Monday, February 24, 2014

Kalau mengetikkan kata “Dino” di mesin pencari google Indonesia, biasanya secara otomatis google akan memberi semacam preferensi. Urutan pertama ada Dino market selanjutnya ada Dino Patti  Djalal. Tak ada hubungan antara Dinomarket dan Dino Patti Djalal. Tapi entah mengapa aku tertarik mengawali tulisan tentang sosok pemimpin muda ini dengan kisah Dino market.



Dino market, salah satu website jual beli online pertama di tanah air. Sayangnya, setelah bisnis online makin berkembang Dino market justru tak terlalu berkembang, meski belumlah tumbang. Kalah moncer dengan situs jual beli online lainnya. Menjadi pioner tak selalu berujung indah, terkadang pioner justru tercecer.
Jujur saja, Dino Patti Djalal, peraih doktor dari London School of Economic and Political Science ini bisa dibilang orang pertama yang mengiyakan ajakan untuk bertarung di konvensi partai demokrat. Tapi sekali lagi menjadi yang pertama bukan berarti selalu tok cer. Jujur saja, nama Dino masih di belakang beberapa nama lain yang sama-sama bertarung di konvensi. Sebut saja Dahlan Iskan atau Pramono Edhie, atau Hayono Isman, yang di beberapa polling menempati tiga besar.

Tapi yang menarik, sedikit saja peserta konvensi bahkan kandidat presiden di republik ini yang datang dengan konsep, pemikiran yang utuh tentang masa depan bangsa. Kebanyakan mereka justru datang dengan modal citra dan atau jaringan politik keluarga. Satu dari yang sedikit itu adalah, Dino Patti Djalal.
Saya meyakini, beliau bukan tak berhitung peluang di konvensi apalagi di pilpres. Tapi target utamanya bukan menang semata, melainkan sebuah upaya menyemai harapan, menyemai semangat bersama untuk masa depan bangsa yang lebih baik.  

Nasionalisme Unggul


sumber : rmol.co


NASIONALISME UNGGUL, sebuah konsep yang secara konsisten diusung Dino Patti Djalal. Bukan sekedar omong kosong yang dipersiapkan untuk mencari empati publik, melainkan sebuah konsep yang telah ia jalani jauh-jauh hari. Indonesia Diaspora Network (IDN) adalah bukti nyata kerja Dinno Patti Djalal dalam mencoba menyusun kekuatan bangsa melalui warganya yang tersebar di penjuru dunia.

Lahir di Beograd (Yugoslavia), sebuah negeri yang luluh lantak oleh perang saudara, paling tidak memberi semacam memori tersendiri bagi Dino Patti Djalal. Kemudian hidupnya yang berpindah dari satu negara ke negara lain, karena harus mengikuti sang ayah yang diplomat memberi pula pengalaman dirinya tentang realitas bangsa-bangsa di dunia. Pada titik itulah ia sampai pada sebuah kesadaran akan arti penting nasionalisme.

Nasionalisme yang dimaksud bukanlah nasionalisme sempit yang mengurung manusia-manusia Indonesia pada kesadaran semu nasionalisme. Nasionalisme unggul yang dimaksudnya adalah sebuah kesadaran kolektif sebagai sebuah bangsa yang besar dan siap berkompetisi pada level global. Nasionalisme tak hanya slogan heroik yang penuh simbol-simbol melainkan sebuah kerja nyata untuk masa depan bangsa.

Sosok Sederhana dengan Pemikiran Istimewa


sumber : embassyofindonesia.org

Kiprah putra diplomat senior Prof. Dr. Hasyim Djalal ini memang meroket sejak berhasil “mendatangkan” presiden Amerika Serikat George W Bush ke Indonesia pada 22 Otober 2003. Saat itu ia menjabat Direktur Amerita Utara dan Amerika Tengah Departemen Luar Negeri. Tapi hal itu tak membuatnya tinggi hati. Simak saja pernyataannya ketika diwawancarai Jawa Pos mengenai keberhasilan karirnya ;

“Mungkin karena faktor luck. Saya kebetulan beruntung, saya orangnya biasa-biasa, bukan diplomat yang cerdas. Tapi, sayang beruntung karena berada pada the right place and the right time,” begitu ujarnya ketika itu.

Tak hanya itu, di sebuah negara transisi demokrasi seperti Indonesia. Kita semua tahu biaya politik untuk sebuah proses pencalonan presiden taklah sedikit. Apakah ia punya modal besar ? Saya yakin tidak. Tapi kalau lihat pola kampanyenya yang sederhana, tak bermegah-megah dengan iklan di media serta mengandalkan donasi dari pendukungnya. Saya meyakini bahwa sosok satu ini memang tak sedang memburu posisi RI-1 semata, ia sedang menyemai benih demokrasi yang high level. Bukan politik dalam definisi kekuasaan tetapi politik dalam definisi partisipasi.

Ia mendorong pendukungnya untuk berpartisipasi aktif dalam proses pencalonannya. Baik partisipasi tenaga, pikiran, dan juga dana. Obama melakukan hal yang sama. Di sisi lain, meski dengan peluang yang tak besar, ia memberanikan diri maju di konvensi. Inilah bentuk partisipasi politiknya sebagai warga negara.

Saya belum pernah berjumpa langsung dengan beliau, tapi jika mengamatinya dari layar kaca, tampak bahwa ia orang yang berpikir atas apa yang ia ucapkan. Kalimat tak hanya meluncur karena hasrat tapi karena pikiran yang kuat.

Ini Politik, Pak !

Tanpa mengurangi rasa hormat dan bangga atas apa yang dilakukan Dr. Dino Patti Djalal, pada akhirnya harus disadari bahwa medan yang kini dimasuki adalah medan politik praktis. Keras dan kadang culas. Pertarungan politik tak sama dengan pertarungan diplomatik, seperti yang selama ini dilakukan Pak Dino.

Pertarungan politik di negeri yang demokrasinya mapan seperti Amerika Serikat, tempat dimana Dino Patti Djalal berada untuk waktu yang tak sejenak sangatlah berbeda dengan Indonesia. Pilihan politik warga cenderung belum sepenuhnya rasional berdasarkan kesadaran akan visi, rekam jejak calon dan agenda kandidat. Banyak hal-hal di luar itu.

Sebagai orang yang salut dengan agenda-agenda masa depan Dino Patti Djalal hanya bisa berharap, di detik-detik terakhir ini semoga Dino Patti Djalal dan tim bisa bekerja lebih solid dan mengupayakan dukungan rakyat secara lebih luas.

Ketuk pintu rumah rakyat satu persatu sebanyak mungkin yang bisa dilakukan. Kunjungi hati rakyat, bukan sekedar kunjungi mereka secara seremonial. Dengarkan dan rasakan denyut nadi kehidupan mereka.

Tulisan ini bukan hendak menggurui, Pak Dino dan tim pasti lebih tahu banyak. Hanya sekedar mengingatkan, kalau-kalau Pak Dino lupa. Jalan demokrasi di negeri ini sangatlah terjal, pak !



Sunday, February 23, 2014


What’s in a name ? (Shakespeare)

Teman kuliahku dulu memanggilku Huyer, anak-anak rimba memanggilku Ujeer, seorang ibu di Jogja memanggilku Buser, bahkan ada keluarga jauhku yang memanggilku Munsir. Well, awalnya aku berusaha memperbaiki pengucapan namaku oleh mereka, Huzer ! Tapi, pada akhirnya, I’m gave up. Biarlah mereka memanggil dengan kemampuan dan kesenangan mereka.

Mengapa kusebut kemampuan ? Banyak orang yang cukup sulit menyebut namaku yang mengandung huruf “Z”, contohnya temanku kuliah dulu yang asli Purworejo. Ia pernah minta maaf karena tak pernah benar menyebut namaku, alasannya, ia tak bisa menyebut huruf Z dengan tepat, maka ia mencoba mensubstitusi Z dengan Y. Lalu mengapa kesenangan ? ya, karena ada orang yang lebih senang menyebut Buser, karena mirip program acara di Teve.

Lalu, aku berpikir seberapa penting nama. Identitas, yup identitas. Nama adalah identitas. Dibalik setiap nama terkandung identitas pemilik nama tersebut. Identitas bukan sekedar pengenal tapi lebih dari itu, identitas adalah ego, keakuan. Mengapa aku sampai pada kesimpulan itu ?

Begini ceritanya, medio 2012, aku menulis sebuah artikel judulnya “Kekejaman Korporasi dan Posisi Suku Majinal (Catatan atas Konferensi Rio+20)” You can imagine how serious this article, guys J. Sebuah buletin internal tempatku bernaung memuatnya, tanpa menyertakan nama penulis artikel tersebut. Bete abiss ! it’s not fair, begitu batinku.

Tapi melalui sebuah permenungan, aku memutuskan untuk tak menganggap itu sebuah masalah lagi. Mengapa ? karena tulisan itu telah menemui takdirnya, tak bertuan. Toh, pesan tulisan itu telah sampai pada pembaca tanpa harus disertai nama penulisnya. Nama penulis itu hanya ego. Tapi seorang kawan bilang, mencantumkan nama pada tulisan juga merupakan pertanggungjawaban moral dan akademik atas apa yang ditulis. Iya juga sih, tapi menurutku, karena bukan benar-benar maksudku untuk tak mencantumkan nama pada tulisan itu, jadi ya pertanggungjawaban atas materi tulisan itu tetap saja berada padaku. Tapi bahwa tulisan itu tak memuat nama, karena keteledoran redaksi, itu perkara lain. Kalau aku menyoal itu, artinya aku mengagungkan ego, keakuan.

Pada titik itu aku belajar, bahwa namaku bukanlah aku. Namaku adalah ornamen memudahkan orang mengenalku sebagai manusia. Tapi lihatlah ketika anak-anak rimba memanggilku Ujeer, yang mereka maksud bukan orang lain melainkan aku. Kawan bagi sebagian kecil mereka, Ujeer yang rambutnya dikit, yang senang ikut mereka berburu dan paling lahap kalau makan babi, musang atau apa saja yang kami dapatkan. Begitupun keluarga jauhku yang memanggilku Munsir, ia tak bermaksud menggantiku dengan orang lain.

Lalu, mengapa prihal nama menjadi sesuatu yang bisa menimbulkan perang, kekacauan, perkelahian, keributan bahkan kematian. Contoh terakhir tatkala Pemerintah Indonesia menamai sebuah kapal perang dengan nama Usman Harun. Lantas Singapura berang, karena ini mengusik luka sejarah mereka. Bagiku, ini membuktikan sekali lagi nama adalah ego.

Bagi Indonesia, Usman Harun adalah pahlawan nasional, ini adalah ego kebangsaan Indonesia. Bagi Singapura Usman dan Harun adalah teroris. Menamai sebuah kapal perang yang akan lalu lalang di depan hidung bangsa Singapura tentu mengusik ego kebangsaan mereka.

Pertanyaannya, dinamai atau tidak kapal perang itu dengan Usman Harun, apakah bisa mengubah masa lalu ? Pasti tidak. Tapi sekali lagi ini tentang ego.

Saya berkesimpulan salah satu ciri manusia yang berdaulat secara moral adalah mereka yang bisa meredam egonya, keakuannya untuk sesuatu yang lebih besar ; perdamaian, cinta kasih, kebaikan bersama, dan hal-hal universal yang menjadi kebutuhan dasar tiap manusia. Manusia itu, terakhir bisa kita lihat pada sosok Nelson Mandela, Madiba.

Aku mendengar kalimat Shakespeare, “Apalah arti sebuah nama” sudah begitu lama. Aku kelas satu SMP kurasa. Atau sekitar 16 tahun silam. Tapi baru beberapa bulan ini, aku bisa mendefinisikan kalimat itu, dengan cara pandangku. Semoga bermanfaat !
  


Sunday, February 9, 2014




Satu kalimat yang bisa merangkum perasaanku usai membaca novel Love Puzzle karya Eva Sri Rahayu “Teka teki yang lincah, mengharu biru dan penuh kejutan.” Novel ini seolah menjawab keraguan bahwa kisah cinta yang dinovelkan selalu monoton dan lebay. Kisah cinta dalam novel ini begitu hidup dan mengalir dengan lembut, membuat pembaca larut dalam arus kisah.

            Ada tiga kalimat indah dalam novel ini, seolah menjadi simpul penting dalam tali temali kisahnya. Kalimat pertama “Enggak ada tukang sulap yang membuka kartunya.” (hlm. 39). Kedua, “Kenangan kadang terasa lebih nyata dari kenyataan. Seberapa pun besarnya perjuangan membuat kenangan itu jadi nyata, kenangan hanya hidup dalam ingatan.” (hlm.68). Ketiga adalah kalimat “...saya memutuskan untuk jujur dan berdamai dengan masa lalu”(hlm.259).

Tukang Sulap dan Rahasianya

            Yah, novel ini memang penuh dengan teka-teki, penuh dengan kartu rahasia. Judulnya saja sudah puzzle. Penulis dengan sangat cerdas menuntun logika pembaca, seolah-seolah sudah bisa menebak kemana arah cerita, tapi yang terjadi pembaca tak menemukan ujung kisah. Justru kisah baru yang muncul dengan teka teki yang baru pula. Rasa penasaran pembaca berhasil dikelola dengan baik oleh novelis muda ini.

            Salah satu tokoh utama novel, Iskandar, memang menyukai dunia sulap. Kegemaran Iskandar ini seolah mewakili keahlian sang novelis yang juga pandai menyulap kisah, sehingga rasa penasaran pembaca selalu tumbuh. Teka-teki kisah menjadi kekuatan utama novel ini, di samping karakter yang begitu kuat dari para tokoh utama; Rasi, Alexander, Iskandar dan Ayara.

            Puzzle sebagai judul buku, tukang sulap hobi salah satu tokoh novel, dan obsesi sang novelis untuk menjadi petualang dan penjelajah waktu (baca profil penulis di bagian belakang novel) seperti tiga titik yang menjadi pengikat dalam novel ini. Obsesi penulis sepertinya tersalurkan dalam novel ini. Lihat saja bagaimana alur novel yang kadang maju namun tiba-tiba mundur (alur campuran), seolah sang pencipta kisah tengah menjelajahi waktu.

            Namun, layaknya sebuah aksi sulap, kerap kali pesulap meninggalkan celah dalam aksinya. Begitupun dalam novel ini. Plot novel ini terasa “terlalu novel”, kalau tak mau disebut terlalu mengada-ada. Rasi berjumpa dengan Alexander di masa kecil secara tidak sengaja. Saat itu Rasi berumur lima tahun dan tersesat dalam sebuah labirin, kemudian ditolong oleh seorang anak yang lebih besar darinya. Ternyata setelah SMA, Rasi berjumpa dengan Iskandar yang merupakan kembaran Alexander, bukan dalam wujud manusia tapi ruhnya. Pertemuan pertamanya di atap sebuah mal. Secara kebetulan juga Reta teman Rasi memintanya memotret saat ia berlatih basket. Rasi berjumpa dengan Alex (Raja) yang ia kira adalah Iskandar yang ia jumpai di atap mal.

            Di lain waktu Rasi berjumpa Ayara yang tersesat, kemudian mereka bersahabat, ternyata Ayara adalah kekasih Iskandar namun ia menganggap Alex adalah Iskandar yang sudah meninggal. Tali temali kisah yang menghubungkan empat orang tokoh utama dalam novel ini bagi saya “terlalu novel”, terkesan maksa. Sisi kemanusiaan novel ini seolah hilang manakala pertalian antar plot menjadi “terlalu novel”. Ini pandangan subyektif saya yang awam. Namun, bisa jadi justru disinilah kekuatan lain dari novel ini. Kemampuan ngepas-ngepasin kisah.

Kenangan yang Lebih Nyata dari Kenyataan

            Dua dari empat tokoh utama novel adalah mereka yang terjebak dalam masa lalu, Alex dan Ayara. Mereka adalah sosok-sosok yang kediriannya didominasi oleh kenangan, gagal lepas dari masa lalu membuat mereka terjebak dalam labirin kepura-puraan. Tokoh pendukung Ibu juga mengalami hal yang sama. Mereka menolak realitas kekinian dan memilih hidup dalam kenangan.

            Pada titik inilah klimaks konflik novel terbangun. Konflik yang bermula dari kematian Iskandar, sang anak baik, cerdas dan penuh kasih sayang itu mengguncang kehidupan tokoh-tokoh lainnya; Ayara, Alex, ibu dan juga ayah. Di sisi lain, Iskandar yang meninggal juga belum benar-benar bisa pergi dari dunia karena masih terikat dengan masa lalu. Ia ingin membuat orang-orang yang ia tinggalkan bahagia. Maka ia memilih Rasi sebagai jalan menuju harapannya itu.

            Rasi dalam novel ini menjadi semacam jembatan ke semua peristiwa dan tokoh, bridging character kira-kira. Peran besar yang dimainkan oleh sosok Rasi, menjadi penentu dalam sukses tidaknya novel ini. Rasi bukan sosok yang benar-benar lepas dari kenangan (masa lalu) perjumpaannya yang janggal dengan Alex saat kecil menjadi semacam penegas bahwa Rasi juga terikat pada masa lalu dengan kuat.

            Kalau boleh menyarankan pada Mba Eva, penulis novel ini, menurut saya kepingan perjumpaan Rasi dan Alex saat Rasi berumur lima tahun itu tak harus ada. Malah ada baiknya memang tidak pernah dimunculkan. Meski saya tahu peristiwa itu dimaksudkan untuk menopang ending novel dan juga untuk memperkuat karakter Rasi, andai pun peristiwa itu tak ada rasanya tak akan berpengaruh terlalu besar pada jalannya kisah. Justru kehadiran peristiwa yang sedikit kurang rasional itu justru mengganggu kisah yang sudah sangat baik.

            Bayangkan, anak umur lima tahun bermain-main di labirin, tersesat, lalu berjumpa seorang anak laki-laki yang lebih besar kemudian merasakan getaran-getaran yang menjadi kenangan sampai puluhan tahun setelah itu. Kalau merujuk pada psikologi perkembangan anak, maka usia lima tahun belumlah sedalam itu perasaan yang muncul dengan lawan jenis. Kenangan yang membekas lama tentu saja mungkin, tapi detail perasaan yang dimunculkan terlalu mengada-ada.

            Kalau mau ditilik secara detail, penulis novel memang mewarnai kisah dengan hal-hal yang memang irasional. Masa kecil Rasi yang bermain dengan hantu kemudian perjumpaan Rasi dengan Iskandar yang sudah meninggal tentu sangat tak rasional, tapi penulis mampu mengelolah irasionalitas itu menjadi seakan rasional. Sehingga pembaca mengabaikan irasionalitas itu. Ini sebuah keberhasilan yang luar biasa dari seorang novelis.
            Andai saja adegan tersesat di labirin saat Rasi berumur lima tahun itu tidak ada, saya sebagai pembaca akan merasa lebih senang lagi. Salah satu dari tokoh utama tak larut dalam masa lalu. Sehingga ada variasi dalam karakter tokoh. *Saya jadi menebak-nebak, jangan-jangan si penulis novel juga orang yang hidup dalam kenangan.. hihihi (piss Mba Eva !)

Berdamai dengan Masa Lalu

            Albert Einstein pernah menulis “Memory is deceptive because it is colored by today's events.” Kenangan menipu karena diwarnai oleh peristiwa saat ini. Tokoh-tokoh dalam novel ini seolah membuktikan apa yang dikatakan Einstein, mereka terjebak dalam perangkap masa lalu. Persepsi mereka tentang kenangan sangat dipengaruhi kondisi terkini.

            Pada akhirnya untuk menyelamatkan saat ini (present) dan masa depan (future) maka para tokoh harus berdamai dengan masa lalu (past). Inilah tawaran yang diberikan penulis untuk mengakhiri kisahnya.

Pada akhirnya Alex berani melepas beban yang ia tanggung sebagai pengganti Iskandar, dan berani hadir sebagai dirinya sendiri. Ayara akhirnya berhenti berada dalam kepura-puraan, menganggap Iskandar yang selalu ia panggil Bim-Bim masih hidup. Sang ayah juga akhirnya memilih berhenti menganggap kedua anaknya baik-baik saja. Sang ibu juga secara berlahan memilih menerima kenyataan bahwa anak tersayangnya, Iskandar, telah tiada.

Saya suka sekali dengan cara penulis membangun ending; mistik, penuh teka teki dan romantis. Meski jujur saja saya tak terlalu suka latar lokasi ending di labirin itu J. Bagian akhir novel ini tak hanya memuaskan pembaca, tapi juga menjadi semacam pelajaran hidup bagi para pembaca. Karena pada akhirnya, tiap manusia terikat dengan banyak peristiwa di masa lalu. Baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Berdamai dengan masa lalu adalah pilihan hidup yang paling bijak dan masuk akal.

Peristiwa-Peristiwa Mengejutkan
Di bagian awal tulisan ini, telah saya sebutkan, novel ini penuh kejutan. Beberapa hal yang benar-benar menjadi kejutan dalam kisah novel ini antara lain; Keputusan Iskandar untuk bunuh diri agar Alexander selamat adalah puncak dari kejutan yang diberikan. Lalu kenyataan bahwa yang dijumpai Rasi selama ini hanya ruh dari Iskandar adalah kejutan lain. Kemudian Ayara yang tiba-tiba ingin berkunjung ke makam Iskandar, setelah sekian lama menampik kenyataan bahwa Iskandar sudah meninggal juga sebuah kejutan.

Ada juga peristiwa, ketika dalam rasa putus asanya untuk meyakinkan ibu, Alex dan Ayara agar mereka move on, tiba-tiba ayah Alex dan Iskandar muncul di sekolahnya dan memberi titik cerah bagi usahanya. Pokoknya, novel ini pantas disematkan sebagai novel yang penuh kejutan.

“Love Puzzle” dan “Wuthering Heights”




            Membaca Love Puzzle membawa ingatanku mengarah pada sebuah novel klasik  Wuthering Heights karya Emily Bronte. Wuthering Heights, kerap disebut sebagai sebuah novel cinta yang unik, mistis dengan daya tarik abadi. Tentu Love Puzzle belum sampai pada level itu, tapi kisah, kejutan, dan unsur mistik yang ditampilkan Love Puzzle membawa ingatanku pada Wuthering Heights.

            Andai saja dramatisasi dan daya cekam dalam novel Love Puzzle bisa dibuat lebih sabar dan mendalam, daya tariknya akan jauh lebih abadi bagi pembaca. Bukan sekedar bacaan selingan yang gugur dalam ingatan dalam hitungan minggu bahkan hari. Saya kira sang penulis, Eva Sri Rahayu, telah melahap banyak novel dunia yang berkualitas, termasuk Wuthering Heights, andai belum, saya merekomendasikan Mba Eva membaca Wuthering Heights.

Empat Tokoh Utama Dalam Sketsa

            Google membantuku menemukan sketsa wajah yang menurutku bisa mewakili empat karakter utama dalam novel ini.

Rasi

Alexander


Iskandar

Ayara


Epilog
            Akhirnya, review ini sepenuhnya subyektivitas saya. Banyak hal yang bisa jadi kebetulan pas tapi banyak hal yang mungkin saja tak pas atau mengada-ada. Kalau mengutip seorang filsuf, David Hume, bahwa ide bisa hadir melalui dua jalan; memori (kenangan) dan imajinasi. Maka review ini hadir dari keduanya. Memori berupa potongan-potongan novel yang membekas di ingatan dan imajinasi sebagai pembaca membayangkan apa yang ada dipikiran penulis novel ini. Semoga review ini bermakna. Salute untuk penulis Love Puzzle, sebuah novel yang layak dibaca.

Penasaran sama novel ini ??? Simak yang berikut.....





p.s.

Ada beberapa kalimat penuh inspirasi dalam novel ini...
  •          “Enggak ada tukang sulap yang membuka kartunya.” (hlm. 39).
  •          “Kenangan kadang terasa lebih nyata dari kenyataan. Seberapa pun besarnya perjuangan membuat       kenangan itu jadi nyata, kenangan hanya hidup dalam ingatan.” (hlm.68).
  •          “...saya memutuskan untuk jujur dan berdamai dengan masa lalu”(hlm.259).
  •          “Mana ada cowok baik yang marah-marah terus memukul tembok sampai retak ?” (hlm. 43)
  •          “...apa yang terlihat bisa menipu, tapi hati selalu tahu kebenarannya. Selalu dengarkan kata                   hatimu...” (hlm. 96)
  •          “Penindas Cuma sekumpulan orang bodoh yang pura-pura bersahabat.” (hlm.107)
  •          “..memberikan kepuasan yang ganjil.” (hlm. 145)
  •          “Menggambar bisa jadi media terapi, dan ternyata bener ! it works !” (hlm. 206)
  •          “Takdir sungguh lucu, seperti sebuah permainan.” (hlm. 214)
  •          “Cinta dilahirkan, bukan diciptakan.” (Hlm. 234)
  •          “Cinta bukan ‘tidak harus memiliki’, tetapi memang ‘tidak semua cinta bisa dimiliki’ (hlm.234)

Detail Buku : 

Judul : Love Puzzle
No ISBN : 9786021606049
Penulis : Eva Sri Rahayu
Penerbit : Noura Books
Terbit : November 2013
Jumlah Halaman : 284
Jenis Cover : Soft Cover
Harga : Rp. 49.000

   Review ini dibuat dalam rangka meramaikan ;





        

Sumber foto : koleksi pribadi/huzer apriansyah
Sumber sketsa : 1. ashnovember.com
                     2. colourbox.com
                     3. deviantart.com
                     4. deviantart.com

Tuesday, January 21, 2014

  • January 21, 2014

A. Bebuka

Lan Fang, nama ini tak asing, tapi karya-karya beliau jujur saja masih terasa asing bagi saya. Saya memaksa diri untuk membaca karya terakhir beliau, sebuah novel yang pernah menjadi cerita bersambung di harian kompas, Ciuman di Bawah Hujan (CDBH).

Dengan segala hormat dan salut kepada penulis, yang kini telah berbaring damai di peristirahatan terakhirnya. Harus saya akui, saya hampir-hampir tak bisa menyelesaikan sepuluh halaman pertama novelnya. Begitu banyak ambiguitas dalam halaman-halam pertama itu. Betapa banyak pula hal yang dipaksakan. Saya sendiri bukan kritisi yang paham seluk beluk teori dan dinamika kritik sastra. Saya hanya menggunakan perangkat pengetahuan sederhana dan perasaan yang sederhana saja sebagai orang yang senang, bahkan teramat senang membaca karya sastra yang dihasilkan orang-orang Indonesia, baik mereka yang mengaku atau diakui sebagai sastrawan maupun yang bukan.

Karya-karya yang dengan tegas dan kuat menjadikan realitas keseharian baik remeh temeh, atau yang besar dan luar biasa, sangatlah membuat saya tertarik. Sastra yang hidup dan mengalir bersama realitas keseharian pembacanya selalu punya kekuatan untuk dinikmati. Maka membaca sekilas Ciuman di Bawah Hujan, membawa saya pada kesimpulan bahwa novel ini cukup kuat membawa realitas kebangsaan kita dalam alur dan penokohannya.

Hanya saja novel atau cerpen atau karya apapun yang membawa realitas kebangsaan kita sebagai latar kerap kali terjerumus dalam pusaran kegelapan, kalau meminjam istilah Sindhunata dalam Tak Enteni Keplokmu (1999) petheng dedet, gelap gulita. Bahkan kadang membawa penulis pada kondisi yang nihil. Begitu pucat masainya kah negeri kita ini ? Masing-masing kita punya cara pandang untuk menjawab pertanyaan itu. Termasuk penulis dalam novel ini, ia punya cara pandangnya sendiri.

Novel Ciuman di Bawah Hujan ini, begitu ambisiusnya membawa realitas ke-Indonesiaan kita ini ke dalam alur kisahnya. Bayangkan saja, penulis menjejalkan realitas tentang kehidupan buruh migran perempuan (Penulis novel menggunakan istilah TKW). Di awal novel saja latarnya adalah diskusi para TKW tentang cerpen yang mereka hasilkan. Acara diskusi diikuti oleh cukup banyak peserta. Mereka adalah para TKW beserta teman-temannya…(CDBH : 13), sosok Aida yang meski sekilas tapi cukup menjadi ‘jembatan’ bagi berlangsungnya kisah, yang merupakan seorang aktivis sosial yang konsen terhadap isu buruh migran. (CDBH : 23). Satu hal yang juga paling menonjol adalah novel yang ditulis oleh tokoh utama, Fung Lin. Novel yang ditulis Fung Lin mengangkat sosok Ngatinah, seorang buruh migran di Hongkong, dengan segala romantika kehidupannya.

Lalu kehidupan politik para anggota dewan perwakilan rakyat, hal ini terwakili dari dua tokoh dalam novel ini, Rafi dan Ari. Lan Fang juga menjadikan peristiwa seputar reformasi 1998 sebagai salah satu latar dalam novelnya (CDBH : 180-189, Rintik 19, ASAP) dan kehidupan warga keturunan Tionghoa yang terepresentasi dari kehidupan tokoh utama Fung Lin. Novel ini mencoba benar-benar lekat dengan berbagai realiats kebangsaan kita.

Tentu saja realitas “besar” seputar ke-Indonesian kita bisa menjadi semacam kekayaan atau kekuatan tersendiri dalam novel ini, tetapi ambisi membungkus beragam realitas ini justru bisa membuat novel terasa terlalu sarat beban. Ibarat perahu kecil yang bergerak di Sungai Kapuas dengan muatan penuh, membuat perahu serasa mau tenggelam, jadilah penumpang didalamnya selama perjalanan disesaki dengan perasaan khawatir perahu tenggelam, bukan justru menikmati tiap jengkal keindahan dan keunikan Sungai Kapuas itu sendiri.

Tapi secara umum, saya membagi realitas ke-Indonesia yang muncul dalam novel ini dalam dua hal besar; politik dan identitas. Maka dua hal tersebutlah menurut saya yang menjadi semacam bangunan dalam novel ini, sedangkan kisah asmara dan romansa cinta antar tokoh adalah cat atau penghias dari bangunan novel ini.

Oh ya, istilah bebuka sendiri saya ambil dari novel Lan Fang, pengantar novel Ciuman di Bawah Hujan ia namai bebuka, istilah yang Lan Fang dapatkan dari KH. Saifuddin Zuhri dalam pengantar bukunya “Guruku Orang-Orang Pesantren” (1974).

B. Sekilas Tentang “Ciuman Di Bawah Hujan”

Novel dengan tebal kurang lebih 356 halaman ini sesungguhnya bisa dibilang novel panjang, namun jika kita lihat lebih teliti, ketebalan novel ini ada hubungannya dengan kehadiran novel di dalam novel. Novel Ciuman di Bawah Hujan ini sesungguhnya juga memuat novel lain yang “dikarang” oleh Fung Lin, tokoh utama novel.

Secara umum novel ini beralur campuran, maju dan mundur (sesuka penulisnya) tanpa memikirkan kenyamanan pembaca, yang bisa saja berasal dari berbagai latar belakang dan kemampuan. Misal saja pada bagian awal novel, Fung Lin, sang tokoh utama tengah berada di gedung wakil rakyat.

Seumur-umur, ia tidak pernah membayangkan akan masuk ke gedung yang dinamakan kantor dewan perwakilan rakyat (CDHB :12). Lalu tiba-tiba pembaca dibawa lagi berlari ke sebuah latar diskusi cerpen yang diikuti para TKW dan membahas cerpen karya para TKW di Hongkong. Pembaca bingung sebenenarnya lokasi diskusi di Hongkong atau di Indonesia. Belum sampai tuntas kebingungan pembaca (minimal saya), tokoh utama sudah masuk ke lamunannya lagi. Sehingga alur kisah dua kali mundur. Selanjutnya tokoh utama kembali ke realitas kedua (realitas dalam lamunan).
Fung Lin di Gedung DPR

Fung Lin di lokasi diskusi cerpen

Fung Lin kecil meliput festival kebudayaan

Alur seperti ini tentu saja tak akan ada masalah bagi penulis karena ia menguasai alur dan lakon di kisah yang ia buat. Ini juga terobosan dalam alur. Karena kebiasaan umum alur maju, atau alur mundur sekali. Tapi jangan lupa, pembaca akan mengalami kebingungan, disorientasi waktu. Ini kesan pertama saya ketika membaca sekitar sepuluh halaman pertama. Kepala pusing karena disorientasi waktu.

Sepuluh Halaman Awal yang Gundah

Sepuluh halaman awal novel (dimulai dari halaman 11) terasa sekali penuh dengan fase “mencari bentuk”, alur yang masih membingungkan, tokoh yang mewujud masih pula membentuk karakternya. Ada tiga tokoh yang muncul pada fase awal ini, Fung Lin sebagai tokoh utama, Ari sang wakil rakyat yang merakyat dan Aida seorang aktivis. Aida muncul semacam ‘jembatan’ yang mempertemukan dua tokoh yang jauh lebih banyak peran dalam novel ini, Fung Lin dan Ari.

Sayangnya peran gantung Aida ini telah menciptakan ambigu, satu yang paling nampak adalah ketika, Apalagi ketika Aida berbisik, “Sssttt… dia pejabat. Kamu baik-baiklah padanya. Dia banyak uang.” (CDBH:27). Penulis secara tidak sadar telah membunuh karakter tokoh Aida. Bayangkan, ia aktivis sosial, yang harusnya independen, bervisi dan punya martabat justru dimunculkan dengan kalimat di atas. Padalah jika dilihat dalam konteks rintik (bab) 2, tidak muncul kalimat itupun tidak akan jadi masalah.

Tapi sesungguhnya apa yang ditampilkan oleh penulis bisa juga menjadi semacam cerminan realitas aktual dari kehidupan aktivis sosial kita hari ini. Sikap yang mendua dari aktivis sosial, menghujat pejabat tapi di saat yang sama menadahkan tangan. Tanpa dinyana, di halaman-halaman bagian tengah, ternyata Ari juga menjadi semacam jembatan antara Fung Lin dan Rafi. Ini tentu saja memberi efek kejut bagi pembaca, tapi di sisi lain, tokoh-tokoh ‘jembatan’ ini tak terlalu memberi warna dalam keseluruhan kisah.

Selanjutnya ambigu logika juga terjadi dari beberapa hal yang muncul di awal, mari cermati beberapa hal berikut ;

…Fung Lin baru bekerja sebulan di harian dengan oplah cukup besar (CDBH; 12)
Tapi kemudian, dalam alur mundur ketika Fung Lin berada dalam diskusi bersama TKW Fung Lin teringat peristiwa liputan yang pernah ia alami,

…Fung Lin pernah meliput acara pembukaan festival kebudayaan berskala internasional (CDBH: 17).

Dua hal ini menurut saya yang membuat pembaca awam terasa janggal, karena kontradiktif dengan logika umum. Logika umum, dalam waktu sebulan seorang wartawan pemula seharusnya berada pada fase ujicoba, tapi kemudian tergambar bahwa Fung Lin sudah meliput banyak hal. Sah-sah saja penulis punya asumsi macam-macam tentang si tokoh utamanya, termasuk asumsi bahwa di tokoh utama pernah jadi wartawan di tempat lain sebelumnya. Namun, di halaman-halam berikutnya diketahui bahwa Fung Lin baru pertama bekerja sebagai wartawan. Maka ada semacam kerancuan logika.

Belum berhenti sampai disana saja kegundahan di awal-awal novel ini. Pertemuan antara Fung Lin dan Ari juga menjadi sangat ganjil dan mengada-ada. Bayangkan Fung Lin hendak mewawancarai seorang anggota dewan dalam sebuah acara, mereka duduk bersebelahan dalam acara tersebut. Si Fung Lin yang wartawan tidak mengira di sebelahnya adalah sang wakil rakyat, karena penampilan sederhananya yang merakyat. Ini sebuah acara yang bisa di bilang semi formal, dan kebanyakan peserta adalah TKW (tenaga kerja wanita), nah ada seorang laki-laki hadir disana, di sebelahnya pula. Alangkah agak lucunya, jika insting sang wartawan tak bekerja dengan ‘keganjilan’ itu. Bukankah menarik mencoba mewawancarai seorang lelaki yang ada di tengah kumpulan banyak perempuan. Terlepas dari apakah dia pejabat itu atau bukan.

Memasuki bab kedua, yang masih saya anggap bagian awal novel, saya mulai bisa menikmati laju cerita, meski masih mengalami disorientasi waktu, tapi sudah mulai ada kenyamanan. Namun, sayang seribu sayang di tengah waktu yang tak tentu, penulis memaksa pembaca berada dalam lamunan tokoh utama akan masa kanak-kanaknya ketika menyambut presiden. Lalu di rintik ketiga muncul lagi lamunan Fung Lin bersama Anto. Ari membuat Fung Lin teringat Anto, Ari menjadi dua jembatan sekaligus, jembatan Fung Lin ke Rafi (masa depan) dan juga jembatan ke Anto (masa lalu). Ah, sungguh novel yang banyak melamun, pikirku.

Awal-awal novel ini sungguh sebuah tantangan bagi pembaca amatir seperti saya. Pembaca diharuskan memahami si penulis. Eef Saefullah Fatah, pernah menulis, jangan pikirkan apa pendapat pembaca tentang tulisanmu kelak, tentu saja itu benar untuk menyemangati penulis. Tapi kalau memang sebagai penulis tak perlu memikirkan apa kata pembacanya kelak, maka tak usah saja terbitkan tulisan kita. Pendapat di atas baik pada satu sisi tapi naïf pada sisi lain.

Pada fase awal membaca novel ini, sungguh bukan pekerjaan mudah buat saya, pembaca awam. Yang melihat sebuah karya berdasarkan perasaan nyaman atau tidak saja. Nah, novel ini sungguh tak membuat nyaman.

Tapi, saya kemudian bertanya. Pasti ada yang salah dengan saya sebagai pembaca, karena taklah mungkin harian sekaliber Kompas rela hati menerbitkan novel ini sebagai cerita bersambung jika novel ini tak istimewa, saya melanjutkan membaca walau dengan tertatih-tatih.

Tapi prasangka buruk saya mengatakan; perempuan, keturunan cina, kisah tentang politisi. Mungkin tiga hal itu yang membuat novel ini mendapat apresiasi luar biasa dari Kompas. Penulisnya perempuan, keturunan cina dan mengangkat kisah yang ada unsur kehidupan para politisinya. Di awal membaca, itulah yang terbersit. Kualitas novelnya sendiri masih belum bisa saya rasakan.

Sisi Tengah yang Mengalir

Romansa asmara lebih mendominasi pada bagian tengah novel, hubungan Fung Lin-Ari dan Fung Lin-Rafi serta Fung Lin-Anto menjadi semacam tali temali yang mengikat pembaca. Belum lagi ada percikan hubungan Fung Lin-Udin, sahabat di masa kecil, masih pula ada hubungan Fung Lin-Lie Ming. Wah, sosok Fung Lin yang nampak tak berdaya dengan segala kemarjinalannya menjadi seolah meloncati nasib manakala lima laki-laki yang luar biasa itu mampu digenggam Fung Lin.

Memang nyaris tak ada adegan seks yang berarti di novel ini, tapi melihat tali temali romansa yang melibatkan tokoh utama, Fung Lin, saya merasa adegan seksnya terbangun lebih kuat di kepala pembaca tinimbang adegan seks itu muncul secara gamblang.

Kisah yang mengalir di bagian tengah novel ini sudah sangat membuatku nyaman membacanya, tapi dengan tanpa alasan yang bisa dipahami mengapa tiba-tiba penulis memaksakan diri memasukkan novel karya Fung Lin ke dalam alur kisah. Jujur saja bagi saya ini merusak kenyamanan. Kisah Ngatinah dalam novel yang dibuat Fung Lin benar-benar terasa dipaksakan. Kalau tak mau dibilang nambah-nambahin halaman saja.

Memang ada pesan seputar kehidupan TKW dalam kisah novel dalam novel itu, ada perjuangan, ada dilema dan ada juga pencarian identitas si tokoh Ngatinah. Namun, apakah perlu menjejalkan kisah itu ke dalam novel yang sedari awal memang agak ‘kusut ini’, itu yang ada dipikiranku.

Bagian Terakhir yang Membingungkan

Novel yang nampak serba dipaksakan ini mencapai antiklimaksnya di bagian-bagian akhir. Bayangkan Fung Lin mendapat kerja di depot lumpur. Tentu dengan latar Surabaya-Sidoarjo yang dimunculkan, semua pembaca bisa mengira kemana maksdunya, lumpur Lapindo. Tapi depot yang ternyata tempat makan itu, berubah menjadi episode yang benar-benar paling tidak masuk akal bagi saya, kalau tak mau disebut teramat sangat dipaksakan. Inilah klimaks dari segala sesuatu yang dipaksakan dalam novel ini. Simak hal berikut.

Fung Lin mengkeret di balik pintu (pintu depot lumpur) Kali ini ia merasa jantungnya benar-benar berhenti berdetak. Seluruh darahnya tersirap, tersedot ketakutan. Bahkan untuk bernafaspun ia harus berhati-hati. Ia tidak mau gerombolan tikus itu tahu ia mengintip mereka. Bisa jadi nanti mereka menyerangnya beramai-ramai lalu menggerikitinya juga. (CDBH: 292)

Jarak Ketua Dinar (tikus terbesar di depot lumpur) semakin mendekati Fung Lin, Ketua Dinar mengeram halus tetapi penuh ancaman. Seringainya menampakkan taring-taring tajam. Fung Lin bukan merasa takut. Melainkan ia merasa jijik sekali. Ia harus minta tolong pada seseorang. Ia tidak mau mati sia-sia dikeritiki tikus. (CDBH :299)

Oh Tuhan, mengapa novel yang di awal dibangun dengan segala rasionalitas, kritis dan juga realistis itu tiba menjadi sangat absurd. Depot makanan diserbu sekawan tikus, dan di depot itu hanya ada Fung Lin seorang menghadapi tikus. Tentu tafsir akan simbol tikus dan depot lumpur itu bisa bermakna politis, tetapi sayangnya loncatan novel dari realis menjadi absurd telah mengusutkan kisah.

Belum berhenti disana. Fun Ling menerima hadiah sepasang hamster dari Rafi, hamster ini beranak 44 dan kemudian hamster memakan ke 44 anaknya, karena kesal Fung Lin menghidangkan dua hamster itu di kandang harimau. Matilah dua hamster itu, ia kirim email ke Rafi mengabarkan hal itu, Rafi sibuk berkampanye, ia ingin Rafi tak usah menjadi poltiisi lagi.

Atas nama “tidak menyelesaikan pun itu adalah sebuah penyelesaian” (CDBH:356), penulis memilih tidak memberi ending pada novel ini. Baiklah, itu pilihan penulis dan juga langkah kreatif. Tapi tahukah, saya seperti ingin mengutuk diri, karena telah membaca novel ini.


C. Indonesia, Identitas dan Bangsa yang Nyaris Jadi…

Salah satu kekuatan utama novel ini adalah para tokoh-tokoh dalam novel.
Tokoh Identitas Umum Unsur Politis Identitas
Fung Lin Keturunan Tionghoa kenerasi kedua, perempuan, miskin, keras kepala, pernah jadi wartawan Keturunan Cina, Perempuan, Marjinal
Ari Politisi DPRD, baik, pengertian, lembut, merakyat Pribumi, politisi
Rafi Politisi DPRD, baik, keras, merakyat Pribumi, politisi
Anto Mahasiswa, aktivis, ketua senat, baik, kaya, tidak sombong Jawa, aktivis
Lie Ming Pengusaha, Keturunan Tionghoa, Kaya, Pendiam Keturunan Cina, pengusaha
Aida Aktivis sosial, baik berkomunikasi Aktivis sosial
Udin Miskin, pencuri, suka berkelahi Marjinal, anarkis
Ngatinah TKW, Jawa TKW
Bibi Tua Perempuan Jawa, lembut, pikun, bersahaja __
Mama Keturunan Tionghoa generasi kedua, perempuan, miskin, keras kepala __
Pedagang Jeruk Miskin, keras __
Ibu Anto Kaya, istri pejabat, angkuh __

Masing-masing tokoh memiliki semacam identitas yang melekat dan ingin ditonjolkan oleh penulis. Namun diantara semua itu ada dua kelompok besar identitas yang sangat menonjol, yaitu identitas si tokoh utama, Fung Lin dan dua politisi Ari dan Rafi. Faktor identitas tentu saja menarik untuk dibahas karena penulis buku ini sendiri memiliki identitas yang khas. Lan Fang, keturunan Tionghoa, perempuan dan banyak berkegiatan sosial di Surabaya.

Penulis yang Gagal “Bersembunyi”

Bagi orang yang mengenal dekat Lan Fang, penulis novel ini. Saya sangat yakin jika tokoh dalam novel ini seperti sedang mewakili sosok penulisnya. Saya menyebut tokoh Fung Lin dan Ngatinah adalah Lan Fang dalam wujud lainnya (altar ego). Mari kita bandingkan sosok penulis dan tokohnya.

Unsur Lan Fang (penulis) Fung Lin Ngatinah
Kelamin Perempuan Perempuan Perempuan
Keturunan Tionghoa Tionghoa Jawa
Keseharian di Surabaya Surabaya-Sidoarjo Asal Jawa Timur
Hobi Tulis Menulis Impian menjadi penulis __


Cenderung ada kesamaan antara penulis dengan tokoh yang dimunculkan. Tentu saja adalah lumrah jika tokoh yang lahir sangat dipengaruhi subyektifitas dan pengalaman yang sifatnya personal dari penulis. Dalam konteks Lan Fang dan Fung Lin, bahkan dari nama saja cenderung mirip. Hanya dua huruf saja yang membedakan. Ada semacam ketaksengajaan yang sengaja. Seperti yang dikemukakan penulis di bagian bebuka novel, mengutip konsepsi Garl Gustav Jung, tentang alam bawah sadar yang mempertemukan manusia satu dengan yang lain secara “kebetulan”.

Diluar subyektifias penulis akan kisah dan tokoh-tokohnya. Saya justru menangkap, penulis sedang ingin menyuarakan sesuatu lewat kisah dan tokoh yang ada. Kalau merujuk pada pemikiran Gayatri Spivak, Lan Fang sedang menyuarakan suara subaltern, mereka yang termarjinalkan karena faktor sejarah yang direduksi, budaya yang hegemonik dan politik yang tiran (Stephen Morton:2008).

Sosok Fung Lin yang keturunan Tionghoa, perempuan dan bukan dari kalangan berada, sungguhlah tepat mewakili kelompok ini. Sebut saja kondisi Fung Lin yang selama kuliah harus naik angkot, kemudian bukan pengusaha sukses, dan hidup dalam kesulitan, termarjinalkan dalam ruang politik menjadi semacam representasi dari kelompok subaltern. Begitupun dengan sosok Ngatinah, Jawa, buruh migran, dari keluarga miskin.

Identitas Keturunan Tionghoa
Sebagaimana kita ketahui, masyarakat secara luas cenderung mengasumsikan bahwa kelompok keturunan Tionghoa adalah kelompok masyarakat yang berkemampuan, pengusaha sukses, cenderung eksklusif dan hidup bahagia karena berkecukupan. Melalui sosok Fung Lin, asumsi umum tentang keturunan Tionghoa tersebut menjadi tak terlalu tepat. Ada semacam upaya sadar dari penulis untuk meruntuhkan asumsi umum masyarakat tentang entitas keturunan Tionghoa di tanah air.

Keturunan Tionghoa bisa saja miskin, bisa saja melarat, bisa saja sangat terbuka dan inklusif. Fung Lin membuktikannya dalam novel ini. Begitupun dari kehidupan nyata sang penulis (Lan Fang) yang dikenal sangat dekat dengan para kyai di pesantren-pesantren di Jawa Timur. Menjadi semacam mentor bagi para santri yang berminat pada sastra, juga bergaul luas dengan berbagai kelompok masyarakat.

Namun, diluar bahwa Fung Lin adalah sosok yang berbeda dari kebanyakan realitas nyata di kehidupan tetapi di masa kecil, Fung Lin tetaplah hidup seperti anak-anak keturunan lainnya, terpisah dari realitas sekitarnya yang mayoritas pribumi. Hal ini bisa dilacak di rintik 21.

Dari jendela ini, ia (Fung Lin) bisa melihat lapangan yang masih berupa tanah yang terdiri dari pasir dan kerikil. Di sana banyak anak-anak bermain sepakbola dan petak umpet. Pekikan mereka nyaring dan riang sampai ke gendang telinga Fung Lin (CDBH: 199-200)
Pada halaman lain,
Fung Ling menggeleng dan menggoyangkan tangannya. Ia tidak berani. Pasti mama dan papa akan marah bila ia bermain dengan anak-anak yang belum dikenalnya. Bermain hujan, lagi. Ia pasti basah, becek, kotor dan akan sakit. (CDBH : 200)
Lalu ada juga,
Fung Lin langsung berlari ke belakang. Ia menerjang hujan. Dibiarkannya hujan membasahi seluruh tubuhnya. Ini pertama kali ia merasakan kakinya bersentuhan dengan tanah basah. Ini pertama kalinya ia merasakan ada air dari langit yang memabasahi kepalanya, rambutnya, wajahnya, dan tubuhnya. (CDBH : 202)

Petikan-petikan dalam novel ini menunjukkan bahwa di masa kecilnya, Fung Lin, terpisah dari realitas keseharian anak-anak kampung dekat ruko orang tuanya. Tetapi ia menerobos, melawan sekat yang dibangun oleh persepsi satu sama lain. Persepsi Fung Lin dan keluarganya tentang anak-anak pribumi dan persepsi anak-anak pribumi terhadap “anak Cina”.

Puncak dari segala proses crossing the border (melintas batas) yang dilakukan Fung Lin adalah ketika ia bersama Udin belajar menjadi pencuri di pasar, bukan hal besar yang mereka curi hanya sebutir jeruk (CDBH : 254-265). Tapi proses belajar mencuri ini adalah semacam puncak dari perjuangan Fung Lin untuk menjadi bagian dari pribumi. Sekaligus di saat yang sama ia mulai memilki kesadaran yang sifatnya profane¸ manakala menyadari anak pedagang jeruk yang dalam kacamatanya adalah sosok anak tak terurus dan miskin justru lebih kaya darinya. Persis saat anak tukang jeruk itu memberinya sebutir jeruk setelah ia mengembalikan jeruk hasil curiannya.

Sayang kisah yang begitu syahdu dan mengharukan ini harus dipaksa endingnya dengan masuknya sosok tikus yang diamati oleh Fung Lin. Sehingga muncul kesadaran bahwa pencuri sama dengan tikus, tak berani keluar menatap matahari. Si tikus justru merusak jalinan cerita yang sudah berlangsung secara alamiah.

…Dan tempat yang pantas untuk pencuri adalah kegelapan. Lin, kamu tidak akan pernah menemukan tikus yang berani menatap matahari…(CDBH : 276). Ah mengapa, penulis terlalu berambisi memasukkan kisah tikus ini ke dalam cerita di rintik 29.

Melalui pengalaman melintas batas ala Fung Lin di masa kecilnya, penulis seolah ingin memberi semacam tips kepada orang-orang keturunan Tionghoa untuk meloncat dari zona nyaman dan aman mereka. Selanjutnya berhenti berbuat dan berpikir hanya dengan asumsi atas realitas yang mereka lihat. Jadilah bagian dari realitas itu jangan sekedar menjadi penonton. Hanya dengan jalan itu pengakuan atas keIndonesiaan mereka bisa terjadi.

Di sisi lain, lewat Udin, penulis juga sedang memberi semacam sinyal kepada orang Indonesia yang bukan keturunan, bahwa orang keturunan bisa saja menjadi bagian yang utuh dari identitas bernama Indonesia, baik atau buruknya Indonesia ini, mereka juga berkontribusi.

Sebagaimana Benedict Anderson dalam Imagined Communities (1983) menyebut Indonesia kita ini sebagai contoh paling nyata dari bangsa yang dibangun diatas imajinasi. Karena secara jelas tak ada kesamaan yang prinsipil terkait suku, ras atau agama yang bisa menyatukan nusantara menjadi Indonesia. Oleh karena itu proses menjadi Indonesia adalah proses dinamis, selalu bergolak dan pasang surut.

Begitupun proses pembauran antara keturunan Tionghoa dan pribumi. Lan Fang lewat novel ini mencoba memberi sentuhan pada proses pembauran itu. Pembauran yang alamiah yang terjadi pada kanak-kanak jauh lebih kekal dibanding dengan pembauran yang seremonial, misalnya lewat organisasi formal atau sejenisnya. Keberanian melintas batas, meloncat dari zona nyaman, keberanian untuk menjadi bagian adalah kunci pembauran tersebut.

D. Politik Indonesia Antara Kutukan dan Harapan 

Aroma politik memang kental terasa dalam novel ini, dua tokoh dalam novel adalah “pemain” politik, Ari dan Rafi adalah wakil rakyat, ditambah lagi dengan Anto yang merupakan aktivis kampus. Di sisi lain, dinamika politik lokal Jawa Timur juga ikut memengaruhi novel. Istilah depot lumpur, kemudia episode kisah absurd tentang tikus-tikus besar di depot lumpur serta berbagai keluh kesah tentang para politisi menjadi teorema kisah Ciuman di Bawah Hujan ini.

Tentu novel ini bukan novel politik, apalagi novel biografi politik, tapi mmebaca novel ini seperti membaca realitas politik keseharian yang kita sering baca di koran-koran atau saksikan di televisi. Novel ini merekam hal itu, tetapi dalam bentuk yang lebih dekat, personal dan intim.

Imajinasi Politik Orang Kebanyakan

Keluh kesah dan kebencian pada para politisi dan perilaku politik elit bertubi-tubi-tubi muncul dalam novel ini. Hampir tak ada bab yang tak berisi keluh kesah politik. Mari kita simak beberapa kegeraman penulis pada para politisi dan perilaku mereka.

Fung Lin tidak pernah tahu dimana orang-orang (wakil rakyat) itu bisa ditemui? Atau seperti apakah orang-orang yang dinamakan wakil rakyat itu … (CDBH:12)

Tetapi apakah orang itu –pejabat itu—mempunyai kepedulian untuk menyelesaikan permasalahn yang muncul di masyarakat ? (CDBH:15)

…di mana-mana wajib hukumnya bila para hadirin menunggu pejabat. Karena sebelum pejabat datang maka acara tidak akan dimulai. (CDBH :16)

Pejabat koq suka terlambat? Masak untuk mengatur waktu saja tidak bisa? Bagaimana dia bisa mengatur rakyat? CDBH: 23)

Setiap hari masih saja ada berita pungutan liar oleh pejabat, juga ada berita penyimpangan dana bantuan…. (CDBH : 330)

Ada seratus satu lagi nukilan dalam novel ini yang mencerminkan betapa geram dan kesalnya penulis pada realitas politik di negeri kita. Tapi pada akhirnya, seperti kebanyakan kita, menghabiskan waktu dalam kegeraman dan kehilangan energi untuk mengumpat. Hingga kita lupa bagaimana berbuat, kesimpulan akhirnya Fung Lin, ingin Rafi berhenti dari politik dan menjadi orang biasa saja.

Oh, alangkah sayangnya segala gejolak dalam novel ini seolah menjadi anti klimaks manakala sosok yang dianggap sangat baik dan lurus oleh Fung Lin, tak ia relakan untuk terus berpolitik. Ini semacam mengamini opini kebanyakan, kalau ingin tenang dan damai jangan masuk ke dunia politik. Politik itu kotor. Jika orang-orang bersih dan berhati nurani tak ada yang berani berjibaku di ranah politik praktis, jangan salahkan jika politik di negeri kita makin kacau balau.

Konstruksi berpikir ala Fung Lin yang ditawarkan oleh penulis, sama sekali tak memberi terobosan berarti dalam upaya bersama memperbaiki realitas politik tanah air. Orang-orang baik seolah didorong untuk selalu berada di menara gading yang terpisah dari realitas keseharian. Cara merebut kekuasaan dan untuk apa kekuasaan adalah realitas yang harus digauli, bukan sekedar ditonton. “Orang-orang baik” harus berani menjadi pemain bukan penonton yang sekedar berkomentar sumbang.

Tapi dibalik segala pucat masai realitas politik keseharian bangsa kita yang ditampilkan dalam novel ini, penulis tidak kemudian menampilkan antipati pada politik. Ia justru mencoba tetap optimis, bahwa dibalik gelap gulitanya kondisi elit politik kita, masih terselip satu dua orang-orang baik, yang berjibaku. Meski pada akhirnya orang-orang baik itu berada pada titik yang begitu rentan dan cenderung bisa hanyut bahkan hancur kapanpun.

Hal ini juga bagian dari imajinasi politik kebanyakan orang di republik ini. Orang-orang baik yang berada di kubangan lumpur, maka ia akan ikut berlumpur, atau paling tidak bernoda

***
Sampai menamatkan dan membaca berulang kali Ciuman di Bawah Hujan ini, saya belum menemukan alasan mengapa Kompas layak mengangkatnya sebagai cerita bersambung. Dugaan saya masih sama; pengarangnya keturunan Tionghoa, perempuan pula, dan yang ditulis romansa politik.
Novel yang begitu sarat beban ini, memang tak sampai membuat perahu yang membawanya tenggelam, tapi sekali lagi ibarat perahu yang mengarungi Sungai Kapuas di Kalimantan sana (Lan Fang juga lahir di Kalimantan), muatan perahu begitu sarat, hingga nyaris tenggelam. Penumpang perahu memang tak sampai tenggelam, tapi sepanjang perjalanan ia berada dalam kekhawatiran perahu akan tenggelam, sehingga keindahan dan keunikan Sungai Kapuas itu sendiri menjadi terabaikan untuk dinikmati. Perumpamaan itu menjadi semacam perumpamaan yang tepat bagi novel ini, setidaknya tepat menurut saya. 

Kursus menulis ya disini...


BAHAN BACAAN

Anderson, Bennedit.2012. Imagined Communities : Komunitas-komunitas Terbayang. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Fang, Lan. 2010. Ciuman Di Bawah Hujan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Fromm, Erich. 2007. Cinta, Seksualitas dan Matriarki. Yogyakarta : Jalasutra.
Morton, Stephen. 2008. Gayatri Spivak :Etika, Subaltern dan Kritik Penalaran Poskolonial. Yogyakarta: Pararaton Press.
Purnama, Puji. 2010. Analisis Gagasan Lan Fang Dalam Ciuman di Bawah Hujan (makalah).





Friday, January 3, 2014

Apa Indonesia bagimu ? “Tempat yang ditakdirkan untuk saya belajar bagaimana berbeda, bagaimana bersatu, dan bagaimana untuk tak putus asa.”
(Goenawan Mohamad dalam “Pagi dan Hal-hal yang Dipungut Kembali”, 2002)
huzer apriansyah
Hari-hari di republik ini sungguhlah tak mudah, terutama bagi mereka yang masih resah atas apa-apa. Sebut saja korupsi yang menggila, tak peduli perempuan atau laki, tua atau muda, dari partai biru, kuning atau merah, semua nyaris sama saja. Sebut pula bagaimana negeri ini karut marut menata sumber daya alamnya. Kalau semua harus diurut, banyak sekali hal-hal yang mengundang resah.

Kalau mau jujur, rasanya hilang akal dan selera untuk memperjuangkan hal-hal baik di sebuah negeri yang sekian lama lupa diri pemimpinnya. Tapi seperti kata Goenawan Mohamad di atas, bagaimana untuk tak putus asa. Indonesia adalah sebuah proses, ia tak pernah menemukan bentuk finalnya, demikian kira-kira.

2014, ya ini tahun yang krusial bagi negeri ini. Titik dimana kedewasaan kita sebagai rakyat diuji. Pemilihan umum (Pemilu), bagi saya tak ubahnya bagai ujian atas kedewasaan penghuni negeri. Mereka yang masih kekanak-kanakan menjadikan ini sebagai sarana mewujudkan ambisi bahkan obsesi, mereka juga berjibaku mencari upeti untuk mengisi pundi-pundi. Bagi yang berpikir dan bertindak dewasa, mengkaji peluang-peluang memperbaiki negeri.

Berharap pada kekuatan politik yang ada memang kadang membuat nyeri hati, tapi kalau kita hanya menerima suratan nasib, ya bersiap lagi untuk kecewa. Pemimpin dan kepemimpinan adalah sesuatu yang bisa dilahirkan. Sosok-sosok yang baik dan bersih sesungguhnya bertebaran di antero republik. Kadang kala hanya malu atau tak berani saja untuk tampil ke muka. Atau kadang-kadang sudah merasa skeptis atas realitas yang ada. Kalau kita-kita bisa mendorong orang-orang baik dan bervisi ini untuk tampil ke muka dan menyakinkan bahwa kita bisa berjuang bersama, saya yakin harapan akan selalu ada.
Berjuang lalu kalah tentu saja lebih baik daripada tak berbuat apa-apa.
***
Sebuah senja di akhir bulan kelima yang lalu, aku duduk di sudut ibukota menyaksikan ibu-ibu sesama pedagang bercengkerama sembari menanti pembeli. Ada seorang ibu menyebut salah satu tokoh politik, ia bercerita kalau minggu lalu suaminya mendapat bantuan modal dari pertai si tokoh. Ibu yang satu tak mau kalah ia menyebutkan kalau anaknya dapat beasiswa dari tokoh yang lain. Ibu ketiga hanya diam, seperti tak tertarik pada perbincangan.

Dua ibu yang tadi terus nyerocos memuji masing-masing tokoh andalannya. Menarik rasanya melihat politik menjadi perbincangan siapa saja, dimana saja dan kapan saja. Kalau ingat masa-masa sebelum 1998, ini hal langka. Setelah sekian lama bungkam, ibu ketiga angkat bicara “Kalau saya mudah saja, asal mereka tidak korupsi dan mau berjumpa dengan rakyat seperti kita, cukuplah,” ada semacam rasa menyerah dari ibu yang ketiga itu.

Mungkin si ibu ketiga sudah merasa lelah dengan perbincangan dua kawan seperjuangnnya. Tapi, kalau dirunut-runut ucapannya, itu menandakan ia masih menyimpan harapan. Ia tak mau bermuluk-muluk dengan keinginan-keinginan yang besar-besar. Ia memulai dari impian-impian sederhana tentang pemimpin harapannya.

Di sisi lain waktu, tepatnya akhir bulan tujuh yang lalu. Aku sedang mencari obyek foto yang indah di tepian Sungai Batanghari, dua orang “sopir” ketek (perahu dengan mesin tempel) yang biasa mengantarkan penumpang dari Pasar Angso Duo ke Jambi Seberang beradu cakap. Mereka saling meledek pemimpin pujaannya, yang satu ‘biru’ yang satunya ‘merah’. Macam ragam ejekan mereka peragakan. Waktu itu memang sedang masa-masa jelang pemilihan walikota di Jambi.

Setelah nyaris adu pukul, akhirnya pria yang satu berujar dengan nada ketus “Ngapo pulok kito betinju, siapo pun pemimpin kalu kito rakyat dak ikut ngawasi, paling-paling jugo koropsi,” (Mengapa pula kita berkelahi, siapapun pemimpin jika tak kita pantau, akhirnya juga akan korupsi.) Dengan nada dan logat khas Melayu, akhirnya orang itu saling menjauh.

Ucapan sopir ketek itu menyisakan semacam jejak di pikiranku. Benar juga, kalau kita hanya menuntut pemimpin yang bersih tapi kita tetap acuh, ya jangan salahkan kalau pemimpin nanti jadi mengecewakan.

Kepemimpinan politik, sejatinya representasi dari realitas publik yang diwakili. Kualitas pemimpin yang akan muncul juga ikut ditentukan oleh kita, penting untuk memahami kapasitas calon pemimpin kita. Tak sekedar menyerahkan suara hanya karena ditukar tiga lembar uang kertas merah. Atau sekedar diimingi bakal dibangunkan jalan di dekat rumah. Jika kita membangun pola transaksional dalam menentukan pemimpin, maka jangan kecewa kalau setelah jadi pemimpin, baik di eksekutif maupun legislatif mereka juga akan transaksional. Akhirnya kalkulator yang bermain, semua ramai-ramai menghitung modal politik, lantas ramai-ramai mencari modal kembali.

Untuk melahirkan pemimpin yang bersih dan tak korup, maka kita rakyat harus belajar untuk tak menjadikan suara kita sebagai komoditas. Lantas membangun pola transaksional. Ini memang nampak naif, tapi perubahan memang butuh hal-hal yang luar biasa.

***

Sketsa di atas adalah refleksi dari realitas publik kita jelang pemilu nanti. Tentu tak bisa mewakili semuanya, tapi paling tidak rakyat masih punya harapan. Menjadi sangat sulit bagi negeri ini jika kita semua sudah malas berharap dan kehilangan semangat untuk sebuah perubahan.

Permasalahannya kini, siapa yang harus memimpin ? Ini pertanyaan yang mudah tapi sulit jawabannya. Tiap kita tentu punya sudut pandang dan pertimbangan dalam menentukan siapa yang layak memimpin di negeri ini baik eksekutif maupun legislatif. Tapi paling tidak kita tahu bahwa rakyat butuh mereka yang bersih dan siap untuk terus bersih serta mereka yang mau mendengar dan merasakan denyut nadi kehidupan rakyatnya.

Pemimpin yang ada dan mengada bersama rakyat adalah impian. Mereka yang tak membangun jarak dengan rakyat, mereka yang selalu memompakan semangat untuk terus mengupayakan hal-hal baik di republik ini layak dan harus kita dukung.

Tentu saja, proses politik 2014 bukanlah perkara mudah, ia tak hitam putih, politik tetaplah politik, ia berada pada dimensi yang abu-abu. Hitam bisa tersamar dan nampak putih, putih bisa dikaburkan sehingga berkesan hitam. Semua serba abu-abu. Kuncinya adalah kecerdasan rakyat. Saya meyakini bahwa rakyat kita hari ini adalah rakyat yang cerdas, dan punya intuisi yang kuat. Maka, siapapun yang memberikan hatinya untuk negeri ini, bersih dan siap maju dalam pemilihan umum, maka akan ada jalan untuk mereka.

Sejarah membuktikan, politik di negeri ini tak selalu masalah uang atau citra. Banyak pemimpin baru yang lahir dari kerja keras dan rekam jejaknya. Lantas siapa mereka ? Tiap kita pasti sudah punya pikiran masing-masing.

Akhirnya mengutip kata-kata Goenawam Mohamad lainnya “Ditengah keculasan dan kebodohan itu, kita sering mengira sinisme kita sendiri sebagai perlawanan yang cerdas, padahal angkuh.” (GM, 2002). Politik boleh saja culas, tapi kita tak boleh kehilangan impian dan harapan atas negeri kita ini.

Tulisan ini juga saya kirimkan ke web jurnalis warga ketikketik


Ada masa dimana kita ragu, sinis bahkan marah terhadap banyak hal. Hidup berada dalam keresahan yang terus menerus. Tapi pada masanya pula kita akan mengerti bahwa tak semua hal bisa menjadi “seperti yang kumau”. Kalau meminjam syair di lagunya Sherina, “Lihat segalanya lebih dekat dan kubisa menjadi lebih bijaksana....”

Generasi seangkatanku (Lahir di era 80an) tentu mengenal lagu ini. Lagu ini ditulis oleh Elfa Secoria dan Mira Lesmana dan dipopulerkan Sherina. Ini adalah lagu pertama Sherina yang menjadi pembuka jalan buatnya. Entah kenapa, lagu ini menjadi semacam inspirasi bagiku.

Boleh saja publik menyebut lagu ini lagu anak-anak, tapi bagiku lirik dan kedalaman makna lagu terasa begitu luar biasa. Setelah melalui perjalanan dalam hidup, Sebutlah dengan umur sekitar 30 tahun. Lantas baru bisa melihat dunia dan berpikir tentang banyak hal di umur 15 tahun, so, at least 15 tahun terakhir memberi banyak pemahaman padaku akan hidup dan kehidupan.

Mari kita simak syair Lagu Lihatlah Lebih Dekat ;
......
Pergilah sedih
Pergilah resah
Jauhkanlah aku dari
salah prasangka

Pergilah gundah
Jauhkan resah
Lihat segalanya lebih dekat
Dan ‘kubisa menilai lebih bijaksana

Mengapa bintang bersinar
Mengapa air mengalir
Mengapa dunia berputar
Lihat segalanya lebih dekat
Dan ‘kuakan mengerti
(Lihatlah Lebih Dekat, Elfa & Mira Lesmana, dipopulerkan Sherina)

Rasa marah, benci, gundah dan prasangka sering kali menghantui hidup kita. Apalagi jika itu menyangkut orang lain, meminjam istilah Jean Paul Sartre dalam sosiologi Eksistensialisme-nya “Orang Lain Adalah Neraka.” Begitulah fakta keseharian hidup. Apa penyebabnya, salah satu yang paling bisa disalahkan adalah “Jarak”.

Karena kita berjarak dengan orang lain, maka timbul gundah, marah dan berbagai prasangka atau apa yang dilakukan orang lain. Mari kita masuk ke sbuah contoh nyata.

Suatu siang yang terik di jalanan, kita sedang berkendara, naik motor sebutlah. Tiba-tiba ada seseorang yang mengelakson kita dari belakang dan berulang kali. Perasaan kesal dan marah akan menyeruak. Tapi kemudian kita tahu yang mengelakson adalah teman lama kita. Lantas apa reaksi kita ? Tetap marah ? Rasanya tidak.

Contoh lainnya ada orang yang tidak kita kenal tiba-tiba meledek kita, marah ? pasti, paling gak kecewa. Tapi, dilain waktu ada teman sejawat yang meledek ktia sembari bercanda. Marah ? biasanya tidak.

Lantas Sherina lewat lagunya memberi jawaban..

Pergilah gundah
Jauhkan resah
Lihat segalanya lebih dekat
Dan ‘kubisa menilai lebih bijaksana

Permasalahan selanjutnya adalah maukah kita mencoba mendekat dan melihat lebih dekat ? Karena zona nyaman kebanyakan kita adalah mengira-ira dan menduga-duga realitas yang terjadi di luar diri kita.Tiap kita punya pilihan, terserah saja mau yang mana. :)

Ah entah, aku sedang ngomong apa ? Mungkin hanya karena rindu pada Sherina.. Dengerin lagunya saja lah.. Yuuuk...mari...!





Popular Posts