Monday, April 7, 2014



“…meski prihatin, tetapi tidak tanpa harapan. Kita ingin merefleksi,
dimana kita selaku kolektivitas bangsa tersesat ?dan dimana
sebenarnya akar-akar keberadaan Republik Indonesia, serta
esensi motivasi dan watak perjuangan aslinya.
Demi suatu pemikiran ke arah mana rupa-rupanya perbaikan
pantas dan perlu dicari oleh masyarakat dan negara kita”
(Y.B. Mangunwijaya dalam kata pengantar buku Menuju Republik Indonesia Serikat)

***

Gerimis tipis menghentikan laju motorku, singgah sejenak di warung penyedia penganan di ujung jalan. Beberapa ibu-ibu berbincang renyah sembari menunggu pesanan gado-gado dan nasi gemuk khas melayu. Terusik telingaku untuk mendengar percakapan mereka, ibu-ibu bicara pemilu. Seru juga, batinku. Seorang ibu “Kalu kito betino nih meleh caleg betino pulok,” seorang ibu meyakinkan yang lainnya penuh semangat. Kalau kita perempuan harus milih calon legislatif perempuan juga.

Ibu yang lainnya meragukan opini itu. “Ngapo pulok nak milih betino ?” Nada ragu mengiringi pertanyaan itu. “Mano lah wong lanang nak ngerti urusan kito betino. Misalnyo hargo beras naik, kito betino nak padek-padek ngatur duit biar kebutuhan keluarga cukup, lanang manolah tahu. Jadi kalo lanang yang jadi wakil kito, dak peduli nian mereka tuh dengan kenaikan hargo.” (Bagaimanalah kaum lelaki mau mengerti urasan kita perempuan. Misalnya harga beras naik, kita perempuan yang harus pandai mengatur keuangan agar kebutuhan keluarga cukup. Kaum laki-laki mana lah mau tahu. Jadi kalau lelaki yang jadi wakil kita, tak terlalu pedulilah mereka dengan urusan naiknya harga). Ibu itu memberi argumentasi.

Kuseruput teh khas Kayu Aro (Kerinci), ada benarnya juga apa kata ibu itu pikirku. Tak selamanya kaum laki-laki memahami kesulitan perempuan menghadapi kesulitan hidup. Ketika harga-harga melambung, perempuanlah yang merasakan dampak secara langsung. Bukan ingin meletakkan perempuan pada posisi domestik yang tidak adil sebatas sumur-kasur-dapur. Tapi realitas di negeri ini perempuanlah yang banyak bertanggung jawab dalam manajemen keuangan keluarga. Sehingga ketika harga-harga naik, maka perempuan yang pusing tujuh keliling memikirkan bagaimana kebutuhan keluarga semuanya terpenuhi. Sedangkan laki-laki cenderung sedikit tak terdampak langsung dengan keadaan kenaikan harga tersebut.

Hal di atas sekedar contoh bagaimana sensitivitas perempuan terkadang lebih tinggi terkait kebijakan publik yang berimplikasi lebih luas. Kalimat-kalimat Romo Mangunwijaya di atas dan percakapan pagi ibu-ibu di warung penganan telah membuka mataku, bahwa di tengah keterpurukan Indonesia hari ini, tak lantas kita menyerah, melainkan perlu mencari lagi akar kekuatan bangsa ini. Perempuan ! yup perempuan, bisa jadi inilah akar kekuatan negeri ini.

Mengapa perempuan ? sejarah mencatat tokoh-tokoh lelaki begitu dominan dalam perjalanan bangsa ini. Tapi bukan berarti perempuan tak banyak perannya. Masalahnya perempuan cenderung  jauh dari panggung sehingga kerap dilupakan sejarah. Lihat saja pada masa perjuangan kemerdekaan siapa yang menjadi mata-mata efektif untuk pejuang republik, ya perempuan. Meski untuk itu terkadang mereka harus menanggung penderitaan dan malu. Tapi sejarah tak mencatat itu sebaga hal penting, apalagi menisbatkan perempuan-perempuan itu sebagai pahlawan nasional. Belum lagi bagaimana peran perempuan dalam memastikan logistik pejuang. Tapi sayang, mereka hanya menjadi deretan tak bernama, yang dilupakan sejarah.

Coba kita kenang lagi perjalanan kita mulai dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas. Rasa-rasanya tak ada diantara kita yang tak dipengaruhi oleh guru-guru yang sebagian besar perempuan. Makanya istilah “Bu Guru” lebih akrab bagi kita semua tinimbang “Pak Guru”,  resonansinya berbeda. Ada sedikit janggak dengan Pak Guru. Sebagian kita dididik dengan gigih oleh ibu-ibu guru. Lantas, apakah sejarah mencatat itu ? tidak. Seajrah cenderung masih sangat maskulin.

Lantas saya berpikir andai senayan dikuasai tujuh puluh persen saja perempuan, mungkin gedung parlemen kita tak akan mungkin disebut “sarang koruptor” seperti sekarang. Bahwa ada perempuan di parlemen yang terlibat korupsi, iya. Tapi pertanyaannya mereka benar-benar pelaku atau sekedar korban karena ketidaktahuan mereka sedang dimanfaatkan ?

Pada titik ini saya meyakini perempuan memilki potensi mengubah negeri ini. Hingga pada akhirnya menyitir kalimat Romo Mangun “... pemikiran ke arah mana rupa-rupanya perbaikan pantas dan perlu dicari oleh masyarakat dan negara kita” Benar-benar bisa ditentukan secara akurat dan pada akhirnya diimplementasikan secara bertanggung jawab. Saatnya perempuan memimpin negeri ini, bukan sekedar simbolik tapi secara haqiqi.

***

Gerimis hilang, aku pun hengkang dari warung penganan menuju tempat kerja. Sebuah kesadaran baru muncul, kesadaran perempuan di parlemen. Sekian lama aku melupakan akar kekuatan bangsa ini. Kupastikan satu suaraku di DPR untuk caleg perempuan.

Popular Posts