Showing posts with label Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Tokoh. Show all posts

Thursday, October 13, 2011


Di tengah geliat isu reshuffle kabinet yang berhembus kencang dua minggu terakhir. Seorang yang tak terlalu di kenal publik tiba-tiba hadir di Cikeas. Prof. Ali Ghufron Mukti, Dekan Fakultas Kedokteran UGM ini oleh vivanews disebut sebagai “Bintang Baru dari UGM”. Meski ke Cikeas bukan dalam kapasitas sebagai calon menteri melainkan calon wakil menteri namun kalau melihat jejak rekam perjalanan sang bintang baru ini, bukan tidak mungkin sinarnya melebihi sang menteri.

Bintang baru dari UGM ini dikenal reputasinya sebagai pemrakarsa sistem Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) di Yogyakarta, yang kemudian diadopsi pemerintah pusat menjadi Jaminan Kesehatan Masyarakat Nasional. Namun disamping kiprah beliau tersebut dan sebagai dekan FK UGM,. Satu hal yang saya temui dari penelusuran, beliau adalah musuh pengusaha rokok.
13185139951795706388
Source Foto : staff.fk.ugm.ac.id/blog/archives/84 dan wwww.dreamsimage.com (dengan editing)
Mengapa Sang Professor yang meraih gelar doctoral dari University of Newcastle, Australia ini “dimusuhi” para pengusaha rokok ? Memang pengusaha rokok belum terang benerang menyatakan ketidaksukaannya tapi melihat rekam jejak pemikiran dan aksinya ketidaksukaan kalangan industri tembakau nasional akan segera mewujud. Apalagi tak lama lagi beliau akan menjadi orang nomor dua di departemen Kesehatan RI.

Dilema industri tembakau tanah air sudah menjadi perdebatan panjang, antara kemanfaatan dan keburukannya. Namun dalam konteks ini, Prof.  Ali Ghufron Mukti punya rekam jejak yang tegas.
Pertama, pada tahun 1994 Sang Bintang Baru ini merilis hasil risetnya yang berjudul “Smoking and Alcohol Consumption as Risk Factors for Developing Pulmonary Tuberculosis” yang terjemahan bebasnya “Merokok dan Konsumsi Alkohol sebagai Faktor Resiko Berkembangnya Tuberkolosis Paru-Paru” di jurnal Epidemiologi Klinis dan Biostatistik Indonesia edisi perdana Pada tahun-tahun tersebut merilis penelitian yang cenderung menyerang industri tembakau tentu bukan perkara mudah, karena besarnya pengaruh pengusaha tembakau di lingkaran kekuasaan.

Setelah waktu berlalu dan seiring dengan posisinya yang semakin kuat secara akademik dan structural di kampus UGM, ide-ide beliau melawan cengkeraman industri tembakau di masyarakat mewujud dalam aksi-aksi nyata. Juni 2009 beliau menjadi inisiator utam yang kemudian mendorong UGM menjadi kampus bebas rokok, bahkan pihak rektorat UGM ketika itu memberlakukan sanksi bagi yang melanggar. Tentu ini terobosan luar biasa, mengingat larangan merokok di kampus biasanya hanya berhenti pada himbauan yang berujung stiker-stiker larangan.

Tak berhenti pada gerakan sosial itu saja, di saat bersamaan beliau menginisiasi kehadiran Klinik Berhenti Merokok di Gadjah Mada Medical Centre. Beliau menyebut ini solusi sekaligus upaya preventif dan kuratif untuk melawan candu akan rokok. Dapatlah kita bayangkankalau klinik ini menuai sukses dan diadopsi konsep dan metodenya di seluruh Indonesia, berapa banyak perusahaan rokok akan kehilangan konsumen loyalnya.

Puncak dari perlawanan atas industri “asap” ini, tatkala ia sebagai inisiator Jamkesmas mendorong pemerintah untuk tidak menerbitkan kartu Jamkesmas bagi para perokok aktif, karena menurut beliau adalah tidaak adil membiayai kesehatan bagi orang yang menggunakan uangnya untuk merusak kesehatan.

Bagaimana aksi-aksi sang Bintang Baru dari UGM ini setelah menjadi wakil menteri kesehatan nanti, layak kita nantikan.


Referensi :
8. http://www.docstoc.com/docs/21543763/TRANSMISSION-DETERMINANTS-OF-PULMONARY-TUBERCULOSIS-IN-TABALONG-REGENCY-SOUTH-KALIMANTAN-PROVINCE
9. http://nasional.vivanews.com/news/read/255321-ali-ghufron-mukti–bintang-baru-dari-ugm
Salam berbagi..

Wednesday, October 12, 2011




Rajab namanya, aku memanggilnya Ayah, bukan karena hubungan biologis tapi simbol kedekatan dan rasa hormat. Beliau pahlawan lingkungan sejati bagiku, saat lembaga-lembaga dan yang mengaku aktivis dunia membincang isu lingkungan di hotel-hotel mewah dan ruang-ruang megah, beliau menekuni langkah menjaga daerahnya tetap hijau, menghadang dengan jiwanya tiap usaha merusak hutannya dan mengorganisir kawan-kawannya untuk bekerja bersama.

Sosok ini dikenal keras kepala, emosional tapi hatinya penuh kasih. Banyak lembaga donor yang pernah merasakan “bisa” dari ucapan-ucapannya. Tak sedikit lembaga-lembaga lingkungan besar yang mengajaknya bekerjasama justru ia usir mentah-mentah. Hari ini saat dunia meributkan isu climate change dan mengkhawatirkan dampak pemansan global yang kian terasa dari hari ke hari. Media mainstream terus menerus menulis dengan ganas penyebab bumi yang makin panas. Aktivis makin keras bersuara agar kita memperbaiki sikap hidup lebih hijau dengan lekas. Tapi tidak dengan Ayah Rajab, ia tak menulis, ia tak berteriak ia hanya bicara dengan caranya sendiri; berdoa, berbuat dan merawatnya.

Menuju Gampong pahlawan kita ini..

Aku mengenalnya tiga tahun yang lalu dan secara rutin bertemu lebih dari dua puluh kali dengan beliau, aku belajar dari “the real hero ini. Ia hidup di Gampong (sebutan khusus untuk desa bagi desa-desa di Aceh sesuai dengan UU Pemrintahan Aceh) Rantau Panyang, Aceh Jaya tak jauh dari kawasan konservasi Ulee Masen. Tak mudah mencapai daerah ini, butuh niatan yang kuat untuk sampai disini. Dari Banda Aceh kita berkendara sekitar empat jam untuk sampai ke Calang, ibukota Aceh Jaya.

Perjalanan empat panjang ini bukan perjalanan biasa, karena bukan jalan tol bebas hambatan yang kita lalui layaknya di kota-kota besar Pulau Jawa. Bukan pula jalan-jalan protokol yang rapih dan lebar-lebar seperti di ibukota negara. Tapi jalan-jalan yang tak terduga kejamnya. Kendaraan anda harus benar-benar dalam kondisi fit untuk melalui 4 jam perjalanan menuju Calang.

Selama perjalanan kita akan menjumpai jalan beraspal lebar yang enak untuk melajukan kendaraan hingga 100km/jam, kita juga akan melalui jalan berbatu dan berlumpur hingga terpaksa anda menurunkan kecepatan hingga 100km/hari. Tak hanya itu kitapun akan dibuat dag-dig-dug tatkala kendaraan kita harus diangkut dengan “kapal” penyebrangan yang amat sangat mendebarkan (lihat foto). Sungguh empat jam di perjalanan ini tak akan sama dengan empat jam perjalanan di ibukota yang membosankan dan kaku. Disini, aku bisa memandangi monyet-monyet liar bersenda gurau sembari menggoda manusia yang lalu lalang, terpampang pula birunya lautan yang tak berujung rasanya. Kalau beruntung anda bisa mendapati harimau Sumatera (Panthera tigris) menyebarangi jalan.



Pernah suatu malam sepulang dari Calang kami mendapati hal istimewa ini, saying seribu sayang tak terabadikan oleh kamera sederhanaku. Kalaulah anda merasa lapar diperjalanan bisalah kita mampir di Bukit Gruete atau dikenal juga dengan nama Bukit Panglima untuk menikmati mie kepiting khas Aceh yang mahsyur kelezatannya itu. Sungguh perjalanan yang mungkin akan kurindukan sepanjang sisa hidupku.
Setibanya di Calang, kota yang luluh lantak oleh Tsunami 2004 ini, kita biasanya beristirahat sejanak sembari menyeruput kopi Aceh yang terkenal keistimewaannya itu. Konon, ngupi juga bisa fly lho…hehe. Selanjutnya perjalanan dilanjutkan melalui jalanan yang tak ada aspal sama sekali hanya lautan kuning kecoklatan tanah liat yang kita jumpai. Jika musim hujan, bersiaplah berjalan kaki. Dari Calang menuju gampong ayah hanya sekitar satu jam, kalau semua berjalan lancar.

Siapa dan Bagaimana Ayah Rajab ?

Disini, di sebuah gampong yang ada di tepian Sungai Krueng Sabee beliau hidup, tak jauh dari gampong ini sekelompok orang menambang emas secara tradisional di Gunung Ujeeun. Sungai dan hutan yang terancam itulah membuat Ayah Rajab mencoba berdiri tegak dan bersuara atas nama masa depan. Karena beliau sadar betul sungai dan hutan yang ada itulah yang menopang hidup mereka selama ini dan yang dieprtaruhkan adalah masa depan generasi mendatang jika ini rusak.

Dengan berbalut kesederhanaan yang jauh dari logika-logika berat macam REDD (Reducing Emissions from Deforestation and Degredation) yang kerap dibincang atau wacana-wacana pemanasan global beliau mulai bergerak. Ia hanya berpikir bahwa ia berhutang pada anak cucunya nanti. Kata-katanya yang sering saya dengar “kita terlalu banyak menebang baripada menanam, kita telah menanam tapi kita tidak merawat”.

Beranjak dari sana ia dan kawan-kawannya yang sepemikiran, meski tak banyak mencoba menanami kembali sisi kiri kanan Sungai Krueng Sabee yang terancam karena penebangan hutan dan juga aktivitas penambangan. Apa yang ia mulai sejak 2005an ini tentu bukan perkara mudah, ia berhadapan dengan kepentingan pragmatis penambang dan juga penebang yang sebenarnya lebih banyak pihak luar. Sehingga mereka penduduk sekitar hanya kecil saja menerima kemanfaatan dari kerusakan yang mereka saksikan itu. (kelak saya akan menulis pula tentang penambangan emas di Gunung Ujeun).

Tak lebih dari lima orang yang mulanya mau membantu Pak Rajab menanam, darimana ia mendapat bibit pohon ? mulanya ia hanya menggunakan apa yang ada di sekitarnya ia mencoba mengambil bibit bamboo atau tanaman-tanaman lokal setempat yang di tanam kembali. Ia bukan ahli kehutanan, tapi berbekal kearifan lokal yang mengakar dan instingnya ia tahu bahwa memasukkan tanaman baru yang bukan pilihan yang baik. Dalam istilahnya introdusir alien species biasanya akan berdampak hilangnya keseimbangan ekosistem.
Oleh-oleh sepanjang jalan menuju Calang/@huzera

Tak mengenal hari ia bekerja, tak pula mengenal siang dan malam. Bahkan sang istri sering berkata “Ayahmu itu kadang menginggau soal hutan dan sunngai” hati dan pikirannya menyatu dengan laku. Sesuatu yang langka kita temui hari ini. Hati dan laku berbeda, ucapan dan perbuatan tak sama. Pujangga politik dan cerdik cendekia kadang lupa akan sinergi antar laku dan ucap itu. Begitu cinta beliau pada sungai itu, kadang beliau berjam-jam berjalan menelusuri sungai sembari melihat apa yang ia tanam tumbuh atau tidak, kalau nampak akan mati mulailah ia menyulam dengan tanaman baru.

Kini seiring waktu orang-orang mulai percaya atas apa yang ia lakukan, terbentuklah organisasi lokal yang ia ketuai, sebuah organisasi yang memfokuskan diri pada kelangsunngan krueng sabee dari hulu ke hilir. Bahkan kini dukungan terus mengalir kepada organisasi sederhana ini, hanya saja beliau sangat-sangat selektif menerima dukungan. Tak semua lembaga yang ingin membantu ia terima. Awal tahun 2010 lalu, dinas kehutanan Kabupaten Aceh Jaya mempercayakan bibit-bibit tanaman untuk kelompok ini tanam di sekitaran Krueng Sabee.

Beliau juga diberi kesempatan untuk belajar ke Nusa Tenggara Timur, unutk berbagi asah dengan forum daerah aliran sungai yang telah lama berdisi di NTT. Namun, ajakan inipun bukan mudah, ia merasa tka pantas mendapatkan apresiasi itu, ia memberikan kesempatan itu pada anggotanya, namun in the last minutes akhirnya ia ikut berangkat. Alasannya, ia takut anggotanya kelaparan dan tak ada yang mengurus di NTT. Selama di NTTpun ia lebih banyak diam. Bukan karena ia tak mampu berbicara banyak, tapi karena ia malu. Malu karena sekian lama menurutnya mereka lalai akan anugerah air yang dititipkan Tuhan, sedang di NTT dengan air yang sangat sedikit mereka bekerja mati-matian mempertahankannya. Beliau takut termasuk golongan yang kufur nikmat.

Daya pikat Ayah telah melumpuhkan banyak kekeliruanku, aku merasa terlalu banyak berkutat dengan teori bukan aksi, terlalu banyak bersuara tapi terlalu sedikit berbuat, terlampau gandrung akan “gelanggang” tapi lupa memperjuangkannya. Ayah, bukanlah sosok yang mahir berkata-kata indah, hanya berbicara apa perlu saja, ayah tak mampu berteori mutakhir hanya mengatkan kita pada hal-hal yang menjadi dasar kehidupan. Ia pujangga tanpa puisi, ia ilmuwan tanpa gelar sarjana ia bintang di gelanya malam yang sunyi. Ia berjuang dalam sunyi…

Aku tak tahu apa reaksi beliau anda ia tahu kutulis ini, mungkin ia akan marah. Tapi biarlah kuambil resiko itu, terlalu berharga membiarkan kearifan dan kebersahajaan ii berlalu tanpa catatan sejarah. Terlalu banyak yang bisa kita pelajari, semoga kita bisa mengoreksi kejumawaan kita, merasa telah berjasa pada bumi.

Ayah, tulisan ini tak bermaksud mengusikmu dalam perjuanganmu di jalan sunyi itu// sekedar mewartakan pada dunia bahwa kita perlu bergandeng tangan//menundukkan hati dalam kerendahan diri //dan berkaca sembari berkata pada diri sendiri, “kami belum berbuat apa-apa, sedang bumi makin merana” Hanya itu ayah.

Salam berbagi !!

kibas_ilalang

   

Friday, July 29, 2011

                                         Sumber Foto: @Kelompok SEPI

Zaman selalu melahirkan putra-putra terbaiknya. Dedikasi dan karya mereka telah teruji oleh rentang zaman itu sendiri. Yusuf Bilyarta (Y.B) Mangunwijaya salah satu sosok yang karya dan dedikasinya telah mengarungi rentang zaman tersebut.

Lebih dari duabelas tahun pasca kepergian Romo Mangun, semangat yang ia tebarkan seolah telah menjadi semangat zaman. Merasuki mereka yang haus akan nilai-nilai kemanusiaan. Beliau telah menjadi semacam ikon perjuangan bagi para sastrawan pejuang sekaligus intelektual enerjik, yang penuh dedikasi bagi sesama.

10 Februari 1999 beliau pergi menghadap sang pemilik hidup dan kehidupan. Meninggalkan karya yang berlimpah sekaligus mewarisi semangat pemihakan. Kehadiran Romo Mangunwijaya seolah menjawab sinisme publik terhadap dunia sastra. Ketika sastra dianggap tak memberi kontribusi bagi perubahan sosial, Romo tampil dengan karya-karya transformatifnya hingga karya Romo telah menjadi semacam solusi atas kebuntuan hidup.

Menariknya lagi, semangat pemihakan dalam karya-karya sastranya juga dienjawantahkan dalam praktek kehidupan. Pemukiman tepian Kali Code yang mendapat Aga Khan Award for Architecture telah menjadi monumennya.
Spirit pembebasan Romo secara pribadi saya jumpai pertama sekali pada kumpulan esai beliau Tumbal (1994). Kritik terhadap pola pembangunan yang dehumanis dan mengabaikan keberadaan kaum marjinal ditulisnya secara santun dan mendalam. Wajah angkuh orde baru ia telanjangi secara halus, mendetail dan dengan cita rasa sastra yang kental.

Mengungkap kebaikan-kebaikan Romo Mangun tentu bukan harapannya. Beliau tentu lebih ingin kita menangkap semangat yang ia tebar; Pemihakan pada kaum marjinal, pemihakan pada nilai-nilai luhur kemanusiaan dan penghargaan atas keberagaman. Paling tidak tiga semangat itulah yang diperjuangkannnya secara kental, lewat karya-karyanya.

Hari ini tatkala dunia sastra tanah air mekar bak cendawan di musim hujan adakah semangat Romo Mangun tersebut tumbuh ? Sastrawan muda lahir dari hari kehari. Namun, apakah karya yang hadir telah tampil sebagai pembelaan atas nilai kemanusiaan ? Atau sekedar hadir dan hanyut dalam populisme media ?

Rumah Bambu (2000), kumpulan cerpen berserak beliau yang diterbitkan pasca wafatnya. Menunjukkan pemihakan yang jelas atas rakyat kecil (B. Rahmanto, 2001;102). Puyuk Gonggong, yang ditulis di Kedungombo menjadi semacam karya kritik simbolik atas ganasnya orde baru ketika itu. Lalu, Tak Ada Jalan Lain bercerita tentang peliknya hidup yang memaksa “orang-orang biasa” yang dimarjinalkan memilih jalan tak biasa. Menjadi banci demi menghidupi diri.

Begitupula dengan cerpen Hadiah Abang yang bertutur mengenai si Gondek yang mendadak terinspirasi menjadi kernet demi memberi hadiah uang seribu rupiah pada adiknya. Cerpen Pagi Itu juga bertutur soal orang biasa. Mbok Ranu, penggoreng cucur yang bersukarela membantu hidup seorang tukang becak tua.

Lewat cerpen dan esainya Romo Mangun ingin mengangkat kehidupan orang-orang lemah yang dimarjinalkan ke permukaan. Pedih, pelu dan airmata kaum papah digubah menjadi sebuah karya sastra yang menyentuh dan penuh pengayaan bersinergi dengan kelucuan-kelucuan kehidupan sehari-hari. Gaya bertuturnya yang tidak menggebu-gebu membuat cerpen dan esai beliau mengalir begitu alamiah. Bagai dongeng yang dibacakan menjelang tidur.

Tapi Romo tidak ingin semangat pemihakan yang ia benihkan nasibnya menjadi sekedar dongeng. Malam hari di dengar keesokannya telah terkubur. Romo Mangunwijaya mengangkat cerita dengan latar kehidupan sehari-hari yang sederhana itu tentu bukan tanpa maksud. Inilah yang harus kita cari jawabannya.

Sepintas Ia menjadikan karya-karyanya semacam medium permenungan atas kompleksitas masalah kemanusiaan. Ia berusaha menggunakan cermin yang begitu sederhana untuk memotret hal tersebut. Kehidupan kaum marjinal, itulah cerminnya. Selanjutnya, sebagaimana kita ketahui Romo hidup melintasi fase demi fase sejarah. Masa Revolusi ia telah ada (sebelum 1945), lalu masa orde lama (1946-1966) juga orde baru (1966-1998) bahkan Romo sempat mencicipi hidup di era reformasi (1998-1999). Meski demikian hampir seluruh karyanya ditulis di era (1980-1998).

Maka, dapat kita prediksi sesungguhnya Romo lewat karya-karyanya yang kritis dan memihak tersebut sesungguhnya tengah melakukan upaya-upaya transformasi sosial. Bahkan bisa jadi karya-karya sastra yang mengupayakan transformasi sosial macam karya Romo Mangun, Cak Nun, Kuntowijoyo, Umar Khayam telah menjadi salah satu suluh bagi gerakan reformasi 1998.


Sastra Transformatif
Karya sastra di tangan Romo Mangunwijaya tidak lagi sekedar ekspresi berkesenian. Dengan kata lain art not just for art (seni tidak hanya untuk seni). Sastra telah menjadi semacam pendulum perubahan sosial. Bahkan mengutip judul buku yang ditulis Seno Gumira Ajidarma bahwa “Tatkala pers dibungkam maka sastra harus bicara”.

Begitulah adanya Romo Mangunwijaya, tatkala beragam medium demokrasi di Indonesia tersumbat. Pemilu yang tidak demokratis ketika itu, media yang dibisukan, parlemen yang dilumpuhkan dan juga kebebasan berekspresi yang diberangus maka beliau menjadikan sastra medium pemberontakan atas rezim politik yang berkuasa ketika itu.

Transformasi sosial yang beliau lakukan tentu berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Sri Bintang Pamungkas atau Amien Rais di panggung politik. Juga berbeda dengan strategi “perang” yang dilakukan Gerakan Aceh Merdeka atau Fretelin di Timor Timur ketika itu.

Transformasi sosial yang dilakukannya beserta sastrawan seangkatan seperjuangan adalah pembebasan rasa. Dengan kata lain, keasadaran kritislah yang menjadi muara dari karya transformatif yang diusung.

Karya sastra transformatif ini biasanya memiliki ciri-ciri umum. Mengangkat cerita atau latar belakang kisah dari kehidupan sehari-hari dari orang-orang kecil. Lalu, mengandung unsur ironi (idealitas-realitas) serta mengandung unsur kritik atas realitas baik secara implisit ataupun eksplisit.

Jikalau Alamarhum Kuntowijoyo mengarah pada karya sastra profetik (istilah yang dimunculkan oleh Kuntowijoyo sendiri). Maka karya sastra transformatif inilah rasanya istilah yang layak kita sematkan terhadap karya esai dan cerpen Romo Mangunwijaya.

Mengenang delapan tahun kepergian beliau tentu semangatnyalah yang perlu diwarisi. Sastra sebagai medium transformasi sosial sepatutnya menjadi modus perjuangan sastrawan. Romo Mangunwijaya seolah telah menyulutkan lentera bagi perjalanan sastra di tanah air. Lentera itulah hendaknya menjadi pandu di tengah gelapnya jalan.

Sebagai penikmat karya sastra tanah air, terkadang saya merasa takjub atas kelahiran sastrawan-sastrawan muda yang enerjik dan produktif. Mudah-mudahan semangat sastra transformatif juga mereka miliki. Populisme semoga tidak menghanyutkan, semoga halaman surat khabar punya tempat bagi karya semacam ini yang kadang memang tidak populer dan bersebrangan dengan selera pasar.

Akhirnya, “Tuhanku, lapangkan jalan bagi Romo Mangun. Dekap ia dengan cinta kasih Mu, seperti ia mendekap rakyat jelata dengan cinta dan kasih”.

-kibas ilalang-

Thursday, October 26, 2006



"Bangsa itu adalah hasil historis yang ditimbulkan deretan kejadian yang semua menuju ke satu arah. Setelah menguraikan masalah ras, bahasa, agama, persekutuan kepentingan bersama, keadaan alam, Renant menyimpulkan, bangsa itu merupakan keinginan untuk hidup bersama (le desir de vivre ensemble)." Demikianlah Prof. Sunario Sastrowardoyo mengutip Ernest Renant mengawali pidatonya dalam kongres Pemuda 1928.

Secara umum semangat persatuan yang begitu menonjol dari hasil kongres pemuda ini, mengental dalam memori kolektif bangsa ini. Banyak diantara kita mungkin belum tahu bahwa tiga tahun sebelum sumpah pemuda, para pemuda Indonesia juga telah merumuskan sebuah manifesto politik 1925 (selanjutnya saya singkat MP 1925) yang dikeluarkan di Belanda oleh pemuda Indonesia dalam perhimpunan Indonesia di negeri Belanda saat itu. Tentu saja MP 1925 juga ikut memberi landasan bagi kongres pemuda 1928 yang melahirkan sumpah pemuda.
MP 1925 menurut Prof. Sartono Kartodirdjo lebih fundamental dari Sumpah Pemuda 1928 (Kompas, 28 Oktober 2002). Hal ini dikarenakan tiga prinsip dasar dalam manifesto politik 1925 lebih komperhensif dalam melihat permasalahan bangsa saat itu. MP 1925 pada intinya berisi prinsip perjuangan yakni unity (persatuan), equality (kesetaraan), dan liberty (kemerdekaan) sedangkan sumpah pemuda hanya menonjolkan aspek persatuan semata.

Pantas rasanya jika hari ini disaat kondisi bangsa belumlah mencapai formulasi terbaik bagi terciptanya demokrasi, persamaan hak dan kemerdekaan bagi rakyat dalam berpolitik, ekonomi dan budaya. Kita membincang ulang semangat MP 1925 yang notabene merupakan hasil gagasan pemuda-pemuda terbaik bangsa ketika itu. Antara lain Mohammad Hatta dan Sunario.

Prinsip persatuan, kesetaraan dan kemerdekaan sebenarnya secara cemerlang telah dirumuskan oleh para pendiri bangsa ini dalam lima sila (pancasila) sebagai konstruksi atas ide-ide dasar bangsa. Namun permasalahannya, telahkan ketiga nilai dasar itu menemukan bentuknya dalam kehidupan kita sebagai sebuah bangsa ?

Mencoba memahami realitas sosial yang terjadi di Indonesia hari ini, ada beberapa indikasi bahwa spirit perjuangan dalam MP 1925 masih sangat relevan dijadikan sandaran dalam mengatasi berbagai problematika yang dihadapi bangsa. Pertama, persatuan (unity) telah hadir sebagai social bond dalam masyarakat kita. Tak dapat dibayangkan jika heterogenitas yang dimiliki bangsa kita tanpa persatuan tentulah akan menghasilkan konflik berkepanjangan.

Namun, persatuan yang hadir baru sebatas solidaritas kebangsaan, padahal kita membutuhkan lebih dari itu. Mengapa ? karena diakui atau tidak secara ekonomi dan budaya bangsa kita masih menjadi bangsa terjajah. Bayangkan jumlah hutang luar negeri kita menurut laporan Bank Dunia berjumlah sekitar 130 milyar dollar AS pada 2003. Kondisi ini belum termasuk pinjaman lunak pasca Tsunami 2004 di Aceh dan juga gempa bumi di Jogjakarta. Dengan perincian hutang dapat dilihat pada tabel berikut ini.


Table Hutang Luar Negeri Indonesia
(data bulan September 2003, dalam jutaan dolar Amerika Serikat)
Jumlah Total Hutang Luar Negeri 132.762 milyar
Pemerintah 77.093 milyar
- bilateral 28.492 milyar
- multilateral 28.394 milyar
- kredit ekspor 17.539 milyar
- leasing 0.325 milyar
- Komersial 2.343 milyar
Sektor Swasta 53.597 milyar
Sumber : Diolah dari situs Bank Dunia (www.worldbank.org)

Kondisi ini secara umum telah memberikan peluang kepada banyak pihak, khususnya negara ataupun institusi pemberi hutang untuk mengintervensi kedaulatan ekonomi bahkan kedaulatan politik Indonesia sebagai negara berdaulat. Maka bercermin dari semangat MP 1925, sebagai bangsa kita harus memperjuangkan kemerdekaan dari hutang luar negeri.

Sebagai sebuah kolektifitas, persatuan kita harus lebih dari sekedar solidaritas budaya tapi harus mewujud dalam solidaritas perjuangan kebangsaan. Kita harus berani menegaskan posisi kita dalam konteks hutang luar negeri ini. Hutang yang hari ini menjadi beban bangsa kita secara historis juga disebabkan oleh “pembodohan” yang dilakukan oleh pemberi hutang (meski tidak semuanya). Mengapa demikian ? karena mengutip pendapat Richard Lombardi dalam tulisan berjudul Debt Trap : Rethingking the Logic of Development (Southern Economic Journal vol. 53 No. 3 tahun 1987) ada kecenderungan bahwa hutang yang diberikan negara atau institusi donor pada dasarnya merupakan jebakan agar bisa mengontrol pengambilan kebijakan ekonomi dan juga politik di negara yang diberi pinjaman.

Belum lagi jika mau menghitung “hutang” sejarah dan hutang lingkungan (eco debt) negara dunia pertama terhadap bangsa kita, tentu angka hutang kita saat ini tidaklah sebanding. Maka berbekal spirit persatuan dan kemerdekaan, kita sebagai bangsa berhak menolak membayar hutang tersebut bukan mengemis untuk dihapuskan hutang. Meski demikian tentu segala konsekuensi dari keputusan kolektif ini harus pula dipertimbangkan.

Kedua, persamaan (equality). Berefleksi dari MP 1925 sudahkah kita dengan sungguh-sungguh merealisasikan semangat ini dalam kehidupan politik, sosial, budaya dan ekonomi di Republik ini. Sudahkah pelayanan publik bersifat equal antara bupati dan penarik becak, telahkah akses pendidikan sama terbukanya antara masyarakat di pedalaman Sumatera dengan yang ada di kota-kota di Pulau Jawa. Telahkah pula pelayanan kesehatan sama rata, kemudian akses untuk mendapatkan pekerjaan telah merata. Jika sebagian besar atau bahkan semua jawaban atas pertanyaan di atas adalah belum. Sepatutnya kita mencoba mencari alternatif pemecahan.

Prinsip persamaan, kemerdekaan dan persatuan dalam MP 1925 tentu memperkenankan kita untuk mendiskusikan kembali bentuk negara kita. Karena berdasarkan fakta mengenai distribusi kesejahteraan, akses pelayanan publik dan sebagainya, pantas rasanya jika bentuk negara federal atau bentuk lainnya masuk dalam wacana alternatif memecah kebuntuan mengenai distribusi kesejahteraan dan akses bagi semua penduduk Indonesia. Ini sekedar tawaran, untuk menghidupkan diskusi kebangsaan dengan semangat tiga prinsip MP 1925. Semoga berguna dalam kita memaknai 78 tahun sumpah pemuda.

Popular Posts