Sunday, February 9, 2014




Satu kalimat yang bisa merangkum perasaanku usai membaca novel Love Puzzle karya Eva Sri Rahayu “Teka teki yang lincah, mengharu biru dan penuh kejutan.” Novel ini seolah menjawab keraguan bahwa kisah cinta yang dinovelkan selalu monoton dan lebay. Kisah cinta dalam novel ini begitu hidup dan mengalir dengan lembut, membuat pembaca larut dalam arus kisah.

            Ada tiga kalimat indah dalam novel ini, seolah menjadi simpul penting dalam tali temali kisahnya. Kalimat pertama “Enggak ada tukang sulap yang membuka kartunya.” (hlm. 39). Kedua, “Kenangan kadang terasa lebih nyata dari kenyataan. Seberapa pun besarnya perjuangan membuat kenangan itu jadi nyata, kenangan hanya hidup dalam ingatan.” (hlm.68). Ketiga adalah kalimat “...saya memutuskan untuk jujur dan berdamai dengan masa lalu”(hlm.259).

Tukang Sulap dan Rahasianya

            Yah, novel ini memang penuh dengan teka-teki, penuh dengan kartu rahasia. Judulnya saja sudah puzzle. Penulis dengan sangat cerdas menuntun logika pembaca, seolah-seolah sudah bisa menebak kemana arah cerita, tapi yang terjadi pembaca tak menemukan ujung kisah. Justru kisah baru yang muncul dengan teka teki yang baru pula. Rasa penasaran pembaca berhasil dikelola dengan baik oleh novelis muda ini.

            Salah satu tokoh utama novel, Iskandar, memang menyukai dunia sulap. Kegemaran Iskandar ini seolah mewakili keahlian sang novelis yang juga pandai menyulap kisah, sehingga rasa penasaran pembaca selalu tumbuh. Teka-teki kisah menjadi kekuatan utama novel ini, di samping karakter yang begitu kuat dari para tokoh utama; Rasi, Alexander, Iskandar dan Ayara.

            Puzzle sebagai judul buku, tukang sulap hobi salah satu tokoh novel, dan obsesi sang novelis untuk menjadi petualang dan penjelajah waktu (baca profil penulis di bagian belakang novel) seperti tiga titik yang menjadi pengikat dalam novel ini. Obsesi penulis sepertinya tersalurkan dalam novel ini. Lihat saja bagaimana alur novel yang kadang maju namun tiba-tiba mundur (alur campuran), seolah sang pencipta kisah tengah menjelajahi waktu.

            Namun, layaknya sebuah aksi sulap, kerap kali pesulap meninggalkan celah dalam aksinya. Begitupun dalam novel ini. Plot novel ini terasa “terlalu novel”, kalau tak mau disebut terlalu mengada-ada. Rasi berjumpa dengan Alexander di masa kecil secara tidak sengaja. Saat itu Rasi berumur lima tahun dan tersesat dalam sebuah labirin, kemudian ditolong oleh seorang anak yang lebih besar darinya. Ternyata setelah SMA, Rasi berjumpa dengan Iskandar yang merupakan kembaran Alexander, bukan dalam wujud manusia tapi ruhnya. Pertemuan pertamanya di atap sebuah mal. Secara kebetulan juga Reta teman Rasi memintanya memotret saat ia berlatih basket. Rasi berjumpa dengan Alex (Raja) yang ia kira adalah Iskandar yang ia jumpai di atap mal.

            Di lain waktu Rasi berjumpa Ayara yang tersesat, kemudian mereka bersahabat, ternyata Ayara adalah kekasih Iskandar namun ia menganggap Alex adalah Iskandar yang sudah meninggal. Tali temali kisah yang menghubungkan empat orang tokoh utama dalam novel ini bagi saya “terlalu novel”, terkesan maksa. Sisi kemanusiaan novel ini seolah hilang manakala pertalian antar plot menjadi “terlalu novel”. Ini pandangan subyektif saya yang awam. Namun, bisa jadi justru disinilah kekuatan lain dari novel ini. Kemampuan ngepas-ngepasin kisah.

Kenangan yang Lebih Nyata dari Kenyataan

            Dua dari empat tokoh utama novel adalah mereka yang terjebak dalam masa lalu, Alex dan Ayara. Mereka adalah sosok-sosok yang kediriannya didominasi oleh kenangan, gagal lepas dari masa lalu membuat mereka terjebak dalam labirin kepura-puraan. Tokoh pendukung Ibu juga mengalami hal yang sama. Mereka menolak realitas kekinian dan memilih hidup dalam kenangan.

            Pada titik inilah klimaks konflik novel terbangun. Konflik yang bermula dari kematian Iskandar, sang anak baik, cerdas dan penuh kasih sayang itu mengguncang kehidupan tokoh-tokoh lainnya; Ayara, Alex, ibu dan juga ayah. Di sisi lain, Iskandar yang meninggal juga belum benar-benar bisa pergi dari dunia karena masih terikat dengan masa lalu. Ia ingin membuat orang-orang yang ia tinggalkan bahagia. Maka ia memilih Rasi sebagai jalan menuju harapannya itu.

            Rasi dalam novel ini menjadi semacam jembatan ke semua peristiwa dan tokoh, bridging character kira-kira. Peran besar yang dimainkan oleh sosok Rasi, menjadi penentu dalam sukses tidaknya novel ini. Rasi bukan sosok yang benar-benar lepas dari kenangan (masa lalu) perjumpaannya yang janggal dengan Alex saat kecil menjadi semacam penegas bahwa Rasi juga terikat pada masa lalu dengan kuat.

            Kalau boleh menyarankan pada Mba Eva, penulis novel ini, menurut saya kepingan perjumpaan Rasi dan Alex saat Rasi berumur lima tahun itu tak harus ada. Malah ada baiknya memang tidak pernah dimunculkan. Meski saya tahu peristiwa itu dimaksudkan untuk menopang ending novel dan juga untuk memperkuat karakter Rasi, andai pun peristiwa itu tak ada rasanya tak akan berpengaruh terlalu besar pada jalannya kisah. Justru kehadiran peristiwa yang sedikit kurang rasional itu justru mengganggu kisah yang sudah sangat baik.

            Bayangkan, anak umur lima tahun bermain-main di labirin, tersesat, lalu berjumpa seorang anak laki-laki yang lebih besar kemudian merasakan getaran-getaran yang menjadi kenangan sampai puluhan tahun setelah itu. Kalau merujuk pada psikologi perkembangan anak, maka usia lima tahun belumlah sedalam itu perasaan yang muncul dengan lawan jenis. Kenangan yang membekas lama tentu saja mungkin, tapi detail perasaan yang dimunculkan terlalu mengada-ada.

            Kalau mau ditilik secara detail, penulis novel memang mewarnai kisah dengan hal-hal yang memang irasional. Masa kecil Rasi yang bermain dengan hantu kemudian perjumpaan Rasi dengan Iskandar yang sudah meninggal tentu sangat tak rasional, tapi penulis mampu mengelolah irasionalitas itu menjadi seakan rasional. Sehingga pembaca mengabaikan irasionalitas itu. Ini sebuah keberhasilan yang luar biasa dari seorang novelis.
            Andai saja adegan tersesat di labirin saat Rasi berumur lima tahun itu tidak ada, saya sebagai pembaca akan merasa lebih senang lagi. Salah satu dari tokoh utama tak larut dalam masa lalu. Sehingga ada variasi dalam karakter tokoh. *Saya jadi menebak-nebak, jangan-jangan si penulis novel juga orang yang hidup dalam kenangan.. hihihi (piss Mba Eva !)

Berdamai dengan Masa Lalu

            Albert Einstein pernah menulis “Memory is deceptive because it is colored by today's events.” Kenangan menipu karena diwarnai oleh peristiwa saat ini. Tokoh-tokoh dalam novel ini seolah membuktikan apa yang dikatakan Einstein, mereka terjebak dalam perangkap masa lalu. Persepsi mereka tentang kenangan sangat dipengaruhi kondisi terkini.

            Pada akhirnya untuk menyelamatkan saat ini (present) dan masa depan (future) maka para tokoh harus berdamai dengan masa lalu (past). Inilah tawaran yang diberikan penulis untuk mengakhiri kisahnya.

Pada akhirnya Alex berani melepas beban yang ia tanggung sebagai pengganti Iskandar, dan berani hadir sebagai dirinya sendiri. Ayara akhirnya berhenti berada dalam kepura-puraan, menganggap Iskandar yang selalu ia panggil Bim-Bim masih hidup. Sang ayah juga akhirnya memilih berhenti menganggap kedua anaknya baik-baik saja. Sang ibu juga secara berlahan memilih menerima kenyataan bahwa anak tersayangnya, Iskandar, telah tiada.

Saya suka sekali dengan cara penulis membangun ending; mistik, penuh teka teki dan romantis. Meski jujur saja saya tak terlalu suka latar lokasi ending di labirin itu J. Bagian akhir novel ini tak hanya memuaskan pembaca, tapi juga menjadi semacam pelajaran hidup bagi para pembaca. Karena pada akhirnya, tiap manusia terikat dengan banyak peristiwa di masa lalu. Baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Berdamai dengan masa lalu adalah pilihan hidup yang paling bijak dan masuk akal.

Peristiwa-Peristiwa Mengejutkan
Di bagian awal tulisan ini, telah saya sebutkan, novel ini penuh kejutan. Beberapa hal yang benar-benar menjadi kejutan dalam kisah novel ini antara lain; Keputusan Iskandar untuk bunuh diri agar Alexander selamat adalah puncak dari kejutan yang diberikan. Lalu kenyataan bahwa yang dijumpai Rasi selama ini hanya ruh dari Iskandar adalah kejutan lain. Kemudian Ayara yang tiba-tiba ingin berkunjung ke makam Iskandar, setelah sekian lama menampik kenyataan bahwa Iskandar sudah meninggal juga sebuah kejutan.

Ada juga peristiwa, ketika dalam rasa putus asanya untuk meyakinkan ibu, Alex dan Ayara agar mereka move on, tiba-tiba ayah Alex dan Iskandar muncul di sekolahnya dan memberi titik cerah bagi usahanya. Pokoknya, novel ini pantas disematkan sebagai novel yang penuh kejutan.

“Love Puzzle” dan “Wuthering Heights”




            Membaca Love Puzzle membawa ingatanku mengarah pada sebuah novel klasik  Wuthering Heights karya Emily Bronte. Wuthering Heights, kerap disebut sebagai sebuah novel cinta yang unik, mistis dengan daya tarik abadi. Tentu Love Puzzle belum sampai pada level itu, tapi kisah, kejutan, dan unsur mistik yang ditampilkan Love Puzzle membawa ingatanku pada Wuthering Heights.

            Andai saja dramatisasi dan daya cekam dalam novel Love Puzzle bisa dibuat lebih sabar dan mendalam, daya tariknya akan jauh lebih abadi bagi pembaca. Bukan sekedar bacaan selingan yang gugur dalam ingatan dalam hitungan minggu bahkan hari. Saya kira sang penulis, Eva Sri Rahayu, telah melahap banyak novel dunia yang berkualitas, termasuk Wuthering Heights, andai belum, saya merekomendasikan Mba Eva membaca Wuthering Heights.

Empat Tokoh Utama Dalam Sketsa

            Google membantuku menemukan sketsa wajah yang menurutku bisa mewakili empat karakter utama dalam novel ini.

Rasi

Alexander


Iskandar

Ayara


Epilog
            Akhirnya, review ini sepenuhnya subyektivitas saya. Banyak hal yang bisa jadi kebetulan pas tapi banyak hal yang mungkin saja tak pas atau mengada-ada. Kalau mengutip seorang filsuf, David Hume, bahwa ide bisa hadir melalui dua jalan; memori (kenangan) dan imajinasi. Maka review ini hadir dari keduanya. Memori berupa potongan-potongan novel yang membekas di ingatan dan imajinasi sebagai pembaca membayangkan apa yang ada dipikiran penulis novel ini. Semoga review ini bermakna. Salute untuk penulis Love Puzzle, sebuah novel yang layak dibaca.

Penasaran sama novel ini ??? Simak yang berikut.....





p.s.

Ada beberapa kalimat penuh inspirasi dalam novel ini...
  •          “Enggak ada tukang sulap yang membuka kartunya.” (hlm. 39).
  •          “Kenangan kadang terasa lebih nyata dari kenyataan. Seberapa pun besarnya perjuangan membuat       kenangan itu jadi nyata, kenangan hanya hidup dalam ingatan.” (hlm.68).
  •          “...saya memutuskan untuk jujur dan berdamai dengan masa lalu”(hlm.259).
  •          “Mana ada cowok baik yang marah-marah terus memukul tembok sampai retak ?” (hlm. 43)
  •          “...apa yang terlihat bisa menipu, tapi hati selalu tahu kebenarannya. Selalu dengarkan kata                   hatimu...” (hlm. 96)
  •          “Penindas Cuma sekumpulan orang bodoh yang pura-pura bersahabat.” (hlm.107)
  •          “..memberikan kepuasan yang ganjil.” (hlm. 145)
  •          “Menggambar bisa jadi media terapi, dan ternyata bener ! it works !” (hlm. 206)
  •          “Takdir sungguh lucu, seperti sebuah permainan.” (hlm. 214)
  •          “Cinta dilahirkan, bukan diciptakan.” (Hlm. 234)
  •          “Cinta bukan ‘tidak harus memiliki’, tetapi memang ‘tidak semua cinta bisa dimiliki’ (hlm.234)

Detail Buku : 

Judul : Love Puzzle
No ISBN : 9786021606049
Penulis : Eva Sri Rahayu
Penerbit : Noura Books
Terbit : November 2013
Jumlah Halaman : 284
Jenis Cover : Soft Cover
Harga : Rp. 49.000

   Review ini dibuat dalam rangka meramaikan ;





        

Sumber foto : koleksi pribadi/huzer apriansyah
Sumber sketsa : 1. ashnovember.com
                     2. colourbox.com
                     3. deviantart.com
                     4. deviantart.com

0 comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Popular Posts