Monday, March 24, 2014


Petang itu suasana sejuk menyeruak, angin mengirimkan kesegaran. Orang masih berduyun-duyun datang, meski sholat Ashar berjamaah sudah rampung. Seorang anak kecil menjaga tempat penitipan alas kaki di sisi barat, lebih dari dua puluh pasang alas kaki ada di rak besi berwarna hitam itu. Uang kertas, seribu, dua ribu dan lima ribu tampak menyesaki sebuah kotak kaleng yang tak besar.

Semua sisi adalah pintu, bangunan ini dirancang tanpa dinding, hanya sisi depan, ke arah mimbar saja yang ada penutupnya, itupun bukan dinding permanen. Hanya dinding sementara yang berhiaskan kaligrafi. Usai sholat, terutama Ashar atau Dzuhur, saat empat rakaat tunai, sejenak rebah memang sebuah pilihan dari kebanyakan orang.

Kutunaikan rakaat-rakaat yang memang sudah menjadi kewajibanku. Usai itu, aku mulai menarik “pelatuk” kameraku. Ornamen kaligrafi di sisi depan masjid menjadi sasaran pertamaku. Kuubah posisi duduk, kini bersandar di sebuah tiang besar yang posisinya agak di tengah. Lebih leluasa mencari sudut bidik. Seorang bapak tampak khusyuk menjumpai Sang kekasih dalam rukuknya.



Ada ratusan tiang, menjadi tak mudah untuk memotret sisi dalam, aku tak menghitung berapa jumlah tiang. Namun, orang-orang menyebut tempat ini masjid seribu tiang. Benarkah seribu ? entah juga. Sebuah sumber di wikipedia menyebut tiangnya berjumlah 256. Aku tak berminat memastikan kebenarannya.

Kucoba merebahkan tubuh di bagian tengah masjid, angin berhembus pelan, masjid tak berdinding ini memang membuat angin bebas hilir mudik, tanpa penghalang berarti. Para jamaah perempuan yang berjajar di sisi tengah agak ke depan dengan mukena putih memberi efek kontras dengan alas sembahyang yang gelap.



Konon di tanah tempat masjid ini berdiri adalah tanah pusat Kesultanan Jambi tempo waktu. Disinilah dulu sebuah ‘istana’ Sultan Jambi berdiri, namanya istana Tanah Pilih[i]. Masjid ini sendiri dibangun pada 1960. Tentu bukan suatu masjid yang berumur tua dibanding masjid agung di banyak daerah, termasuk tetangga Jambi, Palembang, masjid agung Palembang  didirikan pada abad ke 18.

Sebenarnya tak jauh dari masjid agung Al-Falah ini ada sebuah masjid yang lebih tua. Masjid Magatsari namanya, menurut sumber sejarah lokal Jambi, masjid ini berdiri sekitar tahun 1906, tapi ada sumber lain yang menyebut sudah berdiri sejak tahun 1800-an. Kalau berjalan kaki dari lokasi masjid Al-Falah ke Masjid Magatsari mungkin tak ada lima belas menit. (di lain waktu penulis akan menulis secara khusus tentang Masjid Magatsari).
***
Angin yang semilir melenakan mata, ada semacam kesejukan di kelopak mata. Suara seorang bapak yang melantunkan kitab suci membuat suasana syahdu. Sayangnya teorama damai itu terusik oleh suara kendaraan yang memacu kecepatan di jalan besar dekat masjid. Nyaris tak ada jarak antara masjid dan jalan. Halaman masjid pun tak begitu luas, sehingga suara knalpot memorak porandakan kekhusyukan sholat di masjid yang unik ini. Tentu berharap kesadaran pengendara untuk menurunkan kecepatan saat melintas adalah harapan para jamaah, tapi pembuatan aturan yang tegas oleh negara juga penting untuk dilakukan. Maksimum kecepatan 20-30 KM per jam saja misalnya.

Saya pernah sholat di beberapa masjid agung atau masjid utama di sebuah daerah; Palembang, Jakarta, Purwokerto, Yogyakarta, dan beberapa daerah lainnya, kebanyakan dari masjid itu berhalaman luas, bahkan di Jawa biasanya terlindung alun-alun sehingga kebisingan teredam jarak. Tapi di Al-Falah tidak demikian, suara knalpot angkot kadang seolah berada di sebelah telinga. Ah, sebuah sisi yang sayang sekali harus kuceritakan disini, tapi begitulah adanya.

Seorang bapak yang tak lagi muda, menata rapih sandal-sandal jepit yang bisa digunakan untuk mengambil penyuluh[ii]. Kebersihan dan kerapian di masjid ini adalah hal lain yang patut dipuji.

Mataku mengarah pada sebuah beduk besar, kayu-kayu kokoh yang menghitam melingkar membentuk rongga yang di salah satu sisinya kulit sapi atau kerbau menjadi penutup. Kureka-reka kayu kehitaman itu, kalau tak kayu Meranti mungkin Bulian, pikirku. Kadang jadi bertanya, darimana teknologi beduk ini datang. Adakah relasinya dengan kebudayaan Cina, atau justru didatangkan dari Timur Tengah atau jangan-jangan orijinal nusantara. Ah, ada-ada saja, bukankah rasanya sulit menemukan sesuatu produk budaya yang benar-benar orijinal, apalagi di kebudayaan nusantara yang memang bukan kebudayaan tertua di muka bumi ini. Pastilah saling silang budaya, pengaruh satu dan yang lain ikut mewarnai.



Aku mulai melangkah keluar, kuarahkan langkah ke dekat rak alas kaki yang dijaga anak kecil bermata sipit tadi. Mataku mengulas sekali lagi sisi dalam masjid, memang berbeda masjid yang satu ini, batinku. Masjid yang terbuka di semua sisinya, mengundang siapa saja untuk hadir, menunaikan sembahyang atau sekedar singgah menyejukkan tubuh. Masjid yang tak angkuh, masjid yang benar-benar menjadi rumah bagi semua. Sebuah konsep yang jarang kita jumpai, banyak masjid yang justru menunjukkan tampang eksklusifnya daripada inklusif seperti yang ditampilkan masjid seribu tiang ini. Bukankah beginilah Islam seharusnya, inklusif !




[i] Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Agung_Al-Falah, diakses pada 24 Maret 2014, pukul 15.40
[ii] Dalam bahasa Melayu Palembang penyuluh berarti wudhu

Note : Semua Foto adalah karya huzer apriansyah

Wednesday, March 19, 2014


Langit kota Medan mulai gelap, penumpang mulai  gelisah. Pesawat yang dinanti tak kunjung mendarat. Aku mulai gelisah, harus sampai Jakarta tepat waktu, esok pagi harus melanjutkan perjalanan ke Jogja dengan kereta. Sebuah acara penting sudah menunggu disana.

Satu jam lewat dari jadwal semula, akhirnya pesawat yang akan membawaku ke ibukota berangkat juga. Kursi penumpang tak padat, di barisanku, aku duduk bersama seorang bapak yang bekerja di instansi negara. Bersiap berjumpa keluarga tercinta di ibukota, usai dinas di daerah.

Pesawat lepas landas dengan mulus, tak ada guncangan, tak ada hal-hal yang mengejutkan. Ngiiiiiiiiiit ngiiiiiiiiiit, suara roda yang masuk ke posisi semula menjadi penanda fase awal penerbangan berdurasi kurang lebih dua jam ini berlangsung baik-baik saja.

Usai berbincang  sejenak dengan bapak yang duduk dekat saya, kami kembali pada aktivitas masing-masing. Bapak itu memejamkan mata, dan aku membayangkan di atas udara mana saat itu berada. Kebetulan Airbus A320 yang kutumpangi tak ada monitor yang menggambarkan proses perjalanan. Beeep, lampu kecil di sisi atas dimatikan, sabuk pengaman bisa tak digunakan. Ini fase yang selalu aku nantikan, penanda kalau penerbangan berlangsung lancar.

Aku bukan orang yang terlalu tenang dalam perjalanan menggunakan pesawat, kerap risau, kalau tak mau dibilang takut. Kalau bisa memilih naik kereta atau sepeda motor, aku lebih pilih itu daripada pesawat udara. Tapi tentu itu opsi yang tak berimbang, jadilah pesawat  tetap jadi pilihan. Meski penerbangan berdurasi panjang pernah kulakukan, Jakarta-Singapura-Frankfurt, Jakarta-Dubai-Nairobi, Jakarta-Hongkong-London dan jalur-jalur lain pernah kujalani, tapi rasa risau itu tak pernah benar-benar hilang. Begitu pun malam itu.

Sekitar satu jam perjalanan, aku mengira saat itu tengah berada di atas wilayah Sumatera Selatan, atau Lampung mungkin. Pikiranku mulai tenang, setengah jalan lagi, pikirku.

Selang beberapa menit, lampu tanda kenakan sabuk pengaman kembali menyala, aku mulai gundah. Pasti akan ada sesuatu, pikirku. Aku tak memasang sabuk pengaman, karena sedari tadi aku tak melepaskannya. Aku menundukkan kepala, berharap semua akan baik-baik saja. Kubangunkan bapak di sebelah, sabuk pengamannya nampak tak terpasang. Ia terjaga dan mengucapkan terima kasih.

Sesaat pesawat bergetar, seperti ada gesekan dengan awan tebal, getaran semakin keras. Aku menggenggam pegangan kursi. Merapatkan jari-jari kaki, seraya merafalkan doa-doa. Tiba-tba pesawat melesat turun, semua terhentak, jantungku berdegup begitu kencang. Banyak diantara kami yang meneriakkan “Allahu akbar”,  “Astagfirullah..” seorang bayi melengking kencang.

Pesawat tenang sejenak, tapi tiba-tiba kembali meluncur dalam. Bapak di sebelahku berteriak “jatuh kita, jatuh kita.” Ku pejamkan mata, wajah orang-orang tercinta melintas, mama, papa, adik-adikku. Pesawat seperti terhempas. Suasana hiruk menyeruak kembali, banyak yang berteriak. Tak ada tanda-tanda keadaan berlangsung normal, pesawat seperti sebuah kapal di tengah gelombang.

Suara berderak terdengar berulang kali. Sampai pada sebuah titik, jantungku tak lagi berdegup kencang. Kalaupun inilah saat terakhirku, aku pasrah, begitu batinku sembari terus merafal doa. Semua tubuhku sepertinya mengeluarkan keringat dingin.

Sesaat kemudian, pesawat mulai terbang tenang, kulirik jendela, suasana masih pekat. Tak ada tanda-tanda kami akan tiba. Suasana pesawat hening, hanya gemuruh mesin yang terdengar. Bapak di sebelahku, mengusapkan kedua tangannya ke wajah, tanda syukur nampaknya. Aku masih  menantikan lampu kenakan sabuk pengaman itu dimatikan. Tapi tak kunjung dipadamkan.

Sekitar dua puluh menit setelah masa-masa kritis itu, pengumuman pesawat akan mendarat. Lantas terdengar suara roda yang keluar, penanda pendarata sudah semakin dekat. Sebuah hantaman lembut memastikan kami mendarat selamat di bandara Sukarno – Hatta, Jakarta. Kusapukan kedua tangan di wajah. Kubekapkan beberapa menit, sembari mengucapkan syukur pada pemilik kehidupan, masih diberi kesempatan menatap matahari esok pagi.

Saat pesawat berhenti sempurna, kudengar bapak disebelahku menelpon. Sebuah kalimat tiba tiba meluncur dari mulut bapak itu “Aku mencintai kalian semua. Semua baik-baik di rumah kan, Ma ?” Sepertinya ia baru saja menghubungi keluarga tercinta. Ingin pula segera menelpon mama dan papa tapi kutunda sampai di ruangan bandara nanti.

Semua penumpang menarik lapas lega. Pintu pesawat dibuka, satu persatu kami meninggalkan pesawat. Banyak diantara kami yang mengucapkan terima kasih pada pilot dan kru yang melepas kami di pintu.

***

Kejadian itu, pertengahan 2009 lalu, lima tahun sudah. Tapi semua masih membekas lama. Aku pernah mengalami penerbang yang tak kalah buruk di rute Batam-Jambi, kemudian Jakarta-Jambi dan juga Dubai-Nairobi. Kejadian-kejadian itu makin membuatku gentar tiap kali ada tugas atau perjalanan yang memaksaku menggunakan pesawat terbang.

Kematian memanglah sebuah misteri dan setiap kita akan mengalaminya, tapi doaku, tidak dengan cara seperti di pesawat udara.

Kejadian-kejadian yang terasa begitu dekat dengan kematian memang selalu membawa kita pada kesadaran-kesadaran baru akan makna hidup dan kehidupan. Betapa rapuh dan kecilnya kita sebagai manusia, lantas apa yang bisa kita banggakan ?


Merawat tiap menit yang miliki dengan orang-orang tercinta, memberi yang terbaik bagi orang lain adalah pilihan yang menyenangkan untuk menghabiskan waktu di dunia yang memang tak lama ini. 

Monday, March 17, 2014


Sebuah kapal kayu tak mampu menepi, Sungai Batanghari terlalu surut. Kapal-kapal besar tak bisa berlabuh sempurna. Perahu-perahu berukuran sedang menjadi perantara orang atau barang yang bergerak dari kapal ke tepian. Kupasati kapal kayu yang tampak tua diregang masa, bentuknya khas sekali. Meski menua, tapi kharismanya justru makin nyata.

Terbayang betapa ramainya Sungai Batanghari pada masanya, kapal-kapal ukuran besar bersaling silang dari hilir ke hulu, hulu ke hilir. Membawa kopra, emas dari hulu, atau membawa kain, alat dari besi dari hilir atau apa sajalah. Elsbeth Locher-Scholten dalam buku Sumatraans Suktanaat en koloniale Staat (1994) yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia (2008), menyatakan Batanghari adalah urat nadi Jambi. Meski demikian, menurut catatan Elsbeth Locher, antara ibukota kesultanan ke dusun-dusun di hulu kadang tak bisa dilayari.

Sampai kini, Batanghari tetaplah urat nadi di Jambi tapi dalam dimensi dan skala yang tak sama. Nuansa masa lalu dengan mudah kita dapati jika memasati keramaian Batanghari di pagi atau petang hari. Perahu bermotor yang menyeberangkan orang dari Jambi kota ke Jambi seberang, kapal-kapal kayu yang membawa muatan dan perahu-perahu kecil para nelayan setia menapaki aliran Batanghari yang tenang. Sampah-sampah kota pun tak kalah riuh memadati Batanghari. Kadang berpikir, inilah tempat pembuangan akhir yang murah meriah.

Ah, betapa tak adilnya kita. Batanghari yang telah memberi manfaat sedemikian rupa, mulai dari sumber air minum, kebutuhan mandi cuci kakus, sampai medium transportasi, dibalas dengan lemparan sampah semena-mena. Itu kisah di hilir. Di hulu lebih pilu. Aliran Sungai Batanghari diserbu pemburu emas, PETI (Penambangan Emas Tanpa Izin) menjadi pemandangan sehari-hari jika kit bergerak ke hulu.

Batanghari alang kepalang panjangnya, 800 kilometer kurang lebihnya. Kelak kelok Batanghari memanjang dari Bukit Barisan sampai ke Laut Cina Selatan di hilir. Menjadikannya sesuatu yang ikonik di tanah Jambi. Ingat Jambi ingat Batanghari, ingat Batanghari ingat Jambi, begitu kira-kira.

Matahari kian terangkat, jam sepuluh kurasa. Perahu-perahu bermotor yang menepi di sisi Pasar Angsa Duo mulai mengangkuti penumpang, tak ada tawar menawar penumpang dan juru mudi perahu, semua sudah tahu sama tahu. Air kecoklatan menghempas-hempas dinding perahu, satu persatu penumpang duduk di kursi kayu yang dibuat seadanya saja. Tak menunggu lama juru mudi tancap gas menuju Jambi Seberang.

Dari kejauhan nampak jelas rumah-rumah kayu bertiang tinggi berjajar, Jambi seberang, disanalah rumah panggung masih jadi pilihan. Sebagai bentuk adaptasi dengan alam. Sebagian orang melihat rumah-rumah kayu sebagai bentuk keterbelakangan, masa lalu. Tapi di mataku, rumah-rumah kayu itu memberi romansa, nusantara dalam wajah aslinya. Bukankah dulu nenek moyang bangsa Melayu memang berumah panggung, peradaban Barat dan Tionghoa lah yang kemudian memperkenalkan rumah-rumah batu yang kaku itu.  

Ketek, perahu, kapal kayu juga warna asli nusantara yang memang dilintasi sungai di sana sini, tapi semua berganti. Transportasi darat dirasa lebih efektif di dunia modern. Ketek, perahu atau kapal kayu seolah menjadi representasi ketertinggalan, kuno. Jalan darat pun di bangun tanpa mengenal waktu, sedang transporatsi berbasis sungai diabaikan bahkan ingin ditinggalkan. Itulah negeri kami, ironi !

Tak terkecuali Jambi, sungai mengalami pendangkalan di sana sini. Ketika musim kemarau, kapal-kapal kesulitan berlayar. Dermaga-dermaga penyeberangan dibiarkan begitu saja, tak ada perhatian yang serius. Pada masanya nanti, mungkin menjadi langka melihat perahu hilir mudik di Batanghari.
Matahari makin terik, penganan khas Melayu sudah habis kulahap, segelas teh pun tandas. Aku mulai bergegas.
***
Sekedar duduk sejam dua di tepian Batanghari adalah hobiku sejak dua tahun lebih bermukin di kota ini. Entah mengapa aku selalu hanyut dalam kenangan masa lalu tiap kali menatapi gerak kehidupan di Batanghari. Aku merasakan nusantara dalam wajah yang senyatanya, yang telah lama dibungkam oleh pembangunan yang lupa pada akar budaya dan kearifan leluhurnya.


 Semua foto karya huzer apriansyah

Friday, March 14, 2014



Sebagai bangsa, kita sudah lama punya mimpi memiliki sebuah tim nasional sepakbola yang kelasnya dunia. Tapi apa daya mimpi kita masih menggelayut, kegagalan demi kegagalan jadi catatan dua dasawarsa belakangan. Meski demikian, kita tak lelah bermimpi.

Asa seolah mendekati nyata, manakala di penghujung 2013 kita menyaksikan sebuah tim yang berisi anak-anak muda berseragam garuda mengamit piala, meski bukan ajang senior, tapi tropi juara U-19 menjadi pelega dahaga. Penantian yang panjang untuk sebuah tropi akhirnya kabul juga. Tak berselang lama, tiket otomatis ke Piala Asia usai melumat Korea Selatan di partai penentu menjadi pelengkap kisah anak-anak berseragam merah tersebut.

Mukhlis Hadi Ning, Evan Dimas, Ilham Udin, Faturrahman dan kawan-kawan segera saja menjadi buah bibir seantero negeri. Banyak sudah tulisan yang mengulas sepak terjang anak-anak muda berseragam merah di bawah asuhan pelatih Indra Syafri itu. Bahkan dua buku menjadi saksi perjalanan mereka. Saya tak akan mengulas perjalanan mereka atau membahas tiki taka ala timnas U-19, saya justru menemukan beberapa hal yang menarik dari tim ini, yang mungkin luput diulas.

Kebiasaan Cium Tangan Pelatih

Mungkin luput dari perhatian kita, tiap kali ada pemain yang keluar lapangan maupun masuk lapangan, mereka selalu mencium tangan Indra Syafri, sang pelatih. Baik di pertandingan resmi maupun ujicoba hal ini terjadi.

Layaknya seorang anak kepada ayah, itulah yang kurasakan dari layar kaca. Jarang sudah kita melihat pemain bola mencium tangan pelatihnya. Lalu sang pelatih membalas dengan mengusap kepala, atau menepuk bahu bahkan terkadang memeluk pemainnya. Ah, sungguh sudah jarang melihat hal-hal macam itu di sepakbla hari ini. Kalaupun ada sebatas salam tempel atau toss saja.

Inilah yang membuat tim ini berbeda, ada nuansa kekeluargaan yang kental. Anak menghormati orang tua, orang tua menyayangi anak. Klise memang, tapi hal-hal yang klise kadang dirindukan. Pada titik ini, pelatih yang merangkap sebagai “ayah” berpeluang mengenali pemain tidak hanya dari sisi skills atau teknik tapi juga dari sisi emosional.

Awalnya, saya menduga kebiasaan ini karena usia mereka yang masih relatif muda, sehingga mencium tangan pelatih merupakan hal yang biasa mereka lakukan terhadap orang tua. Tapi setelah memperhatikan pemain-pemain muda Indonesia lainnya di tur nusantara, tak banyak yang melakukan hal serupa. Akhirnya, saya berkesimpulan tim ini memang terbangun dengan banyak aspek. Moralitas menjadi salah satu aspek tersebut.

Selebrasi Gol yang Itu-itu Saja
Perhatikan saja selebrasi tim ini saat mencetak gol, entah siapapun yang mencetak gol, ending selebrasinya selalu ke pinggir lapangan dan sujud syukur. Awalnya saya menilai ini kebetulan saja. Tapi setelah lebih dari sepuluh kali menyaksikan timnas U-19, saya sadar bahwa ini lebih dari sekedar kebetulan, tradisi.

Lantas, selebrasi ini simbol apa ?  Dimensi religiositas anak-anak berseragam merah. Cermin rasa syukur, sekaligus penyerahan diri pada Sang Maha. Apa gunanya hal macam ini dalam sepakbola yang sepenuhnya bergantung pada teknik, taktik, kekuatan, dan kecepatan. Sisi psikologislah yang terpengaruh dengan kebiasaan ini. Perasaan selalu ada kekuatan yang lebih besar di atas kekuatan manusia. Membuat ada invisible hand yang diyakini akan jadi salah satu faktor kunci.

Pada sisi lain, kondis sepakbola Indonesia yang karut marut, membuat kita telah terbiasa menjadi inferior. Maka hadirnya kekuatan Tuhan di tengah lapangan bisa menjadi semacam kekuatan tersendiri. Lihat saja apa yang dikatakan kapten timnas U-19, Evan Dimas “Hanya Tuhan yang tak Bisa Dikalahkan”.

“Hanya Tuhan yang Tak Bisa Dikalahkan”

Kalimat di atas adalah ucapan sang kapten, Evan Dimas. Ucapan yang menurut saya memiliki kedalaman. Kalimat yang tak hadir begitu saja, melainkan lewat semua permenungan. Mentalitas inferior yang selam ini merajami timnas kita, tiba-tiba mendapat pelawanan dari kalimat Evan Dimas.

Kalau akan menghadapi Kamboja, Brunai atau Timor Leste kita akan sangat yakin, kemenangan akan datang. Tapi kalau sudah akan bertemu tim macam China atau Thailand saja, alih-alih meyakini kemenangan, tidak dibantai saja kita sudah senang. Itulah inferiornya kita.

Tapi kalimat yang diungkap Evan, bukan tanpa syarat. Toh, Tuhan tak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubahnya. Begitu pun timnas kita; fisik, teknik, intelegensia adalah sarat dari berlakunya kalimat di atas. Kalau dulu menit 70an pasukan merah putih sudah mulai sempoyongan, kini hal itu tak terasa di timnas U-19. Teknik, belumlah benar-benar teruji, tapi paling tidak, dasar bermain sepakbola mereka meyakinkan. Intelegensia, belum ada hasil uji yang dipublikasikan, tapi dari cara mereka bermain, ada kecerdasan yang ditampilkan.

Lalu yang terakhir adalah mentalitas, pada domain inilah kalimat “Hanya Tuhan yang tak bisa dikalahkan,” menjadi ada maknanya.

Pada sisi lain, sekali lagi pasukan berseragam merah ini tengah menunjukkan relegiositas mereka.

Mengembalikan Filosofi “Bintang”

Sepakbola Indonesia tak pernah sepi bintang, tiap zaman punya bintangnya, dua dekade terakhir sebut saja; Aji Santoso, Kurniawan DJ, Bima Sakti, Bambang Pamungkas, sampai ke generasi Syamsir Alam dan seratus satu bintang lainnya. Mereka bersinar terang di langit gelap.

Berbeda dengan tim nasional U-19 kali ini, bintang-bintang itu semua bersinar. Bukan satu atau dua bintang saja yang bersinar di langit gelap.

Inilah bedanya, langit menjadi terang karena banyak bintang yang bersinar. Memang tak ada bintang yang sinarnya dua tiga kali lebih terang dari yang lainnya, semua bersinar dalam range yang kurang lebih saja.
Benar ada Evan Dimas, tapi sinar kebintangannya tak lebih terang dari Hargianto atau Zulfiandi, benar bahwa Hansamu bersinar terang di lini belakang tapi sinarnya sama terang dengan sinar Faturrahman. Maldini Pali boleh menari-nari hingga sinarnya menerang, tapi bukan berarti Dinan Xavier kalah terang sinarnya, begitu pun yang lainnya.

Indahnya bintang, tatkala langit terang karena kombinasi sinar banyak bintang bukan saat sebuah bintang bersinar terang tapi langit gelap gulita.

***
Pada akhirnya, rakyat di republik ini tengah cerah ceria menyaksikan tiap laga Ilham Udin dan kawan-kawan, ada harapan, ada asa dan ada suka cita. Semoga anak-anak muda ini bisa terus berdiri tegak walau kenyataan kadang bikin sesak...



Wednesday, February 26, 2014


Bukit-bukit bercadas tampak sekeliling, tumbuhan berduri menjalari tanah-tanah gersang . Entah sudah berapa mil jauhnya dari rumah, di Kiva, Kenya aku singgah. Sebuah perjalanan panjang, yang bahkan dalam mimpi pun tak terbersit untuk sampai di  sudut bumi ini. Ya, begitulah hidup, ada kejutan dalam tiap fasenya.

Aku duduk di sebuah gundukan tanah, tak jauh dari pasar tradisional. Buah, kerajinan tangan dan bahan pokok terjaja di kios-kios kayu, bentuknya lebih mirip pondok kayu tinimbang kios. Tiap ada mobil singgah, pedagang akan berlari menjajakkan sesuatu. Suasana begitu hiruk pikuk, untunglah banyak dia antara penduduk lokal berbahasa Inggris dengan sangat baik hingga aku bisa mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.Bahasa inggris merupakan bahasa resmi kedua setelah swahili. Tak heran anak-anak kecil pun fasih berbahasa Inggris dengan aksen british yang kental.



Dua orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan mengamatiku dari kejauhan. Kucoba menyapa mereka lewat senyum kecil yang kulempar pada mereka. Mereka mendakat, tak  butuh waktu lama untuk kami akrab. Kamera yang kubawa menjadi media yang mengakrabkan. Kuajarkan cara membidikkan kamera dan mengambil gambar, lantas mereka mengambil gambar. Tak hanya itu, kami belajar bersama, ah anak-anak memang selalu menyenangkan. Bahkan di sebuah negeri yang kerap dilanda konflik dan kekurangan pangan ini pun anak-anak tetap membahagiakan.

Aku menatap pancaran mata yang luar biasa dari mereka, ada energi harapan yang sulit dijelaskan. Di sebuah negeri yang masih berjibaku dalam kemiskinan dan ketakadilan serta eksploitasi korporasi macam di Kenya, anak-anak seperti inilah yang bisa jadi harapan. Masa depan Kenya ada pada mereka.



Pasar masih gaduh, tiga anak-anak itu bercerita tentang keseharian mereka. Tiba-tiba rindu meluncur di hatiku, seperti butiran embun yang menyesap, menyejukkan. Berbanding terbalik dengan sengatan matahari disini.

Tiba-tiba lamunanku terbang teringat kampung halaman, teringat sepupu-sepupu, kemenakan di tanah Sumatera sana. Sungguh beruntung mereka hidup di negeri yang tak bisa disebut miskin seperti disini. Kenya memang sudah tumbuh, kalau lihat ibukota, Nairobi. Tak akan percaya rasanya ada rumah-rumah tanah yang berukuran 3 X 4 meter saja, untuk 3-4 jiwa. Kesengsaraan hidup masih melekati desa-desa Kenya.

Pada saat-saat menyaksikan betapa ringkihnya kehidupan di Kiva; tanah gersang berbatu, sumber daya alam yang tak seberapa, pasokan air yang melimbah di dam Kiva tapi sedikit saja yang mengalir ke mereka, belum lagi HIV yang jumlahnya terus bertambah membuatku malu selalu mengeluh atas kondisi tanah air. Sebagai sebuah bangsa, kita jauh lebih beruntung. Ah rindu, ingin segera pulang.

Tiga anak itu berpamitan pulang, setelah empat buah pisang kami buat tandas. Aku pun kembali ke Thika, kota kecil tak jauh dari Nairobi. Sorot mata penuh harapan dari tiga anak Kiva menjadi semacam “kado terindah” bagiku. Semoga mereka menjumpai takdir kemenangan mereka, sebagai manusia, sebagai rakyat Kenya.

Rasa rindu, rasa ingin pulang ke anah air menjalariku. Sementara dari jendela mobil aku menyaksikan perkebunan nanas yang menjadi komoditas andalan di wilayah Thika. Negeri ini sekian lama dimiskinkan, batinku. Keinginan pulang ke tanah air adalah perasaan alamiah yang selalu hadir di kali bertandang ke negara asing, tapi kali ini berbeda, ingin pulang dan mengubah cara pandang atas realitas negeri. Tak melulu mengeluh dan memaki atas kenyataan yang menyenangkan di tanah air, tapi mencoba melakukan sesuatu untuk masa depan yang lebih menajanjikan. Berhenti marah, berhenti bersikap tak acuh.

***

Di lain waktu aku naik ojek sepeda dari tempat ku menginap ke pasar di Thika. Tukang ojek itu masih belia. Namanya Weah, ya nama yang mirip dengan bintang sepakbola Liberia. Usianya kutaksir belum genap 15 tahun, meski kebeliaannya tertutup tubuh kekar dan wajah ‘sangar’. Ia punya tujuh saudara, ayahnya entah dimana. Mereka hidup bersama sang ibu. Itu cerita sepanjang perjalanan. Ia ingin menjadi pesepakbola, pergi dari jalanan berdebu Thika dan meremput di klub Eropa itu impian Weah.

30 shiling kuberikan padanya sebagai ongkos ojek sepeda sekitar empat kilometer itu. 1 dollar amerika senilai sekitar 86 shiling. Kurang dari empat ribu rupiah uang yang ia terima. Tak sebanding dengan tenaga yang begitu besar ia gunakan untuk untuk mengayuh sepeda membela jalanan Thika yang semrawut dan penuh debu.

Anak-anak yang kehilangan masa-masa indah, masa-masa bermain mereka adalah wajah keseharian di pelosok-pelosok Kenya. Usai membeli beberapa bungkus kopi dan teh khas Kenya, aku kembali ke penginapan. Kucoba mencari sosok Weah di pangkalan ojek sepeda, tak berjumpa. Kuputuskan berjalan saja. Langit mulai gelap, ada semacam rasa khwatir juga berjalan di malam hari di sebuah negeri yang angka kriminalitasnya jauh di atas Indonesia. Tapi, aku tetap berjalan.



Sepanjang berjalan pulang, rasanya nyaman dan aman menjadi sulit didapatkan disini. Mobil dan kendaraan bermotor merapati jalan sempit berlubang yang menghamburkan debu yang alang kepalang. Tak ada trotoar, pejalan kaki benar-benar tersisih. Memasuki jalan yang lebih lebar, aku berjalan dengan lebih aman dan tenang.
Teringat sosok Weah yang tadi mengantarku, kisah Weah bisa jadi gambaran kebanyakan remaja disini. Dipaksa keadaan meninggalkan bangku sekolah dan mengubur masa-masa indah. Kalau saja dalam sehari ia bisa narik penumpang 10 kali maka ia akan dapat tak lebih dari 300 shiling yang berarti kurang dari 4 dollar. Hidup di Kenya memang tak mudah, batinku.

Rasa rindu, keinginan menjejak tanah air membuncah. Ada rasa yang tak biasa.

***
Di tengah beragam kisah yang kujumpa di di Kenya. Aku menyaksikan betapa ekspresif orang disini, mereka bernyanyi, menari dan tersenyum dengan begitu menyala. Warna-warna pakaian mereka pun begitu kaya dan menyala. Mereka slaing menyapa, mereka saling bicara, mereka seperti sebuah keluarga besar. Sulit menjumpai pemandangan semacam ini di negara-negara Eropa. Bahkan di Asia. Ada kehangatan yang menyelimuti kehidupan mereka.

Apakah kesulitan hidup telah membawa mereka pada sebuah kesadaran kolektif untuk menghadapinya secara bersama-sama. Atau ini bentuk pelarian saja. Entahlah, yan kutahu aku menikmati keramahan dan kehangatan khas Kenya.



Di tanah air keramahan dan kehangatan macam ini juga tersedia, tapi sayang mulai membias tersapu derap waktu yang melaju di kota-kota. Semua berfokus pada kehidupan masing-masing. Kota-kota di tanah air tak lagi seramah dulu. Rindu kampung halaman. Ingin rasanya bersenda gurau dengan handai taulan. Sekian lama aku merantau, kerap lupa bahwa ada keluarga yang selalu menanti kepulangan. Lebih dari lima tahun aku merantau, meninggalkan Palembang, meski lama, tapi selalu ada rindu untuk pulang.

***

Kujejak kembali tanah air setelah perjalan di Kenya yang mengesankan. Ada semacam kerinduan yang terobati saat kudengar suara ibu di ujung telpon ketika kukabarkan aku sudah tiba di Jakarta. Kembali ke tanah air berarti kembali pada realitas keseharianku, tapi entah mengapa kepulangan kali ini menyisahkan rasa yang berbeda. Aku pulang dengan rasa syukur terlahir sebagai bagian dari sebuah negeri bernama Indonesia. Aku mencintai negeri ini lebih dari yang aku kira !

Semua foto adalah karya penulis (doa. huzer apriansyah)
Keculi foto 3 (tiga anak dan penulis) adalah karya seorang kawan, Nelson Borneo dari Malaysia






“Bukan dengan bicara, tetapi dengan mendengarkan kita bisa banyak belajar.”
– Larry King –

Kalimat istimewa dari Larry King di atas menampar kesadaranku. Sudah terlalu banyak kata-kata yang tersusun dalam kalimat hadir dari mulutku. Hampir semuanya bisa jadi sampah semata. Gambaran tentang aku, bisa jadi proyeksi umum manusia-manusia Indonesia hari ini. Kita lebih suka bicara tinimbang mendengar. Menuntut didengarkan tapi alfa mendengarkan.

Saat bicara cenderung ada ekstase; perasaan penting, pintar dan bahkan superior kerap muncul, perasaan yang hadir begitu saja. Perasaan itulah yang bisa jadi picu seseorang terus bicara. Penilaian terhadap diri sendiri kerapkali meleset saat kita tengah bicara. Sehingga kita tak mampu melakukan penilaian yang akurat terhadap bobot (baca : kulitas) pembicaraan kita.

Satu hal yang tak kalah penting, ketika kita bicara maka kita membuang kesempatan untuk mendengar. Karena hampir dipastikan tak banyak manusia yang bisa mendengar manakala bicara. Kalaupun bisa, fokusnya tentu sangat lemah. Saat memilih untuk tak mendengar maka kita kehilangan kesempatan belajar.

Pada suatu ketika mungkin terbersit, “ngapain denger omongan gak mutu,”  bisa jadi pembicaraan seseorang tak bermutu, tapi bukan berarti kesempatan kita belajar berkurang. Kita bisa belajar dari yang tak bermutu itu, paling tidak untuk tak melakukan hal yang sama. Kalau mau lebih analitis kita bisa belajar mengenai karakter orang yang bicara tidak mutu tersebut. Atau mengurai mengapa pembicaraannya menjadi tak bermutu. Itulah kelebihan orang yang memilih mendengar.

Bisa jadi orang akan memosisikan orang yang lebih banyak mendengar sebagai inferior, karena dirinya jadi tak banyak terlihat. Tapi percayalah, justru orang yang memilih tak bicara dan lebih suka mendengar memiliki kekayaan informasi yang lebih kuat. Serta kesempatan menganalisa yang lebih dalam tinimbang mereka yang bicara banyak.

Tapi perlu dicatat bahwa orang yang diam belum tentu semuanya mendengar. Ada orang yang diam karena tak peduli, ada yang diam karena muak, ada yang diam karena memang tak mampu bicara. Mendengar tak selalu sama dengan diam. Tapi orang yang diam lebih punya kesempatan mendengar.
***
Menjadi pendengar tentu bukan perkara mudah. Pendengar yang baik menurutku adalah orang yang sudah paripurna dengan ego keakuaanya. Mengapa ? karena mendengar membutuhkan kerendahan hati, ketulusan dan kesabaran. Bagi yang masih berjibaku dengan ego keakuannya, tiga hal di atas seperti melebur batu karang dengan tetes air, butuh waktu yang panjang.

Hampir semua manusia ingin didengarkan, tapi sedikit sekali yang memilih menjadi pendengar. Maka sungguh sebuah kebahagiaan ketika ada orang yang mau mendengarkan, di saat yang lain memilih bicara.


Ah, betapa sudah lamanya aku tersesat. Saatnya memutar sauh, menantang angin. Mengubah arah perahu. Semula banyak bicara kini menjadi pendengar yang hanya bicara sesekali saja. Karena mendengar berarti belajar, begitu kata Larry King. 

Renungan pagi,

Srl, 260214. 04:00


Sumber foto ilustrasi : brainrider.com

Tuesday, February 25, 2014


Sebagai warga bangsa, sering kali gentar kalau harus berpikir tentang hari depan. Bahkan sesekali memilih tak peduli. Meminjam istilah Sindhunata, di depan petheng ndedet, gelap gulita. Ada resah, benarkah republik ini akan tetap ada sepuluh, dua puluh dasawarsa di muka ? Ada saja tak cukup, melainkan “mengada”.

Kalau menimbang sisi gelap republik hari ini; korupsi, sumber daya alam yang dikelola secara tak bijak, sumber daya manusia yang masih tercecer kualitasnya dan nilai-nilai budaya yang terlupa. Maka rasa gentar itu kian menjalar.

Berita media hari ini mengupas banyak sisi gelap pengelolaan negeri. Uang rakyat dijarah, sandiwara merajalela, sedang rakyat berdiri lemah menghadapi bencana dimana-mana. Lantas, haruskah anak muda seperti saya ikut menyerah atas keadaan yang ada ?

Teringat seorang sahabat, Nelson N Muiru, di Benua Afrika sana, tepatnya di Kenya. Ia bersama anak-anak muda Kiambu County berjuang menanamkan semangat kebersamaan di tengah komunitas yang sekian lama berkonflik dan didera kemiskinan. Tanpa lelah mereka mencoba mencari celah yang cerah untuk masa depan bersama.



Kondisi Indonesia jauh lebih baik dalam banyak dimensi tinimbang Kenya. Maka tak ada alasan untuk menyerah. Di Kiambu, Nelson dan kawan-kawan menebar harapan, di sebuah tanah gersang dimana konflik silih berganti datang. Perjumpaanku dengan Nelson di Kenya, telah membuka mata tak ada kondisi sosial yang benar-benar tak bisa diubah menjadi lebih baik. Semua bisa, asalkan ada ikhtiar dan kebersamaan.

Kembali ke tanah air, di ujung barat nusantara aku berjumpa dengan sesosok manusia yang memilih jalan terjal. Melawan arus utama disana, ia menjaga alam saat yang lain justru merusaknya. Ayah Rajab, itulah sosok yang tak henti mengajak komunitasnya untuk berhenti menggasak hutan di Aceh Jaya, serta mempersuasi warga untuk tak merusak daerah aliran sungai dengan merkuri yang mereka gunakan saat menambang emas.

Bukan pujian yang didapatkannya, melainkan cacian bahkan kadang teror. Tapi ia tak berhenti, layar terkembang pantang surut ke belakang. Ah, sebagai anak muda sepatutnya kita malu. Kita yang muda justru lebih banyak mengeluh dan menghujat keadaan daripada melakukan sesuatu.

Tantangan itu...

Tak ada yang mudah dalam hidup, apalagi menyangkut masa depan di negeri yang baru pulih dari masa kelam sejarah. Indonesia baru saja keluar dari sebuah masa yang tak mudah. Dimana demokrasi hanya hiasan ala kadarnya saja, ekonomi yang tumbuh karena konglomerasi, sumber daya alam yang dikuras hingga tandas, dan anak muda dilenakan dengan hura-hura semata.

Bicara masa depan, maka bicara tantangan. Kita dihadapkan pada keadaan mengejar ketertinggalan dan keluar dari resonansi kultural sebagai negara jajahan kolonial.

Ketertinggalan bangsa kita, bukan sekedar ekonomi, teknologi dan ilmu pengetahuan. Melainkan yang paling mendasar adalah mentalitas. Kita masih merasa sebagai bangsa inferior. Bisalah kita sebut ini sebagai efek bangsa jajahan, tapi lebih dari itu ini masalah yang ada dalam diri kita. Bukan melulu tentang bekas bangsa jajahan.

Mengutip Eleanor Roosevelt “No one can make you feel inferior without your consent.” Jadi ini masalah bagaimana kita mempersepsikan bangsa kita dan bangsa-bangsa luar. Indra Syafri, pelatih timnas sepakbola U-19 kita, kerap berpesan pada anak didiknya. “Kita ini bangsa yang besar. Jangan inferior melihat bangsa lain !” Kalimat pelatih itu tercermin dari bagaimana U-19 kita bermain di lapangan. Tak peduli siapa lawan mereka, Korea Selatan , sang juara bertahan mereka buat tertunduk lemas.

Jadi tantangan pertama kita sebagai bangsa adalah mengubah mentalitas. Cukup sudah selalu menjadi inferior ketika berhadapan dengan bangsa-bangsa asing. Dino Patti Djalal punya konsep yang lebih utuh tentang ini; nasionalisme unggul.


Tantangan kedua menyangkut pluralitas kita sebagai bangsa. Keragaman budaya kita pada suatu titik adalah anugerah. Namun, jika gagal dikelola justru menjadi bencana. Apa yang terjadi di Afrika Tengah, Uni Soviet dan Yugoslavia adalah contoh nyata keragaman suatu bangsa yang gagal dikelola. Tercerai berai dan luluh lantak dihancurkan konflik sesama.

Maka tantangan kedua adalah bagaimana mengelaborasi pluralitas menjadi kekuatan bangsa ?

Tantangan ketiga adalah bagaimana menghadirkan sebuah generasi yang mau bekerja keras, pantang menyerah untuk memperbaiki nasib bangsa. Pada akhirnya, sebuah visi masa depan tak akan berguna jika tidak diusahakan dengan kerja keras. Mimpi tetap akan menjadi mimpi jika kita tak  membuatnya menjadi kenyataan.

Tiga tantangan di atas tentu saja adalah tantangan kita sebagai bangsa. Terlebih lagi bagi anak muda di negeri ini.

Belajar Pada Anak Muda Berseragam Merah

Untuk menjawab tiga tantangan di atas, saya tak mau membawa-bawa teori sosial atau teori politik yang njelimet. Atau mencoba menganalisa dengan berbagai pendekatan konsepsional. Mari kita mencoba belajar dari hal yang lebih nyata, anak muda berseragam merah. Siapa mereka ? Tak lain tak bukan adalah tim nasional U-19. 


Mereka baru saja menjuarai piala AFF U-19 untuk kali pertamanya dalam sejarah keikutsertaan Indonesia. Lantas belum puas atas itu semua, Evan Dimas, Maldini Pali, Ilham Udin dan kawan-kawan memastikan satu tiket otomatis ke putaran final piala Asia U-19. Bukan main-main, Korea Selatan mereka bikin babak bingkas.

Lantas apa hubungannya timnas U-19 dengan masa depan kita sebagai bangsa. Mari kita tengok dengan seksama.

Pertama-tama tentang mentalitas. Timnas U-19 telah membuktikan diri bahwa mereka punya mentalitas yang kuat. Tak menganggap bangsa ini inferior meski berada dalam bayang-bayang sejarah yang kelam. Meski kita tak pernah juara, bukan berarti mereka harus kalah. Mereka menganggap semua tim sama saja. Tak peduli Thailand, Singapura atau Vietnam yang jauh lebih tangguh, atau bahkan Korea Selatan yang dua tiga kali lebih tangguh dari kita. Mereka menunjukkan bahwa mereka tak inferior.

Mentalitas mereka adalah kunci pencapaian itu. Perhatikan saja kata-kata sang kapten, Evan Dimas “Tak ada yang tak bisa dikalahkan, kecuali Tuhan.” Ini kalimat kunci yang menunjukkan betapa mentalitas anak-anak muda itu tak lagi inferior. Selama ini kalau mendengar nama negara lain, tak usahlah Korea Selatan, Thailand saja, kita sudah merasa tak akan menang lawan mereka. Tapi, anak muda berseragam merah itu menari lincah, mengumpan bola dengan seksama, seolah mewartakan sebuah tarian perubahan. KAMI BUKAN BANGSA INFERIOR.

Memang mereka masih jauh dari mimpi tampil di piala dunia. Tapi perubahan mentalitas mereka menjadi pembelajaran untuk kita semua. Tak ada yang tak bisa diusahakan dengan kerja keras.

Pelajaran kedua dari anak-anak berseragam merah itu adalah kemampuan mereka menjadikan pluralitas sebagai kekuatan. Lihat saja latar belakang para pemainnya; bisa dibilang mewakili nusantara. Aceh, Palembang, Sumatera Utara, Jawa, Nusa Tenggara, Sunda, Sulawesi, Maluku dan banyak daerah di nusantara terwakili di tim harapan ini. Keahlian mereka bermain bola juga beragam. Ada ahli dribling, juru tembak, pembagi bola, kreator serangan, penghadang lawan dan sebagainya. Tapi pada akhirnya mereka bermain dalam sebuah nyawa, dalam sebuah tarian kebersamaan.

Tak ada yang lebih superior. Bolehlah Evan Dimas adalah kapten sekaligus pengatur serangan, tapi bukan berarti ia tak tergantikan. Bisa jadi Hansamu Yama, menjadi komandan di lini belakang, tapi ia pun rela diteriaki oleh Faturrahman jika bikin kesalahan.  

Pelajaran ketiga yang diberikan oleh anak muda berseragam merah itu adalah cara mereka bekerja keras. Mereka bekerja keras bukan saja saat pertandingan tapi saat persiapan. Tim nasional kita yang dulu terkenal lembek fisiknya, kini berubah sebaliknya. Mereka bertempur tanpa lelah di 90 menit pertandingan bahkan jika waktu tambahan diberikan.

Di lapangan kerja keras mereka selalu ditunjukkan. Paling nyata ketika semua orang meyakini Korea Selatan akan menang dengan mudah atas timnas U-19. Tapi mereka membalikkan keadaan, mereka bekerja keras 90 menit lebih, menyusun serangan, mengatur pola permainan dan berjibaku mempertahankan gawang dari kebobolan. Dua gol memang berhasil dilesakkan Korea Selatan, tapi toh anak muda berseragam merah bisa melesakkan tiga gol. Ini semua tentang kerja keras dan kebersamaan.

Tentu anak-anak muda berseragam merah ini masih jauh dari mimpi merebut piala dunia. Tapi mereka telah mengangkat harkat kita sebagai bangsa. Dari bangsa yang disepelehkan dalam kanca sepakbola, menjadi sebuah negara yang mulai diperhitungkan. Lebih dari itu mereka telah mengajarkan pada negeri ini tentang pentingnya memelihara impian, seberapa pun beratnya keadaan.

***

Pada akhirnya, spirit yang dibawa anak-anak berseragam merah sepatutnya menjadi inspirasi bagi anak-anak muda nusantara. Di saat negeri ini minim panutan, Evan Dimas dan kawan-kawan menjadi semacam pandu bagi sebuah upaya mencapai impian. Ketika kita sebagai bangsa terseok-seok oleh cara mengelolah negara yang rapuh, mereka mengajarkan sebuah tontonan tentang nilai-nilai pengorbanan.

Selayaknya kita angkat topi untuk anak-anak berseragam merah itu. Semoga mereka tak lantas pongah atas apa yang sudah dicapai, dan kita bisa mereplikasi semangat dan kerja keras mereka untuk bangsa !


 Keterangan Foto 

Foto 1 : Ilustrasi kondisi gelap negeri kita/doc. huzer apriansyah
Foto 2 : Nelson/doc. huzer Apriansyah
Foto 3 : Ayah Rajab dari Krueng Sabee, Aceh Jaya/ doc.huzer apriansyah
Foto 4 : Buku Dino Patti Djalal/doc. rmol.co
Foto 5 : Timnas U-19/doc. ary9blue.blogspot.com 
Foto 6 : Kibaran Sang Merah Putih/doc. huzer apriansyah  



Popular Posts