Friday, January 11, 2013



                Nusantara telah terhubung dengan berbagai bangsa di dunia sejak lama[i], manusia dari berbagai penjuru telah menjadikan nusantara sebagai sebuah basis ekonomi. Kolonialisme bangsa-bangsa Eropa telah menarik banyak bangsa-bangsa menanamkan kepentingan dan pengaruhnya di tanah air. Maka, jika berbicara mengenai sejarah nusantara sejatinya tak bisa lepas dari sejarah banyak bangsa di dunia. Di luar bahwa hubungan yang terbangun bersifat eksploitatif namun tetap saja sebagai sebuah fase sejarah hal tersebut menarik untuk diketengahkan sebagai realitas.

            Salah satu bukti sejarah yang masih banyak dimiliki Indonesia adalah pabrik-pabrik gula yang banyak tersebar  khususnya Pulau Jawa. Dalam aspek kesejarahan pabrik-pabrik tersebut memiliki makna yang tinggi sebagai saksi proses panjang kolonialisme di Indonesia. Bicara tentang pabrik gula di nusantara dalam konteks sejarah maka sebenarnya kita tengah berbicara tentang interaksi antara penduduk nusantara, pedagang Eropa dan juga para pebisnis China ketika itu. Tentu saja hal ini jika dikemas dengan menarik akan mengundang minat banyak pelancong yang ingin mengenang suasana romantis historis dari masa lalu peradaban.  

Jika di Indonesia industri gula identik dengan kolonialisme, di Amerika Selatan dan Utara industri gula indentik dengan perbudakan, dan kini sisa-sisa kejayaan industri gula di Amerika Utara dan Selatan tersebut telah dijadikan semacam monumen “hidup”. Monumen yang  menjadi pengingat bagi umat manusia betapa dunia pada masanya pernah berada dalam masa kelam kemanusiaan. Tempat-tempat-tempat tersebut kini banyak dikunjungi orang dari berbagai belahan bumi.[ii]

            Di sisi lain perkembangan pariwisata dunia berlangsung dengan cepat, pergerakan manusia dari satu negara ke negara lain telah menjadi begitu laju dan dalam kuantitas yang besar. Hal ini menjadi sebuah peluang bagi industri gula tanah air terutama PTPN X untuk secara serius menggarap potensi wisata pabrik gula.

Mengapa Wisata Pabrik Gula Menjanjikan ?

            Bicara mengenai potensi wisata pabrik gula maka kita harus melihatnya dari sisi internal dan juga eksternal yang bisa mendorong wisata pabrik gula diminati baik pada level nasional maupun internasional.

Aspek Internal

Paling tidak ada beberapa kekhasan yang dimiliki pabrik gula tua dan tak secara utuh dimiliki jenis wisata lain, yaitu ;

1.      Nilai historis dari pabrik-pabrik gula yang sudah berusia di atas satu abad tentu akan menjadi daya tarik, terutama menyangkut kisah-kisah sejarah di sekitar pabrik tua tersebut. Kisah seputar perlawanan penduduk lokal, kisah cinta antara penduduk lokal dengan para pegawai pabrik yang bangsawan asing, serta berbagai kisah sejarah yang sifatnya humanis dan melegenda pasti akan menarik keingintahuan. Selama ini kisah-kisah di seputar pabrik gula yang melegenda dan hidup dalam keseharian warga cenderung diabaikan. Padahal ini aset berharga, harus dikemas sedemikian rupa hingga bisa menjadi daya tarik wisata.

2.      Arsitektur tua (Heritage) dari pabrik-pabrik gula dan juga rumah-rumah tua di sekitar pabrik adalah aset yang pasti akan menarik perhatian. Apalagi gedung-gedung tersebut dilakukan perbaikan namun tidak mengubah bentuk aslinya. Di sisi lain perlu ada semacam dokumentasi historis menyangkut bangunan-bangunan tersebut. Misal saja untuk rumah-rumah tua di seputar pabrik akan sangat menarik jika didokumentasikan pemilik/penghuni rumah tersebut dari awal didirikan hingga saat ini. Disertai juga dengan sedikit kisah tentang para pemilik rumah tersebut.

3.      Kehidupan komunitas di seputar pabrik merupakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan, terutama wisatawan manca negara. Bagaimana keseharian penduduk lokal terutama mereka yang bekerja di ladang-ladang tebu tentu akan menjadi pengalaman tersendiri bagi wisatawan. Jika memungkinkan ada semacam homestay dimana rumah para peladang tebu dijadikan tempat bermalam, tentu ini akan sangat menarik. Disamping itu, juga bisa menambah pendapatan komunitas.

4.      Unsur mistis yang biasanya lekat dengan pabrik gula tua, disadari atau tidak akan menjadi nilai lebih bagi wisata pabrik gula tua. Ketertarikan manusia akan hal-hal yang bersifat metafisik akan mendorong orang mengunjungi tempat-tempat tersebut. Pada akhirnya bisa saja ada semacam wisata malam yang mencoba mengeksplorasi dimensi mistis di pabrik-pabrik gula tua.

5.      Nilai edukasi juga bisa menjadi nilai tambah dalam wisata pabrik gula. Wisatawan bisa diajak untuk memahami bagaimana proses produksi gula, kemudian juga bisa diajak untuk melihat lebih dekat bagaimana pekerja pabrik gula melakukan aktivitas kesehariannya di pabrik. Di sisi lain wisatawan juga bisa diajak mempelajari konsumsi gula yang tepat bagi tiap individu, resiko kesehatan jika gula dikonsumsi diluar batas normal dan berbagai nilai edukasi lainnya bisa menjadi aset tersendiri.

6.      Unsur romantis historis bisa juga dimunculkan dengan menjadikan kereta tebu (Lori) sebagai salah satu ikon transportasi bagi para wisatawan. Terutama untuk lokasi pabrik yang masih memiliki jalur lori yang baik dan memungkinkan untuk dikembangkan.

            Enam hal di atas jika dikelola secara sungguh-sungguh dan penuh kecermatan menurut saya kelak bisa menjadikan wisata pabrik gula tua sebagai salah satu andalan wisata nusantara.

Aspek Eksternal         

Disamping keunggulan dalam aspek internal yang dimiliki pabrik gula tua, ada beberapa faktor yang secara eksternal bisa membuat wisata pabrik gula menjadi sangat menjanjikan.

1.      Tren wisata dunia menunjukkan heritage, cultural and historical tourism telah menjadi salah satu tren wisata dunia. Onecarribean[iii], sebuah organisasi yang fokus dalam wisata budaya, sejarah dan warisah peradaban menunjukkan bahwa wisatawan untuk kategori ini mencapai 20% dari total angka seluruh wisatawan dunia, artinya ada sekitar 160 juta wisatawan per tahun dalam ketegori wisata ini. Kondisi tersebut baru dari sisi wisatawan mancanegara, belum lagi potensi wisatawan domestik.

2.      Karakter wisatawan dunia terkini menurut laporan dari TOUREG project, Yunani memiliki karakter yang berbeda jauh dengan karakter wisatawan konvensional di decade sebelumnya. Adapun perbedaan tersebut bisa kita lihat dalam tabel berikut :

Approach
Conventional tourism
New forms of tourism
Forms of tourism
ƒ Sun, sea and sand tourism (S3)
Alternative forms of tourism :
ƒ Agrotourism
ƒ Ecotourism
ƒ Cultural 
ƒ Trekking
ƒ Nature

ƒ Mountain (winter) tourism
Special Interest tourism :
ƒ Conference
ƒ Business trips
ƒ Maritime
ƒ Religious
ƒ Health/spa
ƒ Educational
ƒ Sport
ƒ Adventure
Mode of organisatio
ƒ Mass tourism
ƒ Small groups of
ƒ Individuals
tourists
ƒ Social tourism
ƒ Individuals
ƒ Second residence
ƒ Social tourism
Tourist behaviour 
ƒ Indifference
ƒ Responsibility
ƒ High consumption
ƒ Use of resources (not
(depletion of
consumption)
resources)

State of tourism activity
Not sustainable tourism
ƒ Green tourism

ƒ Economically

sustainable tourism

ƒ Sustainable tourism

















             
                  
















Sumber : Vagianni and Spilanis (2004) dalam TOUREG Project[iv] Report 2009
           
            Dua kondisi eksternal yang bersifat global dalam industri wisata secara jelas memperlihatkan bahwa pabrik gula tua punya peluang untuk dijadikan sebuah model wisata alternatif. Apalagi kalau kita cermati tren perubahan kecenderungan pariwisata dunia dari konvensional, wisatwan cenderung menjadikan budaya, sejarah, petualangan dan hal-hal baru lainnya sebagai bentuk wisata yang digemari. Disamping itu pola wisatawan dalam berwisata cenderung makin selektif dan berupaya mencari tujuan (destinasi) baru yang menarik dan bernilai.

            Melihat keunggulan secara internal yang dimiliki pabrik gula sebagai potensi wisata dan juga faktor eksternal kondisi kepariwisataan global, peluang menjadikan pabrik gula sebagai destinasi wisata baru sangatlah menjanjikan. Namun, untuk mencapai itu ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan secara cermat, sistematis dan melibatkan banyak pihak.

Menuju ‘Wisata Pabrik Gula’

            Untuk mewujudkan mimpi menjadikan pabrik gula sebagai salah satu destinasi wisata tentu saja membutuhkan proses yang tak singkat. Paling tidak ada empat fase yang harus dilakakukan, seperti tergambar dalam began berikut;



            Fase pertama adalah mendengar suara komunitas, sebelum melangkah jauh, hal terpenting dilakukan adalah mendapat dukungan dari komunitas. Komunitas yang dimaksud adalah komunitas pekerja, kemudian yang tak kalah penting adalah komunitas masyarakat sekitar pabrik. Suara komunitas menjadi mutlak karena kelak merekalah yang akan menjadi aktor utama dalam wisata pabrik gula. Jika sedari awal mereka tidak dilibatkan maka rasa memiliki mereka akan sangat kecil.

            Fase kedua adalah melakukan studi kelayakan yang sifatnya komprehensif, pada fase ini juga potensi bisnis, unsur wisata dan berbagai aspek digali dan dipertimbangkan secara mendalam. Fase ketiga adalah inisiasi instrumen wisata, setelah diyakini komunitas mendukung, kemudian secara bisnis, sosial, budaya dan sebagainya layak, barulah masuk pada fase inisiasi instrumen wisata. Didalamnya adalah mempersiapkan unsur wisata secara fisik, perbaikan gedung (tanpa meninggalkan arsitektur aslinya), kerjasama dengan pihak travel agent di berbagai penjuru dunia serta yang tak kalah penting adalah mempersiapkan komunitas yang ada di sekitar pabrik gula untuk siap menghadapi kunjungan wisatawan. Setelah fase inisiasi instrumen wisata ini berjalan, barulah masuk pada Fase keempat, yaitu promosi wisata.

Promosi Wisata Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi

          UNWTO (United Nations-World Tourism Organization) dalam laporannya tahun 2011, menunjukkan bahwa peran teknologi informasi menjadi referensi utama wisatawan dalam memutuskan kemana dan bagaimana wisata mereka. Hal ini juga diperkuat dengan riset yang dilakukan oleh Department of Tourism Management Alexander Technological Educational institute dan Technical University of Crete Yunani, dalam laporannya mereka menyebutkan bahwa kehadiran website yang khusus dalam bidang pariwisata telah menjadi picu penting dari ledakan angka wisatawan dunia.

            Disadari atau tidak dunia memang telah semakin dipengaruhi oleh teknologi informasi dan komunikasi. Masih dari laporan yang dilakukan universitas di Yunani tersebut, mereka juga menyebut bahwa kehadiran smartphone ikut mempengaruhi pola pariwisata dunia. Dengan kata lain teknologi informasi dan komunikasi sanagt mempengaruhi wisatawan dalam memutuskan kemana mereka berpariwisata.

            Melihat realitas pariwisata global dan tren yang mengikutinya, maka pilihan yang sangat rasional dan menjanjikan jika kelak pengelola wisata pabrik gula menjadikan teknologi informasi dan komunikasi sebagai basis utama dalam promosi wisatanya. Paling tidak ada dua pertimbangan mengapa jalur ini yang tepat untuk promosi; Pertama, efektifitas promosi. Kedua, minimalisasi anggaran promosi. Daripada harus melakukan pameran wisata kesana kemari dengan anggaran yang cukup besar, maka medium teknologi informasi dan komunikasi bisa menekan anggaran promosi secara signifikan.

            Format promosi lewat media sosial seperti facebook, twitter, dan sebagainya bisa menjadi medium yang tetap dalam berpromosi. Kedekatan antara pengelola wisata pabrik gula dan calon wisatawan bisa diperkuat melalui media sosial. Hal ini juga memungkinkan calon wisatawan berinteraksi secara intensif dengan pengelola.

Bukan Mimpi Kesiangan

            Impian menjadikan pabrik gula sebagai destinasi wisata tentu saja butuh proses tapi jika menimbang hal-hal seperti yang telah disebut dalam tulisan ini, maka bukan impian semusim. Ini adalah sesuatu yang layak diperjuangkan. Lebih dari sekedar aspek bisnis, wisata pabrik gula juga bisa menjadi semacam “monument” bagi umat manusia untuk selalu sadar bahwa bentuk eksploitasi sesame manusia adalah sesuatu yang layak dilawan. Sejarah di sputar industri gula di tanah air bisa membawa pesan tersebut. Di sisi lain dalam konteks nasionalisme, wisata pabrik gula adalah sarana anak bangsa merenungkan sebuah fase perjuangan yang pernah dilakukan anak-anak negeri pada masanya untuk merebut kedaulatan. Pemberontakan di seputar pabrik-pabrik gula adalah dimensi lain dari perjuangan bangsa ini, layak dikenang sepanjang zaman.









[i] Kedatangan awal bansa Eropa tercatat pada awal abad 16 tepatnya (1511), bangsa Eropa yang pertama kalidatang adalah Portugis.
[ii] Artikel : Virginia Mescher , “HOW SWEET IT IS!” A HISTORY OF SUGAR and SUGAR REFINING IN THE UNITED STATES, 2005.
[iii] Sumber : http://www.onecaribbean.org/content/files/CulturalCaribbeanNicheMarkets-5.pdf
[iv] TOUREG project adalah sebuah proyek yang mengupayakan sebuah inovasi bagi pengembangan wisata yang dilakukan oleh Department of Tourism Management of the  Alexander Technological Educational Institute of Thessaloniki, Greece and the Technical University of Crete, Greece

Sunday, January 6, 2013




Biafra, nama yang samar saja terdengar olehku dari puisi-puisi yang ditulis-tulis Gie atau dari catatan pinggir Gunawan Muhammad, atau juga dari catatan-catatan sejarah pahit kemanusiaan yang berserak di teks sejarah. Adalah Chimamanda Ngozi Adichie, penulis perempuan Nigeria ini mampu membawa kembali secara sangat detail dan jelas sebuah kenangan pahit tragedi perang saudara yang berujung bencana kelaparan di Nigeria era 1960an tersebut. Sebuah tragedi yang sudah seharusnya selalu kita kenang agar ingat betapa perang adalah tragedi yang selalu lebih banyak unsur kepiluan daripada kesenangan baik bagi pemenang maupun yang dikalahkan.

Satu juta lebih orang tewas dalam perang saudara ini, pembantaian di Utara Nigeria yang menewaskan 30 ribu orang menjadi penanda dimulainya pernag saudara. Dilanjutkan kembali dengan kudeta atas kudeta yang kemudian membawa sensitivitas kesukuan dan keagamaan juga terpantik. Meledaklah sebuah sejarah kelam bagi Nigeria yang kaya. Bangsa-bangsa penjajah bersorak sorai menikmati ini semu.

Angka-angka yang lahir dalam statistik perang penaklukan Biafra oleh tentara Nigeria yang disokong banyak negara adikuasa tentulah hanya akan menjadi statistik yang tercatat rapih dalam lembar sejarah dunia. Kalau saja tak ada orang seperti Adichie yang mencoba melakukan rekonstruksi sejarah secara lembut dan dalam sudut pandang mereka yang benar-benar terlibat dalam menit ke menit tragedi tersebut.
***
Perang selalu membawa perpisahan dan perjumpaan dalam momen yang bersamaan. Bagaimana ibu kehilangan anan, istri kehilangan suami, adik kehilangan kakak, paman kehilangan keponakan, kekasih yang kehilangan pujaan hati dan sebagainya-dan sebagainya. Di saat bersamaan satu sama lain saling berjumpa, perjumpaan yang sama dalam sebuah penderitaan, ketakutan dan juga dalam sebuah perjuangan bersama. Perang bukan sekedar nyawa yang pergi dengan ringan dan tak berharga, tapi tentang manusia-manusia yang kehilangan dirinya, manusia yang tak lagi mengenal dirinya. Itulah perang !

“Half of a Yellow Sun”, sebuah novel yang hadir bagaikan puisi yang kaya emosi. Mampu mewakili tiap perasaan manusia-manusia yang terlibat dalam tragedi itu. Tokoh-tokoh dalam novel benar-benar mampu mewakili jiwa zaman itu. Ollana, Ugwo, Odegnibo, Kainene, Richard, Madu, Mohammaed dan puluhan tokoh lain dalam novel ini sungguh-sungguh hidup dan mewakili masa itu.

Membaca “Half of a Yellow Sun” yang begitu detail, sempurna dan begitu indah benar-benar membawaku berada di Diafra, membuatku kulitku seolah benar-benar berada di barak-barak pengungsian, mencium aroma busuk dari kulit-kulit pengunngsi yang tersentuh air, menyaksikan sendiri anak-anak Biafra berlari-lari mengejar tikus atau cicak untuk dimakan, atau berada di bar menyaksikan para tentara Nigeria atau milisi Biafra ‘memangsa’ para gadis, bahkan aku seolah hadir ikut mengantri tepung maizena yang dibagikan utuk para pengunngsi. Novel yang banar-benang luar biasa, agung !

Di luar pencapaian novel ini sebagai sebuah karya sastra, novel ini adalah sebuah monumen. Monumen yang akan selalu menjadi penanda bagi kehidupan umat manusia hari ini bahkan sejuta tahun lagi bahwa manusia selalu memiliki hasrat mengusai baiks ecara individual maupun kolektif. Maka perebutan apapun dalam kehidupan dunia ini rasanya sebuah kemutlakan. Lalu, bahwa perang adalah sebuah kepiluan yang menyakitkan itu benar, tapi bahwa perang juga telah menuntun manusia pada pengalaman-pengalaman yang menakjubkan juga hal yang tak bisa dinafikkan.

Bagiku novel “Half of a Yellow Sun” adalah sebuah perayaan atas kemanusiaan. Perayaan yang senantiasa menjaga memori kolektif umat manusia akan busuknya persekongkolan elit dunia yangs emata-mata berpikir laba sedang orang-orang biasa berkaparan meregang nyawa dan tak mampu lagi mengenali siapa diri mereka.

Bacalah novel ini sebelum mati !
Bintang lima untuk novel ini.

*Ilustarasi by www.jaguda.com




Wednesday, January 2, 2013

       Ilustrasi, image by : Huzer Apriansyah (2010)


Membincang soal kampanye penggunaan kondom bagi kelompok beresiko, selalu akan mengundang perdebatan. Paling tidak ada tiga kelompok besar yang ada di negeri ini; Pertama, mereka yang menolak sama sekali kampanye penggunaan kondom, argumentasi utama kelompok ini adalah argumentasi religius. Kelompok kedua adalah yang meyakini bahwa penggunaan kondom adalah salah satu “senjata” ampuh mencegah penularan penyakit menular seksual (PMS) dan juga HIV-AIDS. Kelompok ketiga adalah kelompok yang tidak peduli sama sekali akan kehadiran kampanye penggunaan kondom bagi kelompok beresiko. Kelompok terakhir ini jumlanya tentu tidak sedikit.

Pada kelompok yang pertama dan kedua tentu saja memiliki basis argumentasi yang sama kuatnya. Masalah justru pada kelompok yang ketiga, mereka yang tidak tahu dan tidak peduli ini. Justru merekalah yang punya resiko tinggi terkena HIV/AIDS dan PMS. Dalam sudut pandang saya sebagai orang awam, realitas bahwa pengidap HIV/AIDS itu terus bertambah adalah sebuah fakta yang sulit diingkari. Maka, memang harus ada langkah yang sifatnya kolaboratif dalam mencegah meluasnya penderita HIV/AIDS.

Langkah kolaboratif itu harus melibatnya banyak pihak, paling tidak yang masuk dalam elemen langkah kolaboratif tersebut adalah :

1.  Kelompok agama harus bekerja keras untuk memahamkan pada pemeluknya untuk menjauhi zina atau pergaulan bebas. Ini akan mengisi sisi preventif dalam dimensi moral.

2.   Kelompok ilmuwan sosial, perguruan tinggi, pemerintah dan lembaga sosial masyarakat harus secara gigih pula memahamkan pada remaja dan juga orang dewasa mengenai dampak sosial yang ditimbulkan dari hubungan seks pra nikah. Di sisi lain pihak-pihak ini harus ikut mendorong peran keluarga sebagai basis pembentukan identitas dan karakter anak. Hal kedua ini termasuk dalam usaha preventif dalam dimensi sosial.

3.  Kelompok penggiat kampanye seks sehat (penggunaan kondom) tetap harus mengupayakan kampanye tersebut secara massif terutama kepada kelompok yang sangat beresiko. Hal ini bisa kita sebut sebagai usaha preventif dan kuratif dalam dimensi medis.

Dunia yang Tak Hitam Putih

Permasalahannya, ego lintas kelompok inilah yang sulit disatukan. Ada kelompok-kelompok yang menganggap kampanye kondom atau yang sejenis adalah bentuk kampanye atas seks bebas itu sendiri. Karena secara tidak langsung berusaha melegalkan seks bebas. Namun, dalam pandangan sederhana saya, dunia tidak bisa dilihat terlalu hitam-putih. Karena faktanya dalam sejarah agama-agama, agama kerap tidak mampu secara seratus persen menggaransi perilaku umatnya. Selalu ada penyelewengan perilaku umat.

Pertanyaannya apakah para penyeleweng ini harus dibiarkan terus terperosok, bahkan ditasbihkan sebagai orang yang layak mati karena perilaku selewengnya. Benarkah agama memahaminya demikian ?

Jika jawabannya tidak, maka tak ada alasan untuk melakukan pembiaran terhadap kelompok beresiko secara seksual. Untuk itu, mari kita lihat realitas dari statistik-statistik berikut

Kita mulai dengan melihat data 35 negara yang angka penderita HIV/AIDSnya tertinggi di dunia versi CIA Factbook 2011:

Tabel 35 Negara Dengan Angka Penderita HIV/AIDS Tertinggi

           Sumber : Diformulasi ulang dari CIA World Factbook, 2011 dan
           
Indonesia ternyata berada di urutan ke 21 dengan angka penderita HIV/AIDS sebanyak 270 ribu jiwa. Ini belum seberapa, jika kita menggunakan data terbaru yang dirilis UNAIDS dalam global report 2012, Indonesia berada di urutan ke 13 dengan 380 ribu penderita, berikut tabel 20 negara dengan penderita HIV/AIDS tertinggi versi UNAIDS :


                          Diolah dari : UNAIDS Report on the Global AIDS Endemic, 2012


Berikut dapat pula kita saksikan peta negara-negara dunia dengan tingkat populasi penderita AIDS.

                                  Sumber : Wikipedia.org (last modified 29 Desember, 2012)

Statistik di atas menunjukkan pada kita bahwa ancaman HIV/AIDS terhadap masa depan peradaban global dan Indonesia pada khususnya bukanlah isapan jempol belaka. Tinggal permasalahannya, maukah kita lebih bijak melihat permasalahan ini, tidak sekedar hitam putih. Anggapan bahwa penderita adalah para pendosa yang layak mendapat kenistaan dan hukuman, rasanya tak bisa dijadikan pijakan. Karena faktanya banyak penderita HIV/AIDS bukanlah para pendosa; anak yang diwarisi oleh orang tuanya, mereka yang secara tak sengaja terkena jarum suntik yang terinfeksi dan berbagai kemungkinan penyebab lainnya yang tak bisa dikatakan bahwa mereka pendosa.

Kalau saja mereka memang pendosa, apa lantas layak dibiarkan begitu saja ? Rasanya tidak. Maka, tak ada pilihan lain bagi dunia dan bangsa kita juga tentunya untuk melakukan langkah yang kolaboratif dan berkesinambungan untuk mencegah makin meluasnya penderita HIV/AIDS.

Berlomba-lombalah Dalam Kebaikan

Fastabiqul khairat (berlomba-lombalah dalam kebaikan), begitu Al Quran mengajarkan pemeluknya. Di luar apakah kemudian yang dilakukan itu benar atau salah, tapi paling tidak selama upaya tersebut diniatkan untuk kebaikan, mengapa tidak dicoba. Kalau ada yang meyakini bahwa kampanye penggunaan kondom sebagai sebuah langkah preventif, maka ini layak diapresiasi, jikalau ada yang tak setuju maka lakukan hal yang bisa menjadi konter atas langkah yang dilakukan pihak lain.

Jangan menghabiskan energi dengan debat berkepanjangan yang tak ada ujungnya, jangan pula saling menistakan kelompok. Jauh lebih baik berlomba dalam kebaikan. Apa yang dilakukan berbagai pihak dengan menggelar “Pekan Kondom Nasional 2012” lalu yang mengundang penolakan dari beberapa pihak (bacadisini dan disini) juga layak diapresiasi sebagai usaha kolaboratif mencegah penyebaran HIV/AIDS. Jika ada yang tak setuju dengan kampanye seperti ini, maka lakukan kegiatan pembanding yang muaranya sama, mencegah penyebaran HIV/AIDS. Sehingga energi kita tidak habis hanya untuk saling menyerang dan menjatuhkan.

Pada akhirnya, mengutip kalimat Barrack Obama,
“The best way to not feel hopeless is to get up and do something. Don’t wait for good things to happen to you. If you go out and make some good things happen, you will fill the world with hope, you will fill yourself with hope.”

Maka, saatnya kita mengusahakan kebaikan bersama. Apapun strategi dan langkahnya selama hal tersebut bermuara pada kebaikan, maka layak kita apresiasi. 


Tuesday, January 1, 2013


Sebuah buku yang mengalir begitu lembut, penuh dengan gagasan-gagasan religius yang metafisis. Namun, balutan romantis menjadikan semua berbingkai begitu syahdu. Meskipun kisah ini berujung bahagia, namun ada sesuatu yang justru muncul bahwa tiap pilihan menjadi bahagia sekalipun tetap menyimpan kepahitan. Begitu pesan yang kutangkap.

Si Tepi Sungai Piedra.." telah menyegarkan ingatanku betapa sejauh apapun manusia melangkah, kenangan masa kecil akn selalu menjadi teman paling setia. Betapa besar pengaruh masa kecil akan membuat sebesar apapun pencapaian seakan sanggup ditukarkan untuk merengkuh kembali masa-masa itu.

Coelho sungguh apik menemali detik demi detik kisah. Meski aku merasa ada beberapa titik yang meloncat, tetapi sebagai pembaca, aku stak menggubrisnya, terlalu hanyut dalam kisah.

Kisah ini telah pula "menghasutku" untuk menulis sebuah kisah, begitu hebat Coelho menstimulus pikiran dan hati pembacanya. Kisah ini terasa ganjil tapi meski ganjil semua terasa begitu hidup dan nyata. Irasional tapi membuai. Mungkin hal itu senada dengan makna cinta dalam kisah Pilar dan sang pendeta muda. Cinta mereka berdua tampak begitu tak rasional tapi terasa begitu alamiah. Mungkin begitulah sesungguhnya cinta.
 
Di luar segala sisi baik buku ini, ada saja sisi yang membuatku "ill feel", kisah ketika di dalam gua dan orang-orang berjumpa dengan "Sang Perawan", sungguh-sunguh mengingkari akal sehatku, sulit aku menerimanya. 

Secara umum novel ini Bintang Tiga ( * * *)

Khatam pada 27 Agustus 2012


 ______

Adalah kebiasaanku membuat semacam catatan kecil di ujung buku, saat selesai membaca sebuah buku. Selsai disini, maksudnya bisa benar-benar khatam atau menyerah membacanya karena tidak tertarik mengkhatamkannya. Akhirnya untuk sekedar berbagi, aku akan mencoba menuliskan catatan-catatan tersebut di blog ini.

Friday, March 30, 2012



Democracy means government by uneducated while aristocracy means government by badly educated (Chesterton, 1931)

Sejarah preman di nusantara bukan sebuah kisah seluas Sungai Musi. Bisalah kita sebut seluas Samudera Hindia. Akar sejarah premanisme telah ada sejak kerajaan-kerajaan tua nusantara dan terus bersenyawa dalam tiap episode sejarah negeri. Ketika demokrasi menemukan momentumnya di republik kita, penggiat (baca aktivis) kelompok-kelompok preman itupun mendapat ruang ‘bermain’ yang makin meluas.
Kepentingan pragmatis kelompok-kelompok preman nusantara, terutama yang berbasis di ibukota tiba-tiba bersinergi dengan kepentingan pragmatis politis para elit politik nasional. Di lokus lokalpun kelompok yang berbasis di daerah mendapat peruntungan dari liberalisasi politik. Tali temali kepentingan antara elit politik dan elit preman inilah yang mengekalkan simbiosis mutualisme antara keduanya. Tak hanya itu, korporasi juga ikut berperan menyuburkan kelompok-kelompok preman di nusantara. Kepentingan penjagaan aset dan pengamanan investasi telah pula melibatkan kelompok-kelompok preman. Bahkan hipotesa yang sangat ‘berani’ juga menyebutkan bahwa aparat keamanan ikut bermain dengan kelompok-kelompok tersebut.
Kompleksitas hubungan berbagai kelompok kepentingan di atas menjadikan peran kelompok preman dalam berbagai macam ‘cover’nya (misal : kelompok kedaerahan) menjadi sangat strategis. Tak heran jika beberapa nama pentolan preman tiba-tiba menjadi aktor politik dan atau aktor bisnis di era reformasi. Tulisan ini tak mencoba mengulas nama dari aktor-aktor tersebut, namun mencoba melihat bagaimana posisi kelompok-kelompok preman tersebut memainkan peran sosial dan politik mereka saat ini.
Premanisme di Era Demokrasi yang “Terbeli”
Hipotesa Gilbert Keith Chesterton di awal tulisan ini, hadir lebih dari delapan puluh tahun yang lalu. Namun, dalam konteks Indonesia hari ini, demokrasi yang menjadi pondasi kehidupan politik nasional telah tersandera oleh pragmatisme yang cenderung mereduksi demokrasi sebatas kursi kekuasaan semata. Di sisi lain, marjinalisasi kepentingan publik juga terjadi.
Rekruitmen politik sebagai salah satu proses penting dalam demokrasi kini terdistorsi menjadi sarana aktualisasi kepentingan-kepentingan elit semata. Di sisi lain, komersialisasi suara dalam Pemilu telah ikut menjadi faktor perusak substansi demokrasi. Kondisi ini bisalah kita sebut government by uneducated, seperti hipotesa Chesterton di atas.
Pada titik inilah, kelompok-kelompok preman dengan segala tamengnya menjadi sangat dibutuhkan. Semakin semrawut sebuah tatanan sosial dan politik dan semakin tak berfungsinya institusi hukum formal, maka semakin besarlah peluang kelompok preman dibutuhkan.
Sebelum lebih jauh membincang prihal preman dan premanisme, mari kita lihat definisi preman secara etimologis. Dalam kamus online Bahasa Indonesia (www.kamusbahasaindonesia.org) kata preman memiliki tiga definisi (1) partikelir; swasta; (2) bukan tentara; sipil (tentang orang, pakaian, dsb); (3) Sebutan kepada orang jahat (penodong, perampok, pemeras, dsb). Meski awalnya kata preman berakar pada kata vrijman (Bahasa Belanda) yang berarti orang bebas dan cenderung bermakna “netral”. Namun, seiring perkembangan kondisi sosio-kultural yang mengitari entitas preman di Indonesia, maka kata preman mengalami peyorasi. Jadilah identik preman dan kejahatan.
            Permasalahan sosial makin meluas manakala kelompok preman tersebut mendapat ruang sosial dan politik yang luas dan di sisi lain penegakan hukum oleh negara makin melemah. Memang terasa berlebihan jika kita sebut negeri ini, negeri para preman. Tapi indikasi bahwa kelompok-kelompok “gelap” yang beroperasi mengintervensi berbagai dimensi kehidupan berbangsa dan bernegara mengarah para premis, negeri ini negeri preman. APBN dan APBD seolah menjadi bancakan bagi kelompok-kelompok gelap tersebut.
            Belakangan ini perbincangan tentang kelompok-kelompok preman kembali mengemuka. Publik seolah disadarkan bahwa kisah mafia a la Holywood itu ada dan nyata di negeri kita. Pertanyaannya kemudian sejauhmana kehadiran kelompok preman tersebut berimplikasi pada tereduksinya nilai substansi dari demokrasi, yang terus mencari bentuk idealnya di negeri kita.
Pseudo Democracy
            Judul tulisan ini memang terasa terlalu dramatis, dan seolah menisbikan pencapaian-pencapaian proses demokratisasi yang bermula sejak 1998. Namun, jika kita mau secara kritis melihat kondisi demokrasi terkini. Maka, kita bisa menemukan beberapa fakta yang sangat merisaukan, terutama menyangkut keberadaan kelompok-kelompok preman di tanah air.
            Pertama, dibajaknya proses demokrasi oleh sekelompok elit. Determinasi elit yang berafiliasi dengan kelompok preman telah dengan terang benerang menjadikan kekuasaan sebagai sarana untuk mengumpulkan sumber daya ekonomi.
            Kedua, dalam upayanya meraih kursi-kursi kekuasaan, elit politik telah dengan sistematis menjadikan kelompok preman sebagai salah satu ‘mesin’ mobilisasi politik. Pola persuasi sekaligus intimidatif juga digunakan untuk mobilisasi massa.
            Ketiga, kolaborasi kepentingan antara kelompok preman, elit politik dan pengusaha telah ikut menjadi kekuatan besar dalam libaralisasi politik di negeri kita.
            Kalaulah kondisi ini kita lihat sebagai sesuatu yang alamiah dalam liberalisasi politik, maka sadar atau tidak kita tengah mengantarkan demokrasi di negeri ini ksebagai pseudo democary (demokrasi semu). Jika ini terjadi maka demokrasi pada akhirnya akan sangat bermuara pada kapital. Demokrasipun akan berbias menjadi arena pertarungan modal. Lalu dimana posisi kepentingan publik ?
            Kepentingan publik tentunya akan terkubur, dibalik politik balas budi dan politik bancakan (berbagi kue pembangunan). Pada titik inilah dengan terang benerang kita bisa melihat bagaimana kelompok-kelompok preman bisa menjadi aktor kunci dalam proses politik di negeri ini. Maka, tak heran jika kelompok-kelompok ini berkembang dan terus tumbuh bak cendawan di musim hujan. Kemana mereka berpihak ? pastilah kepada siapapun yang membayar mereka. Mereka akan tampil sebagai anjing penjaga yang setia pada siapapun yang memberi mereka makan. Demokrasipun terancam, salah-salah negri kita karam.

           
             

Wednesday, March 21, 2012


Temaram senja di awal bulan ketiga
Saat wangi buah-buah bergetah menggelayuti udara
Senyum-senyum lebar terbentang dari wajah polos kehidupan

Alangkah senang hati menghayati tiap bulir senyum mengalir
Sembari melafalkan abjad-abjad cinta yang bergulir

Hatipun berayun kala mendengar lantunan kata terbata-bata
Dari bibir-bibir lugu kehidupan

Kalaulah hidup adalah kumpulan harapan
Kami disini adalah onggokan yang dilupakan
Harapan seperti sebuah ilusi yang lalu lalang
Dan pada akhirnya hilang

Abjad yang bergulir
Kata yang terbata
Senyum yang mengalir
Dan semangat yang terkata
Sesungguhnya penawar
Ilusi yang lalu lalang

(Doc : Huzer Apriansyah)


Sako Tulang, 9 Maret 2012
Sejenak usai belajar bersama dengan bebudak Rimba di Rombong Depati Bepak Ngarap, Sako Tulang. Barat Taman Nasional Bukit Dua Belas

Friday, February 3, 2012


Hentakan halus roda B 737-200 di landas pacu menjadi penanda kehadiranku di negeri baru. Layaknya kehadiran di sebuah negeri baru, misteri dan rasa ingin tahu taut-bertaut dalam hati. Sejumput asa di ruang belajar barupun menyeruak. Gelisah, tentu saja ada. Namun kali ini, aku tak lah hendak berkisah detail-detail gelisah nan personal itu. It’s more about something that make me confuse, is Indonesia as an entity truly exist ?

Ah, ayak-ayak wae ! Indonesia, itu jelas dan pasti, jangan dipertanyakan lagi. Final sudah ! Iya juga ya, tiap hari kita dengar, kita baca, bahkan kita ucapkan kata itu, “In-do-ne-sia”. Indonesia sudah menjadi semacam sesuatu yang tak terbantahkan, mutlak ! Sedari kecil kita sudah sepakat Indonesia itu final, bukan begitu ? Kalau anda tak sepakat. Pernahkah anda mempertanyakan apa itu Indonesia ? Entah mengapa, di negeri baru ini tiba-tiba “Indonesia” menjadi sesuatu yang sumir dan begitu absurd di mata ku. *Ah,janganlah didramatisir sungguh, bray ! Sungguh, saya tak sedang mendramatisasi. Coba dengar kisah ini, kawan..!

***

Entah harus mulai darimana, selalu sulit memulai kisah tentang negeri kita ini. Karena tak mudah menuliskan kisah tentang negeri yang sejarah dan perjalanannya dipenuhi distorsi dan fakta yang ‘bengkok’. Bahkan, seorang kawan yang hidupnya berkutat dengan keresahan-keresahan tentang negeri ini, menyebut Indonesia itu sepenuhnya sebuah ilusi. Bisalah kita bilang pendapat itu sebaris dengan analisa Ben Anderson; Indonesia itu sebuah imagine community. Sahabat satu lagi lebih ekstrim lagi, Indonesia itu Jakarta, selebihnya anak pungut. Ehm, makar itu ! hehehe.

Baiklah, tak lah hendak aku menyeret teori dan konsepsi yang rumit dan ruwet seputar negeri ini. Mari membincang Indonesia dari tiga fragmen berikut ini saja ;

Fragmen #1

Sinar matahari menerabas segaris ubun-ubun, angin bertiup lembut saja saat kumasuki mobil ‘taksi’, taksi ini jangan dibayangkan sebuah mobil sedan dengan logo ‘taxi’ di atasnya dan dilengkapi argo. Ini mobil pribadi biasa saja dengan plat hitam, tapi tetap disebut taksi, karena mereka mengangkut penumpang dengan bayaran tertentu. Usman, nama pengemudi itu. Logat Melayu kental terasa. ”Bang, bolehkah tak pakai AC saja” Kalimat pembukaku dengan Bang Usman dalam perjalanan.

Perbincangan pun berlanjut, mulai dari keyakinan Bang Usman bahwa Anas Urbaningrum akan lengser dari demokrat 1, sampai ke isu selingkuh salah satu bupati yang juga mantan artis di daerahnya. Ya, standar saja pendapatnya. Tak lebih replikasi dari opini-opini media yang memang berseliweran. Sampai pada sebuah kalimat dari Bang Usman “Mano pedulilah orang macam kami nih, mau apo tejadi di Jakarta tuh…” Tet tot, ucapan itu membuatku tersentak sejenak. Kalau saja ucapan itu kudengar dari masyarakat dimana konflik yang bernuansa separatis terjadi, mungkin bisa dimengerti dan beralasan. Tapi ini, di sebuah tempat yang jaraknya hanya satu jam saja dari ibukota via jalur udara, dan dikenal tentram dan tenang. Luar biasa sungguh rasanya.

Ada dua hal menarik yang bisa kita tangkap. Pertama, Bang Usman mengidentifikasi dirinya dengan ”kami” dan orang-orang yang di Jakarta seolah sebagai ”mereka”. Ada semacam jarak psikologis disana. Layaklah jadi pertanyaan lanjutan. Mengapa dan bagaimana jarak itu hadir, sehingga seakan-akan antara ‘kami’ yang ada di daerah ini dan ‘mereka’ yang di Jakarta sana berbeda ? Padahal, bukankah semua adalah Indonesia. Ah, mungkin saja Indonesia itu sungguh ilusi saja.

Sepanjang perjalanan sekitar 40 menit itu, banyak kisah yang ia selorohkan. Jelas sungguh bahwa ia begitu bangga dan bahagia menjadi orang daerah itu. Kkupancing Bang Usman dengan membandingkan daerahnya dengan keberhasilan sang kota tetangga, Palembang. Terekam olehku rasa jengkelnya dia. Nadanya yang meninggi dan kata… ‘tapi…’ dan ‘tapi…’ berulang kali meluncur. Entahlah, apa mungkin karena sentiment konflik lama antara Palembang dan kota ini karena memperebutkan lokasi pusat kerajaan Sriwijaya, atau apa, aku tak tahu pasti.

Kedua, kalimat-kalimat yang mengalir dari Bang Usman seolah merepresentasikan inferioritas daerah mereka atas ibukota “iyolah..itukan Jakarta”, “Ah, dak heran Jakarta tuh…” Awalan-awalan macam itu kerap kudengar dalam selorohnya. Kesan yang tertangkap meski sepintas, ada kebencian disitu, ada antipati dan juga ada semacam dendam. Terlalu gegabah sih, menarik kesimpulan atas peristiwa sekilah itu.

Satu yang pasti, pertemuan singkat itu memberi bekas tentang jarak “kami” dan “mereka”. Kalau dipikir-pikir benar juga seloroh Bang Usman sang pengendara taksi bandara itu. Jakarta itu Indonesia dan Indonesia itu Jakarta. Daerah seolah menjadi ornamen belaka. Ah, mungkin ini berlebihan saja. Bukankah otonomi daerah itu sebuah solusi konkrit dan nyata-nyata berhasil !Well, bukannya tak menghargai inisiatif Otda, tapi jauh panggang dari api rasanya kalau mau bilang otda berhasil.

Dominasi, keangkuhan dan bahkan arogansi “Jakarta” dalam banyak dimensi kehidupan kita berbangsa dan bernegara seolah membuat Indonesia itu bagai keping-keping puzzle. Jakarta, itu bisa berarti pemerintah pusat, kultur masyarakatnya atau bisa berarti apa saja. Sulit memahaminya sepintas saja. Tapi cukuplah untuk membuat bertanya ”Indonesia itu apa sih ?”

Fragmen #2

Semilir angin senja menepak-nepak daun jendela rumah khas Melayu. Posisi rumah panggung dengan tiang-tiang tinggi itu membuat angina semakin asyik menepak daun jendela. Tapi telinga dan mataku tak terusik banyak. Konsentrasi dan fokus tetap tertuju pada sosok berkacamata yang tak pernah lepas senyum itu. Kiprah sosok satu ini, kisahnya telah bergulir hingga ke negeri-negeri jauh. Keteguhan dan dedikasinya telah mengantarkan beliau menjadi antropolog dengan spesialisasi orang rimba (Suku Anak Dalam). 15 tahun lebih ia dan lembaga tempatnya berkarya berjuang dan belajar bersama dengan orang rimba sembari mencari celah bagaimana eksistensi orang rimba bisa tetap ada di tengah ancaman kehancuran ‘rumah’ hidup mereka, rimbo (hutan).

Tulisan ini tak hendak membincang sosok bernama Robert Aritonang ini, mungkin lain kali saja. Tapi, sebuah penjelasan dalam presentasi beliau tentang program di Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNDB) yang saya dengarkan dua hari lalu sungguh mengusik hati ini.

“Hampir semua orang rimba yang tua-tua saya tanyakan tentang masa depan mereka, semua menjawab gelap. Tak ada masa depan, hanya menunggu mati saja…”

Entah mengapa rasanya terhenyak saja. Sulit rasanya membayangkan manusia bisa hidup dalam ketiadaan harapan. Ancaman kehilangan ruang bermukin yang mengintai tiap saat, sumber pangan yang sangat terbatas dan keterdesakan ruang akibat kehadiran perkebunan, permukiman penduduk umum dan juga pertambangan.

Mendengar uraian Bang Robert mulai dari bangsa colonial yang mempersepsi orang rimba sebagai manusia yang berjalan tegak namun tak bisa berbicara sehingga dianggap sebagai rantai yang hilang dalam konsepsi Darwin tentang evolusi, hingga kisah Orang Rimba yang mulai menghadapi kehilangan ‘rumah’ manakala Orde baru membuka habis hutan dimana orang rimba bermukim untuk transmigrasi. Identitas kerimbaan orang rimba pun mengalami krisis, hidup Orang Rimba pun di ujung tanduk. Apa usai orde baru, keterancaman Orang Rimba menjadi usai ? tentu tidak. Korporasi perkebunan kini menjadi momok baru mereka…

Apakah orang rimba peduli dengan apa itu Indonesia ? entahlah saya tak bisa menduga-duga. Butuh waktu untuk menjawab hal itu. Atau jangan-jangan atas nama Indonesia itu pula mereka kehilangan ‘rumah’ mereka ? Tiba-tiba Indonesia itu menjadi sesuatu yang gelap rasanya usai mendengar Bang Robert bertutur. Timbul pertanyaanku ”Perlukah Indonesia itu ?”


Fragmen #3

Sinar matahari pagi yang menerabas lorong jendela kamarku membentuk siluet di tembok putih. Sementara matahari diam-diam meninggi, segerombolan semut seperti biasa berbaris rapih mengangkut sisa-sisa cemilanku semalam. Rapatnya barisan semut itu membuat mereka Nampak jalan di tempat, tak bergerak. Menatapi mereka berbaris dalam waktu lama membuat pikiranku jadi gila. Iya…gila..benar-benar gila.

Bayangkan saja, tiba a/ku bertanya pada mereka “Woi semut, kalian butuh Indonesia tidak ?” *saran saya jangan pandangi parade semut terlalu lama, kalau anda tak mau gila seperti saya _Don’t try at home, okay !
Beruntung kegilaan itu tak berlangsung lama, andai saja kegilaan itu kekal. Tamatlah saya..! Tunggu-tunggu..Apa itu gila ? *Kayaknya dugaan saya salah, kegilaan saya belum benar-benar hilang rupanya. Arti gila kok ditanya-tanya. Gila itu edan, sedeng, ora waras. Itukan persamaan kata saja, gila itu sendiri apa ? Saya tak mau sulit-sulit membawa definisi teoritis tentang gila itu. Sederhana saja, kalau anda sadar anda gila, maka anda tidak gila. Kalau anda mengira anda tidak gila, mungkin anda sedang gila. Mengapa bisa demikian ? Kenapa juga harus ada pertanyaan mengapa demikian, pernyataan saya tentang definisi gila itu, ngawur 17 keliling, jadi tak usah ditanya ini itu, pokoknya titik aja. Sykur-syukur ngawur 17 keliling itu ada benarnya.

Soal gila dan ngawur 17 keliling itu apa pula sangkut pautnya dengan Indonesia. Begini-begini, konsepsi gila itu kan absurd, sumir. Contoh, apa menurut anda Orang Rimba atau juga Orang Baduy dengan pola dan cara hidup mereka yang berbeda jauh dengan ‘hidup normal’ manusia modern itu gila ? Saya yakin tak sedikit yang berpikir demikian. Orang Rimba disebut pula Kubu, nah konotasi Kubu itu kerap identik dengan kegilaan atau orang Jawa bilang ora umum. Di Sumatera Selatan dan sekitarnya misalnya, jika ingin memaki seseorang sebagai orang aneh atau gila biasa mereka berujar begini “Dasar kubu nian kau nih…”. Tapi, tunggu dulu, bisa jadi orang rimba justru menganggap manusia macam kita inilah yang gila.
Nah, absurd dan sumirnya pemaknaan gila itu sama absurd dan sumirnya dengan makna Indonesia kita hari ini ?

Kadang-kadang jadi agak berdebar-debar kalau pikiran kotorku melintas, jangan-jangan Founding fathers bangsa kita ini saat merumuskan Indonesia sebagai Negara Unitarian(persatuan) itu sedang dalam kondisi mabok. Saya khawatir mereka baru saja disuap petinggi-petinggi Jepang yang kalah perang dengan berbotol-botol sake (minuman tradisional Jepang) sehingga Nusantara yang tak punya alasan untuk bersatu dipaksa menjadi satu dalam entitas bernama “Indonesia” itu.

Kalau soal semut berbaris tadi adalah ngawur 17 keliling, maka soal founding fathers bangsa ini mabok saat merumuskan Republik Indonesia ‘unitarian’ adalah ngawur 77 keliling. Jadi tak perlu disusul dengan pertanyaan-pertanyaan tambahan. Titik aja deh. Toh, ini ngawur 77 keliling, syukur kalau-kalau ngawur 77 keliling ini bisa membuat kita jadi bertanya ”Haruskah Indonesia Unitarian ini dipertahankan ?”

Monday, January 23, 2012

Kasar sekali lelaki tua itu memaksakan empat lembar bergambar Diponegoro masuk ke dalam tubuhku. Jari-jari keras lelaki setengah abad itu seolah tak peduli mau seperti apa bentuk kertas berharga itu jadinya. Dia memang bukan lelaki biasa, godfather begitu orang-orang menyebutnya. Bukan sehari dua aku bersamanya, lima tahun sudah.

Lima tahun aku berada di tumpukan bagian bawah. Kawan-kawanku sudah lama pergi, semakin tinggi berada di tumpukan makin cepat pergi. Entah untung, entah buntung, aku berada ditumpukan bawah. Jadilah aku pergi belakangan. Dulu kami bertumpuk-tumpuk hingga bermeter-meter. Mungkin tahun ini kami semua akan meninggalkan ruang kerja lelaki tua berbini lima itu. Entah untung, entah buntung, aku termasuk yang terlama berada di rumah megah ini. Kalau tak salah hitung pelayannya saja ada dua puluh tiga. Jaringan telponnyaada lima, perempuan cantik molek juga datang dan pergi entah berapa kali dalam sehari. Taklah aku tahu status mereka.

Jelang perayaan sakral seperti hari-hari ini, lelaki tua bertato naga itu akan lebih banyak di ruang kerja ini. Bertas-tas berisi rupiah dibawa oleh lelaki-lelaki kekar yang kukira-kira adalah pengawal. Berhari-hari The Godfather itu memasukkan sendiri lembar demi lembar rupiah itu. Konon, ia tak mau dewa-dewa tertukar menilai kebaikannya, maka ia lakukan sendiri ritual kebajikan itu.

Entah untung, entah buntung. Lima tahun aku berkesempatan melihat dan mendengar banyak hal di ruang kerja pengap dan agak berdebu ini. Tentu tak masuk akal, lelaki super kaya dengan banyak anak buah itu membiarkan ruang kerjanya pengap dan berdebu. Semua tumpuk menumpuk di ruang berukuran tak lebih dari lima meter persegi itu. Semua kertas-kertas disana nampaknya penting sekali. Kutahu itu dari ucap-ucap lelaki tua itu, “Jangan ada yang berani masuk ruangan ini tanpa izin saya” Kalimat itu selalu keluar tiap kali pengawalnya menemuinya di ruangan ini.

Entah apa yang membuatnya sangat melindungi ruangan ini. Pernah suatu kali kusaksikan sendiri seorang gadis molek dengan kulit halus dan mata sempit mencoba masuk ke ruang ini. Alang kepalang marahnya, dua tamparan mendarat di wajah belia nan jelita itu. Tak tahulah siapa perempuan muda itu, bisik-bisik yang kutahu ia didatangkan dari negeri leluhur sang tuan. Istilahnya barang cungko’. Bukan lokal pokoknya.

Adakalanya lelaki mandul tak beranak itu, membawa kawan-kawannya ke ruang pengap ini. Bukan kawan-kawan biasa tentunya. Hanya orang-orang luar biasa yang bisa masuk ke ruang ini. Sebagian mereka berpangkat, sebagian lagi saudagar yang menyebar di sepanjang benua. Tak jarang para jawara juga berkumpul di ruang sempit itu. Aneh memang sang tuan ini, semua keputusann penting katanya harus lahir dari ruangan ini. Ia hanya akan membuat keputusan penting baik itu menyangkut uang, nyawa bahkan politik, ya di ruang kecil ini.

Suatu hari, tahulah aku mengapa sebegitu penting dan sakralnya ruangan ini. Hari itu seorang pria berbadan tegap dengan baju serba coklat dan tiga bintang melekat dibahunya bertanya pada lelaki setengah abad itu mengenai mengapa ruang kerjanya seperti ini. Lelaki tua setengah abad itu dengan mata berkaca menjelaskan, bahwa ruang ini adalah kamar pertamanya ketika tiga puluh delapan tahun lalu menjejak kaki di ibukota. Dari Singkawang ia datang, tanpa keluarga tanpa tujuan. Berbekal uang dua belas ribu di kantong ia menyewa kamar. Di kamar itulah ia memulai hidup di ibukota.

Semua tak mudah pada masa awal itu. Begitu lelaki setengah abad itu melanjutkan kisahnya di kesempatan lain. Kala itu yang datang seorang jawara yang menguasai dunia gelap di ibukota. Ia memulai langkah di ibukota dengan mengumpulkan kardus bekas di Mangga Besar sana. Tiga tahun melakukan itu, uang hasilnya hanya cukup untuk menyewa kamar kecil ini dan makan sekali dua sehari. Sampai suatu hari ia ditawari bekerja di sebuah toko elektronik terkemuka. Tak butuh waktu lama, ia menjadi orang kepercayaan pemilik toko. 

Tujuh tahun usai itu, mulailah ia menapaki sendiri bisnisnya. Alang kepalang besar bisnisnya, tumbuh seiring pergaulan baiknya dengan banyak orang penting. Mulai dari penyedia perempuan telanjang sampai penyelamatan harimau ia lakukan. Tak kurang dari seribu kaki tangannya memasarkan serbuk putih nikmat di tiga puluh dua negara di dunia. Tak terelakkan kaya rayanya tuan besar kami ini. Cukup empat belas tahun saja ia melarat, sisanya ia mendekati takdir sebagai dewa. Bisa menentukan hidup matinya seseorang, bisa menentukan siapa yang memimpin dan siapa yang kalah.

Ah, entah untung, entang buntung. Lima tahun tergeletak di ruang pengap ini. Aku mulai lupa darimana berasal, untunglah ditubuhku tercantum tempat dimana aku dihadirkan. Tak jauh dari sini asalku. Di sebuah pabrik kertas di Semarang aku diciptakan, yang kutahu bahan bakuku saja didatangkan dari anak benua Asia, wewangian yang menyelimuti tubuhku dibawa dari negeri Gujarat sana. Lima tahun aku disini wangiku tak hilang. Bersama puluhan ribu lembar kawan-kawan, kami terdampar di rumah the godfather. Entah untung, entah buntung.

Pernahlah tiga tahun lalu, kami ketakutan tiada ampun. Tuan besar tiba-tiba masuk ruang ini tengah malam, ia hendak membakar kami semua, tak terkecuali apapun disini. Untung saja seorang lelaki tegap dengan empat bintang di bahunya datang. Ia berjanji akan menghabisi seseorang yang membuat tuan besar kami sangat marah. Tuan besar kami dituduh macam-macam oleh orang itu. Marah betul dia. Akhirnya, sebuah foto ia serahkan ke lelaki tegap berbintang empat itu. Seorang lelaki berkacamata dengan kamera di tangan menggandeng seorang anak lelaki kecil. Dua hari dari kejadian itu, tuan kamipun tersenyum lebar sembari membaca sebuah koran. Ah, tenanglah kami, tak jadi dibakar. Gambar lelaki dengan darah di kepala tercetak di Koran itu..

Entah untung, entah buntung. Lima tahun di ruang pengap ini membuatku merasa dekat dan mengenal tuan besar kami ini. Meski aku tertumpuk di bagian paling bawah, tapi aku dengan mudah bisa mengamati tiap peristiwa disini. Diam-diam aku lebih mengenal lelaki setengah abad itu tinimbang teman-teman setumpukanku.

Malam ini, malam terakhirku. Warna merah menyalaku belum pudar sedikitpun meski aku ditumpukan paling bawah, wangi tubuhku pun belum terkuras. Hanya sedikit debu yang menyelimuti. Entah kemana besok aku akan berlabuh. Tapi lima tahun di ruang pengap ini membuatku tahu banyak hal. Tak seperti kawan-kawanku yang memlih tak peduli. Aku begitu tertarik dengan kisah-kisah yang ada menyangkut tuan besar. Mungkin karena aku tertindih di tumpukan paling bawah, jadilah aku mencoba menghindari sakitku dengan memperhatikan kisah dan cerita tuan besar itu.

Tuan besar sama sekali tak peduli dengan kami, hanya saat-saat perayaan seperti ini saja ia tiba-tiba mengelus-elus kami. Memasukkan lembar-lembar bernilai itu dengan tangan kasarnya sendiri. Antara penasaran dan rasa sedih, malam terakhir ini aku tak bisa terlelap. Esok hari aku akan dibawa ke tempat sembayang, usai itu aku tak thau lagi kemana nasibku. Setahuku tiap dari kami pergi tak ada satupun yang kembali.
Aroma di ruang ini sangat kuhafal, bahkan aku mulai hafal tiap sudutnya. Dimana tuan besar meletakkan peluru pistolnya, dimana ia menyimpan pena pemberian presiden dan dimana ia menyimpan foto-foto perempuan pujaan hatinya, aku tahu semua. Tak terkecuali kertas-kertas berharga bernama saham atau apalah itu. Aku hafal dimana ia meletakkannya. Meski aku tak pernah bercakap-cakap dengan penghuni ruangan ini. Tapi aku tahu pasti bahwa mereka semua istimewa di mata tuan besar kami. Paling tidak seminggu sekali mereka disapa tuan kami. Berbeda dengan kami, setahun sekali saja.

Entah untung, entah buntung. Lima tahun aku bersama lelaki setengah abad itu. Esok aku akan pergi. Ah, apa yang akan terjadi, terjadilah.
***

Pagi-pagi sekali tuan besar kami telah terbangun. Lebih pagi dari hari-hari biasa. Baju indah dipenuhi hiasan naga ia gunakan. Warnanya pun terang menyala. Wewangian khas negeri leluhur sang tuan besar juga tecium semerbak. Kamipun ia letakkan di tas kecil yang ia bawa.

Kali pertama ini aku melihat dunia lain. Dalam sebuah mobil cantik dengan jendela-jendela lebar dan pint-pintu yang banyak kami digeletakkan saja di jok. Tuan besar ditemani istri tuanya, yang tentu saja tak semolek gadis-gadis bermata sempit yang biasa ia pandangi di foto-foto yang tersimpan di ruangan itu. Tak lama kemudian sampailah kami di tempat sembayang

Wooow, ramai sungguh tempat sembayang ini. Orang-orang berkerumun, warna warni busana mereka, tua muda, laki-laki perempuan, semua bergerombol. Di depan pintu tempat sembayang itu, anak-anak kecil berbaju kumal berbaris panjang. Entah apa yang mereka lakukan. Tuan besar kami masuk ke ruang tengah tempat sembayang itu. Ia bakar sesuatu yang berbentuk lidi, lalu khidmat berdoa. Tak lama hanya beberapa menit saja. Entah apa yang ia doakan.

Semua orang di tempat sembayang itu seperti mengenali lelaki setengah abad itu. Tak sedikit di antara mereka mencium tangan tuan besar kami ini. Usai memasang kertas doa di pohon doa, tuan besar kami bergegas keluar. Di antara anak-anak berbaju kumal itu kini ia berdiri. Satu persatu di antara kami diserahkan ke anak-anak itu. Sekarang giliranku.. Sebuah tangan halus tapi legam menggenggamku sekarang. Anak itu berwajah bulat dan bermata besar dengan rambut lurus tak terurus. Sementara itu, tuan besar yang kukenal selama lima tahun itu kian menjauh. Pelan tapi pasti mobil tuan besar kami tak nampak lagi.

Di tangan anak kecil inilah sekarang takdirku. Ternyata aku bukan yang pertama ada, tiga kawanku telah lebih dulu tiba di kantong anak kecil ini. Usai satu lagi kawan kami datang, kantong anak kecil berbaju kumal itu penuh. Berlari riang, pulang dia. Di depan sebuah rumuah kecil berhimpit, dengan halaman yang tergenang air anak itu memanggil seseorang. “Emak…mak, aku banyak dapat angpao ini..” Dari tangan anak kecil itu, kini aku berpindah ke tangan seorang ibu yang tak bisa dibilang muda tapi belumlah terlalu tua. Dari tangan perempuan itu kami digeletakkan di atas sebuah meja kayu yang lapuk. Tepat di samping sebuah dipan tua yang kayu-kayu penopangnya mulai tak kokoh. Dinding kamar itu bukan dari dinding semen seperti tempat tuan besarku dulu. hanya triplek tipis saja, angin kurasakan menerobos masuk dari sela-sela triplek yang tak rapat.

Ah, disini rupanya takdirku akan berakhir. Selintas kulihat sebuah foto terpajang di dinding kamar ini. Ya, foto yang sama dengan yang pernah kulihat tiga tahun lalu, di ruang gelap milik tuan besarku.

Gong Xi Fat Chai
*Teruntuk Pak Boss TiWi

Sunday, January 1, 2012



1325378739745273436
                                                      Sumber Foto Disini

Terik siang ibukota, tiga hari jelang hari raya Idul Fitri 2010 lalu. Saya duduk di depan blok A pasar Tenabang, menanti ibu berbelanja. Selintas perhatian saya tertuju pada seorang pedagang kantong plastik yang menggunakan tas kecil yang ia tempeli foto dirinya yang sedang berdiri bersama Gus Dur. Karena tertarik sayapun berusaha berbincang dengan remaja yang nampaknya belum genap 20 tahun itu. Ternyata, foto bersama Gus Dur itu ia dapat ketika mampir ke pondok pesantren yang dipimpin Gus Dur di Ciganjur. Di mata remaja itu, Gus Dur itu legenda. Pemimpin yang paling dekat dengan orang kecil, begitu katanya.

Note : Tulisan ini cukup panjang, bisa jadi membosankan dan butuh “pencernaan” yang dewasa untuk membacanya..Dipersilahkan kalau mau berhenti sampai titik ini saja. :)

“Kehadiran” Gusdur di Tenabang tidak hanya lewat foto di tas kecil pedagang kantong plastik itu saja. Gus Dur juga menjadikan Tenabang sebagai salah satu obyek humornya. Coba simak humor presiden jenius kita tersebut ;

Pernahlah suatu hari Gus Dur mengundang Presiden Amerika Serikat dan Perancis terbang bersama Gus Dur keliling dunia dengan pesawat kepresidenan RI 1. Boleh dong, memangnya hanya AS dan Prancis saja yang punya pesawat kepresidenan.

Seperti biasa, setiap presiden selalu ingin memamerkan apa yang menjadi kebanggaan negerinya.
Betul dugaan Gus Dur, tidak lama Presiden Amerika, saat itu, Bill Clinton, mengeluarkan tangannya ke luar pesawat. Sesaat kemudian dia berkata, “Wah kita sedang berada di atas New York.”
“Lho kok bisa tau?” tanya Gus Dur.
“Ini patung Liberty saya pegang.”

Presiden Prancis Jacques Chirac tak mau kalah. Dia ikut mengulurkan tangannya ke luar pesawat. “Kita sedang berada di atas Paris,” katanya.
“Wah… kok bisa tau juga?” kata Gus Dur.
“Itu… menara Eiffelnya, saya bisa sentuh.”

Gus Dur panas mendengar kesombongan Clinton dan Chirac. Kali ini giliran Gus Dur yang menjulurkan tangannya.
“Wah… kita sedang berada di atas Tanah Abang,” teriak Gus Dur.
“Lho kok bisa tau?” tanya Clinton dan Chirac heran karena tahu Gus Dur tidak bisa melihat.
“Ini jam tangan saya hilang,” jawab Gus Dur kalem.

(Sumber : Kumpulan humor Gus Dur www.gusdur.net)

Kedekatan orang-orang kecil di Pasar Tenabang, juga Nampak ketika Masjid Pasar Tanah Abang di blok A menggelar pengajian mengenang kepergian Gus Dur, ketika beliau wafat. Bagi banyak orang kecil, Gus Dur memang sosok yang sulit dilupakan. Bagaimana beliau melakukan desakralisasi atas istana. Semua orang bisa masuk istana ketika masa pemerintahan Gus Dur. Istana rakyat, begitu istilah Gus Dur ketika itu.

Ini Tentang Gus Dur dan TW
Lah, lalu apa hubungan judul tulisan ini “Ada Gus Dur di Tenabang” yang seolah menyamai judul reportase Tempo “Ada Tommy di Tenabang ?” pada 3 Maret 2003 (03-03-2003) tanggal penting bagi perjalanan sejarah media di Indonesia itu. Benar, memang ada hubungannya. Gus Dur layaklah kita sebut sebagai presiden pertama republik ini yang secara terbuka dan sangat jelas menyebut Tommy Winata (TW) sebagai pemilik usaha judi dan usaha illegal lainnya.

24 April tahun 2000, di sebuah dialog terbuka di SCTV bersama Karni Ilyas. Terang benerang Gus Dur menunjuk hidung TW sebagai pemilik bisnis judi di Pulau Ayer, Kepulauan Seribu. Kapolripun diperintahkan segera menutup dan menangkap TW, ketika itu.

Berikut petikan komentar Gus Dur ketika itu
“Itulah yang terjadi hari ini. Saya mendapat laporan bahwa ada pulau di Teluk Jakarta, Pulau Ayer, dipakai untuk perjudian. Karena itu, saya minta kepada Kapolri untuk menutup dan mengenakan tindakan hukum kepada para pelakunya. Ini bukan karena saya setuju atau tidak setuju, tetapi karena itu melanggar undang-undang,”

Disusul dengan pernyataan berikut ;

“Begitu juga saya dengar, di dekat situ ada kapal laut yang dipakai untuk berjudi. Lagi-lagi ini melanggar hukum, karena ada cukongnya, yaitu Saudara Tommy Winata. Saya minta kepada Jaksa Agung untuk menyita kapal itu dan menangkap Tommy Winata, karena ia melanggar hukum. Kalau kita tidak berani demikian, artinya kita semua bisa dibeli. Karena itu, saya mengharapkan, kita semua tunduk kepada hukum. Idealisme hokum atau institusi akan tegak hanya karena kita laksanakan secara konsekuen secara bersama-sama,”
(Sumber : Baca disini)

Meski kemudian Gus Dur tak mampu menyeret sang taipan ke pengadilan, tapi pernyataan Gus Dur itu telah membuka mata publik. Apa yang terbuka ? ya, kita tahu sama tahu sajalah..Githu saja koq repoot…(pinjam istilah Gus Dur). Di samping itu, ada pula media yang menyatakan Gus Dur mencabut pernyataan tentang TW ini. Ah, saya tak peduli. Karena apa yang sudah terlempar ke publik akan terekam lama, apalagi yang melempar orang sekaliber Gus Dur.

Tulisan ini tentu tak bermaksud membangun opini tentang TW, sama sekali tidak. Sejauh ini, beliau baik dan bersih. Anda tak setuju ? ya terserah anda. Mungkin kalau sebelum melempar pernyataan itu Gus Dur nonton dulu film “Year of Dragon“ yang disutradarai Michael Cimino, mungkin kisahanya bisa lain. Film itu berkisah tentang seorang polisi idealis yang bersih, berjuang melawan triad China di New York yang banyak melakukan kegiatan illegal, mulai dari perjudian, pelacuran, penyelundupan imigran gelap hingga ekspor impor narkoba. Apa daya hingga akhir kisah polisi idealis itu tak berkutik, justru ia kehilangan istri tercintanya. Kekasihnyapun diperkosa. Beruntung Gus Dur hanya kehilangan posisi presiden (ini jelas-jelas cuma becanda saya saja.)

Ilustrasi di atas tak lantas menyimpulkan bahwa TW sama dengan kisah di atas lho..sama sekali saya tak berniat dan tak berani. TW, setahu saya dari media yang menulis kisah sukses dan baik tentangnya. Bahwa Ia adalah sosok yang berjuang keras, jujur dan berkemauan kuat. Itu kunci suksesnya. Jauh dari apa yang dulu dituduhkan Gus Dur. Itu yang saya baca. Kalau anda punya kesimpulan lain, ya itu urusan anda…
1325378859512787729
TW, Menhut dan tim/Antara Foto

Bagaimana mungkin kita menyebut TW itu jahat, ketika ia dengan sungguh-sungguh menyelamatkan hutan dan satwa di Sumatera melalui Artha Graha Peduli. Sudah banyak harimau Sumatera yang dilepas liarkan. Wajar TW sangat akrab dengan menteri Kehutanan, visi mereka sama. Menyelamatkan lingkungan lho…Jangan dikira macam-macam. Kalau anda berpikiran macam-macam, resiko anda tanggung sendiri. Berprasangka buruk pada orang baik itu tak baik dan tak aman.

Banyak sudah kontribusi sang Taipan pada negeri ini. Ia peduli dan perhatian pada nasib negeri ini. Kok bisa-bisanya Gus Dur kelepasan omong ya ? (tar..tar..percaya enggak..percaya enggak..*ngitung kancing baju dulu..) Bahkan kalau saja Gus Dur tahu, sekarang Artha Graha juga punya keinginan menjadi tulang punggung pembangunan jembatan selat Sunda. Luar biasa kan ? Terhubung nantinya Sumatera dan Jawa. Tepatkan visi Sang Taipan, Beberapa pulau di Kepulauan Seribu sudah behasil diberdayakan, hutan di Lampung telah diproteksi ratusan hektare untuk konservasi dan nanti ada jembatan penghubung.

Apa bukan sebuah visi yang luar biasa. Lancarlah lalu lalang apa saja dari dan menuju Jawa ke Sumatera. Masukin apa saja jadi mudah kan ? Tak salah kalau TW kerap disebut pengusaha yang cerdas dan visioner. Jadi, anda salah betul kalau mengira kelancaran transportasi ini berkaitan dengan narkoba atau sejenisnya. Bisalah saya sebut anda keterlaluan.

Ah Gus Dur memang ada-ada saja..Anda tetap setuju dengan Gus Dur, walau saya sudah jelaskan hal ini ? Terserah sajalah, susah memang kalau anda tak mau dibilangin. TW itu bersih. Gak bisa ditawar itu. Lho, koq jadi ngomongin TW..maaf-maaf terbawa judul nih..

Rindu Kami Pada Gus Dur

Kembali ke kisah Gus Dur yang menunjuk hidung TW itu memang tak (belum) terbukti. Saya justru melihat apa yang dilakukan Gus Dur melampaui keberanian dan logika pemimpin pada saat itu. Gus Dur melampaui zaman, begitu kurang lebih. Substansi yang dilakukan Gus Dur adalah sebuah upaya membongkar praktik culas korporasi. Masalah bahwa Gus Dur tak mampu membuktikan itu perkara lain. Tapi bahwa Gus Dur telah mengajarkan kita cara untuk bersikap kritis dan waspada pada siapa saja yang punya banyak uang di atas rata-rata. Kita harus tahu darimana itu uangnya ? Bukan usil tapi waspada.

Di sisi lain, hari ini negeri kita tengah menghadapi potensi kecurangan korporasi yang bermain di pengelolaan sumber daya alam, kehutanan dan juga perikanan. Mengapa saya baru berani menyebut potensi. Karena tak ada bukti. Hanya ada indikasi.

Tulisan ini sejatinya, saya publish dua hari lalu ketika kita mengenang dua tahun wafatnya Gus Dur, tapi karena butuh menimbang-bimbang banyak hal, ya jadilah baru sekarang keberanian itu terkumpul untuk mempublikasikan tulisan ini. Banyak orang menulis Gus Dur dengan berbagai perspektif hidupnya. Tapi mungkin kita lupa menuliskan kembali bahwa Gus Dur pernah begitu garang pada Tommy Winata. Ada apa dengan kegarangan itu ? ya hanya Gus Dur dan Tuhanlah yang tahu.

Tapi, Gus Dur mengajarkan kita untuk tak pernah tunduk dan takut pada kekuatan sebesar apapun. Selama itu bukan kekuatan Tuhan. Mungkin spirit itu pula yang membuat Tempo berani menerbitkan “Ada Tommy di Tenabang?”. Sebuah reportase legendaris yang akan dikenang sepanjang masa oleh dunia pers Indonesia. Masa pedih bagi perjalanan pers. Karena laporan jurnalistik dibalas dengan aksi kekerasan. 

Kini, dua tahun usai perpisahan abadi kita dengan ulama pemimpin bernama lengkap KH. Abdurrahman Wahid itu, rasanya negeri ini merindukan sosok yang sederhana, apa adanya, cerdas dan pemberani. Gus Dur memiliki sikap itu. Kitapun rindu sosok macam beliau. Akhirnya, semoga kita tak pernah menyerah meski sosok guru bangsa itu kini telah jauh. Semoga negeri ini tak lantas menjadi negeri yang takut dan rapuh dihadapan pemodal yang kadang pongah dan tak mau tahu.
Kami merindukanmu Gus Dur.

Popular Posts