Monday, March 24, 2014


Petang itu suasana sejuk menyeruak, angin mengirimkan kesegaran. Orang masih berduyun-duyun datang, meski sholat Ashar berjamaah sudah rampung. Seorang anak kecil menjaga tempat penitipan alas kaki di sisi barat, lebih dari dua puluh pasang alas kaki ada di rak besi berwarna hitam itu. Uang kertas, seribu, dua ribu dan lima ribu tampak menyesaki sebuah kotak kaleng yang tak besar.

Semua sisi adalah pintu, bangunan ini dirancang tanpa dinding, hanya sisi depan, ke arah mimbar saja yang ada penutupnya, itupun bukan dinding permanen. Hanya dinding sementara yang berhiaskan kaligrafi. Usai sholat, terutama Ashar atau Dzuhur, saat empat rakaat tunai, sejenak rebah memang sebuah pilihan dari kebanyakan orang.

Kutunaikan rakaat-rakaat yang memang sudah menjadi kewajibanku. Usai itu, aku mulai menarik “pelatuk” kameraku. Ornamen kaligrafi di sisi depan masjid menjadi sasaran pertamaku. Kuubah posisi duduk, kini bersandar di sebuah tiang besar yang posisinya agak di tengah. Lebih leluasa mencari sudut bidik. Seorang bapak tampak khusyuk menjumpai Sang kekasih dalam rukuknya.



Ada ratusan tiang, menjadi tak mudah untuk memotret sisi dalam, aku tak menghitung berapa jumlah tiang. Namun, orang-orang menyebut tempat ini masjid seribu tiang. Benarkah seribu ? entah juga. Sebuah sumber di wikipedia menyebut tiangnya berjumlah 256. Aku tak berminat memastikan kebenarannya.

Kucoba merebahkan tubuh di bagian tengah masjid, angin berhembus pelan, masjid tak berdinding ini memang membuat angin bebas hilir mudik, tanpa penghalang berarti. Para jamaah perempuan yang berjajar di sisi tengah agak ke depan dengan mukena putih memberi efek kontras dengan alas sembahyang yang gelap.



Konon di tanah tempat masjid ini berdiri adalah tanah pusat Kesultanan Jambi tempo waktu. Disinilah dulu sebuah ‘istana’ Sultan Jambi berdiri, namanya istana Tanah Pilih[i]. Masjid ini sendiri dibangun pada 1960. Tentu bukan suatu masjid yang berumur tua dibanding masjid agung di banyak daerah, termasuk tetangga Jambi, Palembang, masjid agung Palembang  didirikan pada abad ke 18.

Sebenarnya tak jauh dari masjid agung Al-Falah ini ada sebuah masjid yang lebih tua. Masjid Magatsari namanya, menurut sumber sejarah lokal Jambi, masjid ini berdiri sekitar tahun 1906, tapi ada sumber lain yang menyebut sudah berdiri sejak tahun 1800-an. Kalau berjalan kaki dari lokasi masjid Al-Falah ke Masjid Magatsari mungkin tak ada lima belas menit. (di lain waktu penulis akan menulis secara khusus tentang Masjid Magatsari).
***
Angin yang semilir melenakan mata, ada semacam kesejukan di kelopak mata. Suara seorang bapak yang melantunkan kitab suci membuat suasana syahdu. Sayangnya teorama damai itu terusik oleh suara kendaraan yang memacu kecepatan di jalan besar dekat masjid. Nyaris tak ada jarak antara masjid dan jalan. Halaman masjid pun tak begitu luas, sehingga suara knalpot memorak porandakan kekhusyukan sholat di masjid yang unik ini. Tentu berharap kesadaran pengendara untuk menurunkan kecepatan saat melintas adalah harapan para jamaah, tapi pembuatan aturan yang tegas oleh negara juga penting untuk dilakukan. Maksimum kecepatan 20-30 KM per jam saja misalnya.

Saya pernah sholat di beberapa masjid agung atau masjid utama di sebuah daerah; Palembang, Jakarta, Purwokerto, Yogyakarta, dan beberapa daerah lainnya, kebanyakan dari masjid itu berhalaman luas, bahkan di Jawa biasanya terlindung alun-alun sehingga kebisingan teredam jarak. Tapi di Al-Falah tidak demikian, suara knalpot angkot kadang seolah berada di sebelah telinga. Ah, sebuah sisi yang sayang sekali harus kuceritakan disini, tapi begitulah adanya.

Seorang bapak yang tak lagi muda, menata rapih sandal-sandal jepit yang bisa digunakan untuk mengambil penyuluh[ii]. Kebersihan dan kerapian di masjid ini adalah hal lain yang patut dipuji.

Mataku mengarah pada sebuah beduk besar, kayu-kayu kokoh yang menghitam melingkar membentuk rongga yang di salah satu sisinya kulit sapi atau kerbau menjadi penutup. Kureka-reka kayu kehitaman itu, kalau tak kayu Meranti mungkin Bulian, pikirku. Kadang jadi bertanya, darimana teknologi beduk ini datang. Adakah relasinya dengan kebudayaan Cina, atau justru didatangkan dari Timur Tengah atau jangan-jangan orijinal nusantara. Ah, ada-ada saja, bukankah rasanya sulit menemukan sesuatu produk budaya yang benar-benar orijinal, apalagi di kebudayaan nusantara yang memang bukan kebudayaan tertua di muka bumi ini. Pastilah saling silang budaya, pengaruh satu dan yang lain ikut mewarnai.



Aku mulai melangkah keluar, kuarahkan langkah ke dekat rak alas kaki yang dijaga anak kecil bermata sipit tadi. Mataku mengulas sekali lagi sisi dalam masjid, memang berbeda masjid yang satu ini, batinku. Masjid yang terbuka di semua sisinya, mengundang siapa saja untuk hadir, menunaikan sembahyang atau sekedar singgah menyejukkan tubuh. Masjid yang tak angkuh, masjid yang benar-benar menjadi rumah bagi semua. Sebuah konsep yang jarang kita jumpai, banyak masjid yang justru menunjukkan tampang eksklusifnya daripada inklusif seperti yang ditampilkan masjid seribu tiang ini. Bukankah beginilah Islam seharusnya, inklusif !




[i] Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Agung_Al-Falah, diakses pada 24 Maret 2014, pukul 15.40
[ii] Dalam bahasa Melayu Palembang penyuluh berarti wudhu

Note : Semua Foto adalah karya huzer apriansyah

0 comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Popular Posts