Wednesday, March 19, 2014


Langit kota Medan mulai gelap, penumpang mulai  gelisah. Pesawat yang dinanti tak kunjung mendarat. Aku mulai gelisah, harus sampai Jakarta tepat waktu, esok pagi harus melanjutkan perjalanan ke Jogja dengan kereta. Sebuah acara penting sudah menunggu disana.

Satu jam lewat dari jadwal semula, akhirnya pesawat yang akan membawaku ke ibukota berangkat juga. Kursi penumpang tak padat, di barisanku, aku duduk bersama seorang bapak yang bekerja di instansi negara. Bersiap berjumpa keluarga tercinta di ibukota, usai dinas di daerah.

Pesawat lepas landas dengan mulus, tak ada guncangan, tak ada hal-hal yang mengejutkan. Ngiiiiiiiiiit ngiiiiiiiiiit, suara roda yang masuk ke posisi semula menjadi penanda fase awal penerbangan berdurasi kurang lebih dua jam ini berlangsung baik-baik saja.

Usai berbincang  sejenak dengan bapak yang duduk dekat saya, kami kembali pada aktivitas masing-masing. Bapak itu memejamkan mata, dan aku membayangkan di atas udara mana saat itu berada. Kebetulan Airbus A320 yang kutumpangi tak ada monitor yang menggambarkan proses perjalanan. Beeep, lampu kecil di sisi atas dimatikan, sabuk pengaman bisa tak digunakan. Ini fase yang selalu aku nantikan, penanda kalau penerbangan berlangsung lancar.

Aku bukan orang yang terlalu tenang dalam perjalanan menggunakan pesawat, kerap risau, kalau tak mau dibilang takut. Kalau bisa memilih naik kereta atau sepeda motor, aku lebih pilih itu daripada pesawat udara. Tapi tentu itu opsi yang tak berimbang, jadilah pesawat  tetap jadi pilihan. Meski penerbangan berdurasi panjang pernah kulakukan, Jakarta-Singapura-Frankfurt, Jakarta-Dubai-Nairobi, Jakarta-Hongkong-London dan jalur-jalur lain pernah kujalani, tapi rasa risau itu tak pernah benar-benar hilang. Begitu pun malam itu.

Sekitar satu jam perjalanan, aku mengira saat itu tengah berada di atas wilayah Sumatera Selatan, atau Lampung mungkin. Pikiranku mulai tenang, setengah jalan lagi, pikirku.

Selang beberapa menit, lampu tanda kenakan sabuk pengaman kembali menyala, aku mulai gundah. Pasti akan ada sesuatu, pikirku. Aku tak memasang sabuk pengaman, karena sedari tadi aku tak melepaskannya. Aku menundukkan kepala, berharap semua akan baik-baik saja. Kubangunkan bapak di sebelah, sabuk pengamannya nampak tak terpasang. Ia terjaga dan mengucapkan terima kasih.

Sesaat pesawat bergetar, seperti ada gesekan dengan awan tebal, getaran semakin keras. Aku menggenggam pegangan kursi. Merapatkan jari-jari kaki, seraya merafalkan doa-doa. Tiba-tba pesawat melesat turun, semua terhentak, jantungku berdegup begitu kencang. Banyak diantara kami yang meneriakkan “Allahu akbar”,  “Astagfirullah..” seorang bayi melengking kencang.

Pesawat tenang sejenak, tapi tiba-tiba kembali meluncur dalam. Bapak di sebelahku berteriak “jatuh kita, jatuh kita.” Ku pejamkan mata, wajah orang-orang tercinta melintas, mama, papa, adik-adikku. Pesawat seperti terhempas. Suasana hiruk menyeruak kembali, banyak yang berteriak. Tak ada tanda-tanda keadaan berlangsung normal, pesawat seperti sebuah kapal di tengah gelombang.

Suara berderak terdengar berulang kali. Sampai pada sebuah titik, jantungku tak lagi berdegup kencang. Kalaupun inilah saat terakhirku, aku pasrah, begitu batinku sembari terus merafal doa. Semua tubuhku sepertinya mengeluarkan keringat dingin.

Sesaat kemudian, pesawat mulai terbang tenang, kulirik jendela, suasana masih pekat. Tak ada tanda-tanda kami akan tiba. Suasana pesawat hening, hanya gemuruh mesin yang terdengar. Bapak di sebelahku, mengusapkan kedua tangannya ke wajah, tanda syukur nampaknya. Aku masih  menantikan lampu kenakan sabuk pengaman itu dimatikan. Tapi tak kunjung dipadamkan.

Sekitar dua puluh menit setelah masa-masa kritis itu, pengumuman pesawat akan mendarat. Lantas terdengar suara roda yang keluar, penanda pendarata sudah semakin dekat. Sebuah hantaman lembut memastikan kami mendarat selamat di bandara Sukarno – Hatta, Jakarta. Kusapukan kedua tangan di wajah. Kubekapkan beberapa menit, sembari mengucapkan syukur pada pemilik kehidupan, masih diberi kesempatan menatap matahari esok pagi.

Saat pesawat berhenti sempurna, kudengar bapak disebelahku menelpon. Sebuah kalimat tiba tiba meluncur dari mulut bapak itu “Aku mencintai kalian semua. Semua baik-baik di rumah kan, Ma ?” Sepertinya ia baru saja menghubungi keluarga tercinta. Ingin pula segera menelpon mama dan papa tapi kutunda sampai di ruangan bandara nanti.

Semua penumpang menarik lapas lega. Pintu pesawat dibuka, satu persatu kami meninggalkan pesawat. Banyak diantara kami yang mengucapkan terima kasih pada pilot dan kru yang melepas kami di pintu.

***

Kejadian itu, pertengahan 2009 lalu, lima tahun sudah. Tapi semua masih membekas lama. Aku pernah mengalami penerbang yang tak kalah buruk di rute Batam-Jambi, kemudian Jakarta-Jambi dan juga Dubai-Nairobi. Kejadian-kejadian itu makin membuatku gentar tiap kali ada tugas atau perjalanan yang memaksaku menggunakan pesawat terbang.

Kematian memanglah sebuah misteri dan setiap kita akan mengalaminya, tapi doaku, tidak dengan cara seperti di pesawat udara.

Kejadian-kejadian yang terasa begitu dekat dengan kematian memang selalu membawa kita pada kesadaran-kesadaran baru akan makna hidup dan kehidupan. Betapa rapuh dan kecilnya kita sebagai manusia, lantas apa yang bisa kita banggakan ?


Merawat tiap menit yang miliki dengan orang-orang tercinta, memberi yang terbaik bagi orang lain adalah pilihan yang menyenangkan untuk menghabiskan waktu di dunia yang memang tak lama ini. 

0 comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Popular Posts