Sunday, April 6, 2014



“Aku membenci masa lalu !”

            Kuteriakkan kalimat itu sejadi-jadinya. Suasana sepi. Angin yang berhembus pelan dan daun-daun yang tersapu membuat teriakkanku seperti gemuruh.

            Bayang-bayang wajahmu saat mengakhiri hubungan kita membekas dalam, aku benci mengenang itu. Tujuh tahun sudah berlalu, tapi nyeri itu masih berdenyut hingga kini.

            Gelap mulai merapati langit. Mentari mulai rebah. Kilaunya memberi kesan keemasan di dinding candi Cetho. Dua jam sudah aku termangu di pelataran candi yang gagah tapi indah ini. Daun-daun yang tanggal dari pohon-pohon besar di sekitar Candi menjadi semacam teorema senja. Aku mengenangmu, Gita. Walau luka aku tak bisa menanggalkan kenangan tentang kita.

            Andai perpisahan kita tak pernah ada. Petang ini mungkin kita berdua sedang 
menikmati senja disini. Ah, kau sebagai Dyah Gitarja dan aku Cakradhara. Dua sejoli yang mahsyur di masa lalu nusantara. Dyah Gitarja itu ratu bergelar Tribhuwana Wijayatunggadewi, sedang Cakradhara, adalah pejuang cinta. Lelaki tangguh yang merebut cinta Dyah Gitarja melalui kompetisi sengit dengan banyak pemuda.

            Aku memang tak setangguh Cakradhara, tapi aku punya cinta yang tangguh untukmu. Gita, kalau saja dirimu tahu betapa cinta ini tak terperihkan. Ah, sudahlah, tiap cinta punya takdirnya. Semoga kau bahagia, dimanapun dirimu ada dan mengada.

Ilustrasi by : urbansketchers-indonesia.blogspot.com





Popular Posts