Monday, March 24, 2014


"Young people should be at the forefront of global change and innovation. Empowered, they can be key agents for development and peace. If, however, they are left on society's margins, all of us will be impoverished. Let us ensure that all young people have every opportunity to participate fully in the lives of their societies."

-- Kofi Annan

Sejarah telah mencatat, banyak perubahan di belahan bumi diinisiasi oleh anak-anak muda. Kofi Anan, mantan sekretaris jenderal PBB dengan kalimat di atas menegaskan betapa sentral dan vital peran anak muda. Perubahan global dan perdamaian bisa tercipta jika anak-anak muda dilibatkan. Tinggal bagaimana memberi ruang dan kesempatan bagi anak muda untuk berpartisipasi secara penuh dalam kehidupan bermasyarakat.

Tak terkecuali Indonesia, proklamasi 17 Agustus 1945 mungkin tak akan pernah ada jika pemuda Soekarni, Wikana atau Chairul Saleh tak mendorongnya di Rengasdengklok. Perubahan 1966, juga didorong oleh anak-anak muda, yang terbaru reformasi 1998 anak muda pulalah yang mendorongnya.

Tapi mendorong perubahan tak selalu terkait dengan hal-hal besar, hal yang menyangkut hidup mati negeri atau peristiwa bombastis lainnya. Kepemimpinan kaum muda bisa dimulai dengan hal-hal yang sederhana. Kepemimpinan anak muda adalah sebuah sikap atau perilaku yang menginspirasi banyak orang untuk melakukan hal-hal baik, yang memberi kemanfaatan bagi banyak orang.

***

Adalah Agus Hidayat, seorang wartawan di Majalah Tempo yang pertama kali memperkenalkan sosok Ruby Fox Creek Nelson padaku. Begini cerita tentang Ruby;

Ruby Fox Nelson, gadis mungil asal Amerika Serikat, celengan kesayangannya ia bongkar saat delapan tahun usianya. Semu ahasil tabungan ia belikan seratus pot dan bibit bung petunia, ditanam dan dirawatnya bunga-bunga itu. Dengan tangan mungilnya ia memastikan semua bunga bisa tumbuh dengan baik.

Sampai pada musimnya, bunga-bunga itu siap dipanen. Ia menjualnya dari pintu ke pintu. Sembari mengetuk pintu ia berteriak “Tiap sen uang anda amat berharga bagi orangutan.” Tuby mengumpulkan sen demi sen hasil keringatnya. Bukan sebentar, empat tahun ia melakukan hal itu, bahkan saat libur ia bekerja di rumah kaca, sampai mengemudi traktor di ladang milik tetangga. Tekadnya terpatri sudah. Ia ingin membantu orangutan yang namanya samar-samar ia dengar.

Sampai pada masanya, uang tujuh ribu US Dollar terkumpul, dengan nilai tukar ketika itu, senilai hampir 60 juta rupiah. Jumlah yang tak sedikit untuk perjuangan anak seusia Ruby.


Ia antarkan sendiri uang itu kepada Dr. Birute Mary Galdikas yang telah mendedikasikan hidupnya lebih dari 32 tahun untuk konservasi oangutan. Ruby disambut ramah, sebagai hadiah Ruby bisa bercengkrama dan memandikan orangutan di Tanjung Puting, Kalimantan Timur. 

Lain Ruby, lain Beteguh. Usianya belum genap enam belas tahun, ia adalah anak Orang Rimba di Bukit Dua Belas, Jambi. Sukunya sekian lama tersisih, karena hutan mereka dirambah. Berbekal semangat Beteguh menyemai asah, ia belajar baca, tulis dan hitung. Meski kerap dihina karena budaya mereka yang berbeda, Beteguh tak pernah menyerah, kini ia duduk di kelas tiga SMP.

Ia tak hanya sekolah, tapi mencoba menjadi guru untuk anak-anak Orang Rimba lainnya, keluar masuk hutan ia jalani, berharap adik-adiknya dan Orang Rimba lainnya kelak siap menghadapi perubahan sosial. Kini Beteguh telah menjadi panutan bagi banyak anak-anak Orang Rimba, ia tak hanya cerdas untuk diri sendiri tapi membaginya dengan komunitas.

Penulis bersama Beteguh (paling kiri)/foto Heriyadi Asyari

Kalimat Kofi Annan di awal tulisan ini seolah menemui konteksnya jika merujuk kisah Ruby dan Beteguh. Mereka dewasa sebelum waktunya, pikirannya melampaui usia fisiknya. Mereka adalah anak muda yang pantas disebut sebagai sumber inspirasi bagi banyak orang. Inilah kepemimpinan dalam makna sejatinya; inspirasi.

Kisah Ruby dan Beteguh adalah pengantar bagi kita semua, anak-anak muda Indonesia untuk mengerti bahwa kepemimpinan inspiratif adalah karakter utama kepemimpinan anak muda. Lantas, dalam konteks Indonesia seperti apa anak muda pemimpin itu ?

Anak Muda Pemimpin Itu Adalah....

Nusantara, di masa lalu terdiri dari kerajaan-kerajaan. Beberapa di antaranya mahsyur sampai ke antero dunia. Sebut saja Samudera Pasai di sisi Barat Pulau Sumatera, Kerajaan Pagaruyung di wilayah yang kini kita kenal dengan Sumatera Barat, Indragiri di Riau, Melayu di Jambi, Sriwijaya di Palembang, Tarumanegara di Jawa Barat, Majapahit, Mataram, Kutai, Ternate dan berbagai kerajaan lainnya.
Indonesia hari ini adalah refleksi dari nusantara di masa lalu, begitu majemuk negeri kita. Dalam keragaman geografis, sosial, budaya, ekologis dan bahkan suku bangsa, maka kesalingsepahaman antar budaya menjadi mutlak. Karakter pertama yang harus dimiliki anak muda pemimpin itulah sensitifitas dan pemahaman atas kebhinekaan Indonesia.

Jika sebagai individu kita sudah bisa mengelolah kemajemukan sebagai sebuah keindahan, bukan ancaman, itu pertanda karakter anak muda pemimpin sudah ada pada kita. Tapi jika dalam hati kita masih menyoal warna kulit yang berbeda, bahasa yang berlainan atau agama yang tak sama, maka kita masihlah berada dalam tempurung kekerdilan.

Tak ada tempat di Indonesia masa depan bagi pemimpin yang hati dan pikirannya kerdil.
Selanjutnya, kita semua tahu dunia menghadapi ancaman atas terus merosotnya daya dukung ekologis. Paling nyata kita bisa melihat bagaimana asap memorakporandakan aktivitas keseharian di Riau, banjir Jakarta melumpuhkan ibukota, kualitas air tanah terus menurun, kemarau lebih panjang dari biasanya, hasil panen produk pangan kita tak lagi mudah. Gejala apakah semua ini ? Yup, daya dukung ekologis kita terus merosot.

Permasalahan ekologi adalah tantangan besar di masa depan. Dunia akan mengalami sebuah fase yang tak mudah menyangkut buruknya kualitas lingkungan. Termasuk perubahan iklim yang terus menunjukkan gejalanya. Lantas apa kaitannya dengan kaum muda ?

Gaya hidup, pola konsumsi dan juga perilaku keseharian kita bisa memengaruhi kualitas ekologi secara global. Bukan sekedar masalah tanam pohon, tapi lebih dari itu, perilaku keseharian kita harus diubah. Sudahkah kita mencoba mengurangi emisi dengan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Sebisa mungkin menggunakan angkutan umum. Sudahkah kita berhemat energi listrik di rumah, memadamkan lampu atau peralatan listrik seusai menonton teve atau usai belajar. Memang hal-hal itu tampak remeh temeh, nyaris tak berpengaruh pada kondisi global, tapi coba bayangkan jika perilaku kita bisa menginspirasi kawan-kawan kita, keluarga kita dan lingkungan sekitar kita. Berapa banyak dampaknya. Sekali lagi kepemimpinan kaum muda adalah kemampuan menginspirasi.

Maka karakter kedua dari anak muda pemimpin itu adalah memilki perilaku yang ramah lingkungan, kemudian memahami kenyataan bahwa bumi tengah menghadapi perubahan iklim yang dampaknya bisa sangat buruk bagi kehidupan.

Indonesia di masa depan akan tetap berhadapan dengan masalah kemiskinan dan terbatasnya lapangan kerja. Mekanisasi industri mengakibatkan peran manusia tergantikan mesin, di sisi lain pertumbuhan penduduk terus terjadi. Jumlah penduduk usia kerja dan jumlah lapangan kerja akan menjadi sangat timpang, pengangguran dimana-mana, kemiskinan jadi musuh bersama.

Lantas seperti apa karakter anak muda pemimpin itu, ya harus memiliki karakter kewirausahawanan baik kewirausahaan sosial maupun bisnis.

Tiga karakter dasar di atas mejadi mutlak bagi anak muda pemimpin jika ingin memebawa negeri ini menjadi lebih baik. Pertanyaan selanjutnya bagaimana caranya menjadi anak muda pemimpin itu ?

Caranya Menjadi Anak Muda Pemimpin Itu...

Tiap kita punya karakter, bakat dan kekhasan masing-masing. Minat kita mungkin tak sama, kesukaan kita pada sesuatu juga tak selalu sama. Tapi paling tidak ada beberapa nilai dasar (common values) yang bisa membuat kita menjadi anak muda pemimpin, anak muda yang menginspirasi.

Cintai apapun itu minatmu, jika minat kita pada dunia seni, maka cintailah seni sebagaimana kita mencintai diri sendiri. Jika kita berminat pada dunia teknlogi, tekuni dan cintailah dunia itu. Termasuk minat pada dunia kepenulisan, maka cintailah dunia tulis menulis itu sepnuh hati.

Pilihan memang tak selalu mudah, semua butuh perjuangan untuk sampai pada suatu masa yang indah. Einstein yang jenius sekalipun kerap dicibir kawan-kawannya, bahkan Piccaso, sang pelukis mahsyur tak serta merta bisa melukis dengan indah. Semua ada prosesnya, semua ada perjuangannya. Kesediaan untuk berproses dan berjuang itulah yang menjadi kunci.

Selanjutnya, kerelaan hati untuk belajar dari siapapun dan apapun,  adalah kunci untuk mencapai pemahaman yang utuh atas segala sesuatu. Terkadang kita bisa belajar ketulusan dari anak kecil, kita bisa belajar bagaimana berjuang untuk hidup dari binatang di gurun, dan kita bisa memahami makna keikhlasan dari tetesan hujan. Bumi dan isinya disediakan sebagia ruang belajar bagi manusia, tak ada alasan untuk menolak belajar.

Dialog adalah kunci mengubah dunia, begitu kata Paulo Freire. Maka bagi anak muda pemimpin, berdialog dengan banyak pihak adalah kunci menyebarkan gagasan dan menerima masukan. Dari dialog rencana perubahan bisa dikerjakan bersama.

Kerendehan hati untuk mendengar kritik, ini adalah kunci penting untuk menjadi sosok yang menginspirasi, anak muda yang siap memimpin. Kita kerap kali garang dan tajam kalau mengkritik tapi alfa mendengarkan kritik bahkan marah jika dikritik. Anak muda pemimpin taklah demikian.

Masih banyak lagi cara menjadi anak muda pemimpin, tapi lima hal dasar di atas adalah beberapa kunci yang harus dijalani. Negeri ini butuh lebih banyak anak muda pemimpin.

***

Tulisan ini adalah refleksi pribadi penulis, bukan untuk siapa-siapa tapi untuk diri sendiri. Permenungan sekaligus napak tilas dari proses yang pernah penulis jalani. Mohon maaf jika terasa menggurui, niatnya sekedar berbagi. Agar bersama kita bisa menjadi anak muda pemimpin.

Tabik

                        

Popular Posts