jalan diakibatkan buruknya pola dan mekanisme penerbitan SIM.

Sudah jadi rahasia umum jika urusan buat membuat SIM itu bukan perkara yang terlalu sulit. Banyak jalan menuju kursi kemudi, begitu kira-kira mottonya. Jalan pintas mendapatkan SIM tersedia dengan beragam variannya. Datang saja ke satuan lalu lintas di tingkat polisi daerah rasanya mata dan insting anda tidak akan terlalu sulit menemukan jalan pintas itu.

Urusan SIM ini diatur dengan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 44 tahun 1993 tentang kendaraan dan pengemudi. Secara umum ada dua ujian yang harus diikuti yaitu ujian teori dan praktek. Tapi mari tanyakan pada orang-orang di sekitarmu, berapa orang yang betul-betul mengikuti ujian teori dan praktek ini ? Dari survei kecil yang saya lakukan terhadap lima belas orang teman yang memiliki SIM, hanya satu orang yang benar-benar mengikuti tes tersebut, sisanya tak mengenal tes tersebut.

Delapan butir syarat memiliki SIM pada PP No 44 tahun 1993 pasal 217 (1) sejauh ini tak mampu menjamin bahwa pemegang SIM bisa memiliki etika, disiplin dan kemampuan berlalulintas yang memadai. Jika menilik mentalitas dan perilaku pengguna jalan dan data statistik jumlah pelanggaran dan kecelakaan di jalan raya rasanya pantas kita mencoba melihat kembali prosedur dan tata kelola perizinan mengemudi.

Tahun 2004 menurut menteri perhubungan ketika itu, Hatta Radjasa ada kurang lebih 30.000 angka kematian tiap tahunnya akibat kecelakaan lalu lintas. Artinya kecelakaan lalu lintas menjadi “pembunuh” terbesar ketiga setelah jantung dan stroke di Indonesia. Sisi mana yang perlu kita lihat dalam proses penerbitan izin mengemudi ?

Secara umum ada empat jenis pengemudi di jalan raya kita. Pengemudi kendaraan bermotor roda dua, pengemudi kendaraan (mobil) pribadi, pengemudi kendaraan angkutan umum, dan pengemudi angkutan barang. Jika menggunakan pembagian berdasarkan kepemilikan SIM, ada pemegang SIM C dan D, SIM A, A Umum SIM B I dan B II. Masing-masing jenis pemegang izin mengemudi berdasar jenis dan kegunaan kendaraan sebenarnya memiliki tingkat kesulitan masing-masing. Sayangnya hal ini tidak mendapat perhatian dengan jelas di PP nomor 44 tahun 1993 tersebut. Perbedaannya hanya pada prasyarat kepemilikan SIM. Harus memiliki SIM A untuk mendapat SIM A umum, memiliki SIM A umum atau B I untuk memiliki SIM BI umum dan seterusnya. Aspek psikologis dan sosiologis luput dari perhatian. Memang pada pasal 240 diatur mengenai waktu bekerja bagi pengemudi angkutan umum. Namun, itu saja belum cukup.


Aspek Psikologis
Tiap individu secara alamiah memiliki keunikan atau kekhasan dalam dirinya. Termasuk menyangkut karakter emosi dan kecenderungan perilaku. Mengingat kecendrungan karakter inilah yang akan menjadi modal bagi pengemudi kendaraan dalam melakukan interaksi di jalan raya dengan sesame pengguna jalan. Maka kecendrungan emosi ini harus diketahui dan dipahami oleh tiap-tiap pengemudi.

Pengukuran kecenderungan karakter emosional ini harus menjadi salah satu item penting dalam driving license test. Di beberapa Negara maju seperti Swedia, Swiss dan beberapa Negara Eropa lainnya menjadikan aspek psikologis sebagai aspek penting dalam proses kepemilikan izin mengemudi.

Berbekal pengetahuan akan karakter pribadi dan karakter-karakter pengemudi lainnya tentu akan menjadi pondasi untuk saling memahami antar pengguna jalan. Agresivitas yang berlebihan di jalan raya telah menjadi salah satu sumbu permasalahan keruwetan transportasi kita. Hal ini tentu saja menyangkut aspek psikologis pengemudi. To combat aggressive behavior on the road attitude and behavior modification is required (American Institute for Public Safety), maka yang dibutuhkan adalah pendekatan psikologis dengan memodifikasi perilaku dan kebiasaan pengguna jalan.

Proses modifikasi ini bisa dilakukan mulai dari awal, yaitu mulai dari fase tes kepemilikan SIM. Data kecendrungan emosi inilah yang harus diketahui oleh calon pemegang SIM sendiri. Calon pemegang SIM juga harus mengetahui kecendrungan karakter emosi lainnya di jalan. Dari data psikologis tersebut, pihak berkompeten seperti direktorat lalu lintas kepolisian atau departemen perhubungan dapat mejadikannya acuan dalam melakukan treatment terhadap masing-masing golongan berkecendrungan emosi tertentu.

Dalam konteks klasifikasi kelompok kecendrungan psikologis pengemudi dapat menggunakan basis teori Karl Gustav Jung (1875-1961), analisis untuk memahami tipe kepribadian ini menggunakan perangkat yang disebut MBTI Myers-Briggs Type Indicator. 16 kemungkinan tipe kepribadian yang mungkin dimiliki seorang pengemudi berdasarkan persepsi, penilaian (judgement) dan sikap bisa dijadikan dasar dalam memahami kompleksitas perilaku pengguna jalan.

Harapannya dengan menggunakan pendekatan psikologis dalam tes kepemilikan SIM, dapat membuat pemegang SIM tahu apa dan bagaimana kondisinya secara psikis, hingga bisa mengambil keputusan dan berperilaku secara tepat dalam berkendaraan. Disisi lain ia bisa mengetahui dan mencoba memahami karakter dan perilaku pengguna jalan lainnya. Pada akhirnya proses interaksi sosial di jalan diharapkan bisa dibangun atas kesalingsepahaman bukan di atas jungle law, siapa yang kuat dia yang menang.

Penekanan aspek psikologis dalam tes kepemilikan SIM, bisa saja terasa berlebihan. Namun, paling tidak ada tiga hal yang bisa dijadikan alasan; Mentalitas pengguna jalan di Indonesia sudah sampai pada kondisi yang memprihatinkan. Hal kedua, angka kecelakaan yang sangat tinggi sebagian besar disebabkan oleh perilaku mengemudi yang buruk. Hal ketiga, premanisme berkenderaan telah menjadi patogen di jalan.
Aspek Sosiologis
Secara sosiologis pengemudi dibagi menjadi dua kelompok besar, pengemudi kendaraan pribadi dan pengemudi kendaraan umum. Masing-masing memiliki karakter sosial yang berbeda. Pengemudi kendaraan pribadi cenderung tidak dipengaruhi kondisi sosial masyarakat, tidak dipengaruhi secara langsung oleh target setoran dan digunakan untuk kepentingan yang sifatnya individual serta tidak memiliki rute atau trayek tertentu. Sedangkan pengemudi kendaraan umum memiliki ciri-ciri yang berkebalikan dari ciri sosial pengemudi kendaraan pribadi.

Biasanya pengemudi kendaraan umumlah yang kerap menjadi sumbu masalah dari berbagai keresahan di jalan. Perilaku ugal-ugalan, berhenti di sembarang tempat dan berbagai perilaku agresif lainnya telah menjadi semacam brandmark pengemudi kendaraan umum, preman jalan raya sebutannya. Kondisi ini sebenarnya tidak bisa digeneralisir karena masih ada juga pengemudi angkutan umum yang beretika dan tertib dan banyak juga pengemudi kendaraan pribadi yang lebih “preman” dari pengemudi kendaraan umum.

Proses berlalu lintas sejatinya adalah proses interaksi sosial dimana masing-masing komponen memiliki posisi dan fungsinya masing-masing yang kemudian melakukan kontak sosial satu sama lain. Paling tidak ada empat pelaku dalam proses interaksi sosial tersebut. Pengemudi kendaraan pribadi, pengemudi kendaraan umum, pejalan kaki dan polisi atau aparat sejenis. Keempat pelaku itu semua berada di bawah rules tertentu, yaitu peraturan lalu lintas dalam segala bentuknya.

Masing-masing unsur memiliki hak dan kewajibannya masing-masing. Maka dalam konteks tes kepemilikan SIM. Rasanya perlu memasukkan unsur interaksi sosial ini sebagai item dalam proses tes. Pola interaksi sosial ini perlu dipahami oleh tiap calon pemegang SIM. Harapannya agar proses interaksi sosial di jalan dapat dibangun beradasarkan pembagian fungsi dan kerja. Sehingga masing-masing unsur dapat menghormati dan menghargai hak satu sama lain.
Proses Kepemilikan SIM
Sejauh ini proses kepemilikan SIM di Indonesia hanya bersifat formal prosedural. Idealnya ada tiga tahapan dalam rangka kepemilikan SIM. Meliputi ; pra tes, tes dan pasca tes, dimana ketiga fase saling terkait. Pra tes, inilah fase edukasi bagi calon pemegang SIM, maka pihak berwenang perlu dan harus melakukan proses edukasi yang bersifat komperhensif. Sehingga seorang calon pemilik SIM tidak hanya datang saat (katanya) ujian teori dan praktek tetapi sebelumnya sudah melakukan proses belajar. Tak ada tes tanpa fase belajar, begitu kira-kira semboyannya.
Fase kedua adalah fase tes, dimana tes kepemilikan SIM harus berlangsung secara praktis, transparan, komperhensif dan jujur. Tak ada lagi jalan pintas menuju kursi mengemudi. Fase ketiga adalah fase pasca tes. Inilah fase pemantauan, dimana aspek penegakan hukum menjadi sangat penting. Bila perlu ada aturan yang mengatur jumlah maksimal pelanggaran. Jika melebihi jumlah tertentu maka SIM akan dicabut dan pemilik SIM dilarang untuk memiliki SIM seumur hidupnya.

Tentu saja gagasan di atas terasa amat menggantung di awan. Apalagi kerumitan yang ditimbulkan oleh perubahan ini. Undang-undang baru, peraturan baru, mekanisme baru, anggaran besar yang baru, sumber daya manusia baru dan sebagainya-sebagainya. Namun, ikhtiar memperbaiki kondisi bangsa ini rasanya tetap perlu digulirkan. Bukankah budaya berlalu lintas adalah cerminan budaya suatu bangsa..?

Popular Posts