Saturday, April 5, 2014

Tawa-tawa renyah diiringi kelakar[i] khas Melayu menjadi pembuka petang. Pembeli berdatangan, senyum-senyum pedagang pun merekah. Tawar menawar menghiasi suasana Pasar Empat Enam. Ya, empat enam. Aneh memang namanya, tapi itu merujuk pada jam bukanya, empat petang hingga jam enam.

Lokasinya di salah satu sudut Kota Jambi, tepatnya di jalan menuju jembatan Aur Duri yang melintasi Sungai Batanghari. Kalau Adzan Ashar usai, keriuhan pun dimulai. Pedagangnya kebanyakan adalah penduduk dari desa-desa sekitar, ada yang datang dari Jambi Seberang ada yang dari Selincah dan lainnya. Dagangannya khas sekali, mulai dari buah yang ditanam di kebun sendiri sampai hasil sungai yang memang menjadi andalan.

Kebanyakan masih dalam keadaan segar-segar dan menarik hati untuk menawar. Beberapa produk pangan yang sangat sulit ditemui di tempat lain justru dengan mudah didapati di pasar ini. Kebanyakan adalah produk khas nusantara dan jadi favorit sebagian kita. Mau tahu apa saja itu ? yuuk kita simak !

Kabau, begitu orang Melayu menyebutnya. Nama ilmiah untuk spesies satu ini adalah Archidenron microcarpum. Bentuknya unik bulat kecil dengan sisi yang melingkar persis ban mobil tapi dalam ukuran yang super mini. Warnanya hitam kecoklatan. Di beberapa tempat di Sumatera kabau juga dikenal dengan sebutan jering. Bahkan di Jambi, tepatnya di Kabupaten Sarolangun ada desa namanya Lubuk Jering, yang artinya di desa itu dulu ada lubuk yang banyak sekali pohon jering. Kalau soal rasa, jangan tanya. Mantap sungguh. Sebagai lalapan teman makan nasi. Rasanya ‘sebelas dua belas’ saja dengan jengkol, hanya saja bentuknya yang mungil membuatnya enak dikunyah sebagai lalapan


Berikut kandungan dalam 100 gram kabau[ii] ;

Jumlah Kandungan Energi Kabau                  = 199 kkal
Jumlah Kandungan Protein Kabau                 = 6,4 gr
Jumlah Kandungan Lemak Kabau                  = 1,1 gr
Jumlah Kandungan Karbohidrat Kabau         = 41 gr
Jumlah Kandungan Kalsium Kabau               = 40 mg
Jumlah Kandungan Fosfor Kabau                  = 108 mg
Jumlah Kandungan Zat Besi Kabau               = 1,8 mg
Jumlah Kandungan Vitamin A Kabau            = 0 IU

Jumlah Kandungan Vitamin B1 Kabau          = 0,03 mg

Wah-wah ternyata si mungil hitam ini punya kandungan energi dan kalsium yang lumayan tinggi ya. Di pasar empat enam ini, kabau biasanya dijual per canting, tapi ada yang menjual perkilo.

Nah, lain kabau lain pula petai atau yang sehari-hari disebut pete. Kalau yang ini sebagian kita pasti sudah kenal, warna hijau dan bentuknya yang khas pasti mudah kita kenali. Ketenaran petai rasanya sudah menusantara, petai hampir dikenal dimana saja. Di Pasar Empat Enam biasanya petai dijual dengan cara yang unik, yaitu digantung berjejer di pinggir jalan sehingga tiap mata yang memandang langsung jatuh hati. Petai ini biasanya dijual per ikat, isinya antara sepuluh sampai dua puluh papan petai.



Terasa asing ya dengan sebutan papan ? begitulah Orang Melayu menyebut petai dalam satuannya. Jadi satu petai utuh itu disebut papan, dalam satu papan itu biasanya ada belasan biji petai. Ayo yang suka petai coba acung tangan ? J Banyak yang malu ya ngaku suka pete ? Yup, benar adanya, konsumsi petai membuat bau mulut kurang sedap. Tapi biasanya akan hilang dengan sendirinya setelah gosok gigi. Kalau kami di tanah Melayu, ada anekdot tentang bau petai ini. “Kalau mau menghilangkan bau petai, makan saja jengkol, pasti bau petainya akan hilang.” J

Ngomong-ngomong soal jengkol, di Pasar Empat Enam tersedia juga. Kalau jengkol, saya yakin kita semua paham kan. Ada semur jengkol, kerupuk jengkol, lalapan jengkol dan berbagai variasi masakan berbahan jengkol kita kenal di tanah air. Oh iya sambal jengkol juga ada. Begitu pun pete, sambal pete juga terkenal. Kalau di Palembang atau Jambi biasanya sambal petai disampur dengan ati ayam atau juga ikan teri. Ehm, maknyuss pastinya. Apalagi di santap dengan nasi yang masih hangat.



Sekarang kita bicara soal ikan, yang jadi andalan Pasar Empat Enam. Ikan-ikan lokal yang begitu khas seperti gabus, tebakang, toman dan juga udang-udangan tersedia disini. Harganya memang lumayan, tapi biasanya konsumen puas karena ikan dna udangnya masih dalma keadaan segar, bahkan sebagian besar masih hidup.

Kita mulai dengan udang, disini tersedia apa yang dikenal dengan udang satang, biasanya kebanyakan kita mengenalnya dengan udang galah. Bukan hanya daging udangnya mantap, tapi galah atau bagian tubuh udah yang menyerupai satang, dagingnya juga lezat. Tapi memakannya harus hati-hati karena ada duri-duri kecil membungkus dagingnya. Ehm, kalau udang ini dijadikan pindang, atau dijadikan menu udang bakar mentega, atau udang saus tiram. Ugh, pastilah yang tadinya tak berselera makan langsung berselera.



Ikan gabus dan ikan toman bentuknya nyaris sama, bersisik dan kepalanya yang lonjong memanjang juga mirip. Perbedaannya biasanya pada warna. Ikan gabus cenderung lebih gelap warnanya, sedang toman agak putih. Dagingnya kerap dijadikan bahan dasar pembuat empek-empek. Ada yang suka empek-empek ? Atau jangan-jangan ada yang belum pernah makan empek-empek ? Wah, kalau belum pernah mencoba, kamu harus coba deh. Dijamin ketagihan.

Nah, kalau ikan tebakang, ini lebih khas lagi. Sudah jarnag ditemui, bentuknya mirip ikan sepat, tapi warnanya biasanya lebih cerah dan duri di dekat kepalanya sangat tajam. Si Sungai Batanghari atau di Musi, ikan jenis ini masih banyak ditemui. Hanya saja, ikan ini biasanya tak terlalu diminati, karena agak sedikit menyimpan bau lumpur di tubuhnya. Memang ikan jenis sepat, betok, atau tebakang kerap menjadi lumpur tempat mereka berlindung.



Pokoknya, kalau kawan-kawan mampir ke Jambi, wajib singgah di Pasar Empat Enam. Memang bukan destinasi andalan wisata di Jambi, tapi kalau ingin merasakan kejayaan pangan lokal kita, ya disini tempatnya. Tempat dimana pangan lokal masih menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Nyaris tak akan kawan-kawan temui produk pangan impor di pasar ini.

***

Jika merujuk pada Undang-undang nomor 18 tahun 2012 tentang pangan, maka kita akan mengenal tiga konsepsi penting ;

Kedaulatan Pangan adalah hak negara dan bangsa yang secara mandiri menentukan kebijakan Pangan yang menjamin hak atas Pangan bagi rakyat dan yang memberikan hak bagi masyarakat untuk  menentukan sistem Pangan yang sesuai dengan potensi sumber daya lokal.

Kemandirian Pangan adalah kemampuan negara dan bangsa dalam memproduksi Pangan yang beraneka ragam dari dalam negeri yang dapat menjamin pemenuhan kebutuhan Pangan yang cukup sampai di tingkat perseorangan dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam, manusia, sosial, ekonomi, dan kearifan lokal secara bermartabat.

Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya Pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya Pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan.

Tiga konsepsi ini memiliki derajat fungsi yang berbeda. Ketahanan pangan lebih berfungsi sebagai sarana memastikan tidak terjadinya kekurangan pangan, darimana sumber pangan tersebut tidak terlalu masalah. Impor atau produk sendiri tak masalah. Sedangkan kemandirian pangan lebih memiliki derajat fungsi yang penting, dalam bahasa lain inilah swasembada pangan. Sebagai negara dna bangsa kita bisa memenuhi kebutuhan pangan kita sendiri. Sedangkan kedaulatan pangan lebih berfungsi politis, semua upaya menjaminkan martabat kita sebagai bangsa prihal pangan.

Tulisan ini lebih mengacu pada kemandirian pangan. Potret Pasar Empat Enam adalah potret sebuah komunitas yang berupaya membangun kemandirian pangan mereka. Mereka menanam atau mencari sendiri produk pangannya dan mendistribusikannya sendiri.

Realitas di Pasar Empat Enam memang nampak sangat mikro, tapi realitas mikro macam inilah yang pada akhirnya membangun realitas makro pangan kita. Di tengah gempuran produk impor, Pasar Empat Enam mencoba melawan. Coba kita pasati jumlah impor produk pangan kita ;

Tabel Impor Produk Pangan Tahun 2012[iii]
Produk Pangan
Jumlah (Dalam Ton)
Nilai (USD)
Beras
1,8 juta
945,6 juta
Jagung
1,7 juta
501,9 juta
Ikan dan Udang
15,8 juta
412,3 juta
Kedelai
1,9 juta
1,2 miliar
Kentang
54,1 ribu
36,4 juta
Garam
2,2 juta
108 juta
Tepung Terigu
479,7 ribu
188,8 juta
Biji Gandum
6,3 juta
2,3 miliar
Singkong
13,3 ribu
3,4 juta
Daging Sapi
40,3 ribu
156 juta

Data di atas belum semua data impor pangan kita. Kita masih jauh dari kemandirian pangan. Ada beberapa hal yang menjadi picu kondisi ini;

Pertama, angka produksi pangan dalam negeri kita belum mampu mengimbangi jumlah kebutuhan dalam negeri.

Kedua, proteksi harga yang tidak dapat lagi dilakukan pemerintah di era pasar bebas. Membuat produk pangan impor kadnag lebih murah dari produk pangan lokal. Intervensi asing dalam kebijakan sektor pangan makin terasa, apalagi pasar bebas mensyaratkan ketiadaan proteksi.

Ketiga, gaya hidup penduduk kita yang lebih senang dan bangga mengonsumsi produk pangan impor.

Tentu masih ada faktor-faktor lain, tapi tiga faktor di atas menjadi picu utama belum berhasilnya negeri kita menjadi negeri yang berkemandirian dan berdaulat dalam bidang pangan. Sebagai konsumen pangan, yang bisa kita lakukan adalah tetap mencintai dan mengonsumsi produk pangan lokal. Sehingga faktor ketiga di atas bisa dikurangi.
***

Kembali ke Pasar Empat Enam. Menelusuri satu persatu bilik-bilik rapuh pedagang di Pasar Empat Enam membuat sebuah kesadaran baru. Kesadaran yang meyakinkanku pangan lokal kita masih berjaya. Kami yang pernah singgah di Pasar Empat Enam merasakan itu dengan nyata.

Pasar Empat Enam seolah menjadi benteng kemandirian pangan kita, semoga benteng-benteng macam ini masih pula berjaya di semua sudut nusantara. Pasar-pasar modern sudah dijejali dengan produk pangan impor, semoga saja entitas macam Empat Enam akan selalu menjadi benteng pertahanan terakhir pangan lokal kita. Masalahnya, konsumen kita hari ini terutama di perkotaan mulai enggan berjibaku di pasar-pasar tradisional macam empat enam. Mereka lebih memilih kenyamanan khas pasar modern yang biasanya dikuasai produk impor.

Pertanyaannya kini, relakah kita menyaksikan produk pangan lokal kita menjadi tamu di negeri sendiri ? kalau tidak ! Mari kita mencintai dan mengunsumsi pangan lokal.




[i] Kelakar adalah sebutan untuk keadaan saling bercanda yang biasanya mengundang tawa dari yang mendengar. Istilah ini banyak digunakan di Sumatera Selatan dan sebagian Jambi.
[ii] Sumber : Publikasi Kementerian kesehatan RI yang ditulis ulang di www.organisasi.org, diakses pada 4 April 2014, pukul 18.55 WIB
[iii] Diolah dari laporan BPS tahun 2013, http://www.koran-sindo.com/node/338484 dan http://beranda.miti.or.id/10-bahan-pangan-indonesia-masih-impor/

Keterangan Photo :

Foto 1 : Kabau/huzer apriansyah
Foto 2 : Petai/huzer apriansyah
Foto 3 : Jengkol/huzer apriansyah
Foto 4 : Udang satang/huzer apriansyah
Foto 5 : Ikan tebakang/huzer apriansyah

Popular Posts