Saturday, March 1, 2014


Ketika disuguhi pertanyaan, “Bagaimana kamu tahu kalau perempuan/laki-laki itu adalah pasangan jiwamu ?” Masing-masing kita punya cara berbeda menjawabnya, standarnya pun beraneka. Kalau aku sederhana saja, ketika dalam hati berkata “Yup, inilah orangnya !” maka detik itu juga aku yakin bahwa dia layak dan harus diperjuangkan. Tak peduli sudah kenal sehari atau sejuta hari.

Hari gini masih percaya intuisi ? Hanya itu standar yang original, karena intuisi orang satu dengan yang lain berbeda. Kalau pake pendekatan ciri, standar atau ukuran, maka bisa jadi ada persamaan antara semua laki-laki atau perempuan di dunia. Contoh, kebanyakan laki-laki ingin punya pasangan hidup; cantik, pintar, soleha syukur-syukur kaya. Kalau ini rumusnya, yang di luar itu akan jomblo sepanjang zaman bisa-bisa.

Begitu pun perempuan, standar pasangan hidupnya rata-rata, bermimpi dan berjuang untuk mendapatkan lelaki yang setia, kaya, tampan syukur-syukur cerdas. Yeah, kalau semua pakai standar ini ribuan lelaki akan jadi pengangguran cinta. Termasuk yang punya blog ini...

Nyatanya tidak selalu demikian, intuisi, rasa dan keyakinanlah yang menuntun kebanyakan kita dalam menemukan pasangan hidup. Yup, inilah orangnya, itu standarku dalam meyakini bahwa seseorang adalah pasangan hidupku. Pertanyaannya, apakah intuisi bisa salah ? salah dan benar dalam hal-hal yang sifatnya subyektif. Sebenarnya tidaklah eksis, yang ada hanya persepsi tentang benar atau salah. Selama pikiran kita meyakini itu kebenaran maka data yang dialirkan ke pikiran kita adalah data yang mendukung kebenaran itu. Begitu sebaliknya.

Hanya saja kemudian satu  hal yang biasanya (*pengalaman pribadi) melemahkan atau menguatkan intuisi kita; lingkungan (persepsi orang banyak). Ketika kawan-kawan, keluarga dan banyak orang bilang, “Kamu yakin pilih dia ?” atau mereka bilang “Dia perempuan gak benar tahu, kamu yakin ?” Pada titik inilah intuisi kita akan tergerus. Pilihannya; percaya pada intuisi atau persepsi lingkungan ? That’s up to you. Terserah kita masing-masing.
Kalau dipikir-pikir, tak akan pernah ada pasangan yang benar-benar 100 persen sesuai keinginan. Karena apa ? karena keinginan kitapun kerap berubah-ubah. Kendali keinginan ada pada otak dan hasrat. Sedangkan masalah pasangan adalah masalah hati, sesuatu yang ukurannya sangat personal.
***
Halah, koq tulisannya jadi kayak motivator-motivator berbiaya tinggi di teve itu ya ? Muak juga dengan tulisan di atas. Jadi saya sarankan pada orang yang tersesat ke blog ini dan membaca tulisan di atas, SKIP...SKIP. Anggap sebagai omong kosong dari seseorang yang baru saja jatuh hati. Yup jatuh hati pada pada sebuah buku. Judul buku itu Wuthering Heights, sebuah karya klasik Emily Bronte, novelis kelahiran Yorkshire, Inggris tahun 1818. Novel ini pertama kali terbit dengan nama penulis Ellis Bell, nama pena Emily Bronte.

Pada halaman kosong di bagian akhir buku aku menulis beberapa kalimat setelah menamatkan novel yang terbilang panjang dan lama ini...


Membaca buku ini memahatkan pengalaman baru bagiku dalam memahami cinta. Aku melihat cinta sebagai sebuah kebiasaan saja. Paling tidak hal itu tergambar melalui sosok Cathy (tokoh dalam novel). Namun Heitcliff menuntunku akan sebuah bentuk cinta yang aku sendiri tak mampu membayangkannya. Edgar Linton hampir serupa dengan Cethy. Sedangkan Catherine adalah sosok yang sangat rasional dalam mencintai.

Buku ini adalah petualangan cinta yang penuh misteri, kelam dan kejam. Dan aku meyakini penulis buku ini adalah sosok yang hidup dalam kesepian...

Buku ini paling tidak membuatku sadar betapa nisbinya cinta, tapi keisbian itulah yang membuat cinta selalu menarik dibincang dan dijalani...


Semua Foto Ilustrasi adalah karya Huzer Apriansyah



Popular Posts